Kekeliruan Ernest William Barnes tentang Natal

Ernest William Barnes
Ernest William Barnes

Siapakah Barnes dan apa pentingnya opininya direfutasi?

Barnes, lengkapnya Ernest William Barnes, adalah pengurus klub liberal universitas Cambridge (The Cambridge University Liberal Club) dari tahun 1899 – 1901. Barnes berpendapat:

There is, moreover, no authority for the belief than December 25 was the actual birthday of Jesus. If we can give any credence to the bith-story of Luke, with the shepherds keeping watch by night in the fields near Bethlehem, the birth of Jesus did not take place in winter, when the night temperature is so law in the hill country of judea that snow is not uncommon. After much argument our christmas day seems to have been accepted about A.D. 300.

(Kepercayaan, bahwa 25 Desember adalah hari lahir Yesus yang pasti tidak ada buktinya. Kalau kita percaya cerita Lukas tentang hari lahir itu dimana gembala-gembala waktu malam menjaga di padang di dekat Behtlehem, maka hari lahir Yesus tentu tidak di musim dingin di saat suhu di luar kota pegunungan Yudea amat rendah sekali sehingga salju merupakan hal yang tidak mustahil. Setelah terjadi banyak argumen tampaknya hari lahir tersebut diterima penetapannya kira-kira tahun 300 Masehi).

Opini yang mengandung kekeliruan geografis dan klimatologis ini sering dikutip untuk membantah Natal 25 Desember. Pada tulisan ini, kita akan membahas kesalahan opini Barnes tersebut di atas.

Pada masa Barnes, ilmu klimatologi yang dapat memberinya informasi bahwa suhu rata-rata musim dingin di Bethlehem berkisar 6-14°C belum berkembang. Ini sebabnya Barnes salah mengasumsikan suhu Bethlehem sama seperti suhu Inggris.

Pada masanya, ilmu geografi belum berkembang seperti saat ini, sehingga Barnes tidak tahu bahwa lokasi Bethlehem berada di Zona Bertemperatur Hangat atau Zona Sub Tropis. Maka dapat dipahami kenapa Barnes salah mengasumsikan suhu dan iklim Bethlehem sama seperti Inggris.

Bayangan orang Inggris mengenai Bethlehem adalah Bethlehem itu mirip kota kecil di Inggris pada musim salju tanggal 25 Desember yang mereka istilahkan "White Christmas". Lukisan Peter Bruegel dari tahun 1566 M ini menggambarkan bayangan tersebut. Salah bayangan ini tercermin dalam opini anti-Natal 25 Desember dari kalangan liberal, misal, Ernest William Barnes, yang sering dicopas oleh sejumlah aktivis dakwah Islam. Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan transportasi pada abad akhir abad 20 hingga abad 21 awal menunjukkan kekeliruan opini-opini ini.
Bayangan orang Inggris mengenai Bethlehem adalah Bethlehem itu mirip kota kecil di Inggris pada musim salju tanggal 25 Desember yang mereka istilahkan “White Christmas”. Lukisan Peter Bruegel dari tahun 1566 M ini menggambarkan bayangan tersebut. Salah bayangan ini tercermin dalam opini anti-Natal 25 Desember dari kalangan liberal, misal, Ernest William Barnes, yang sering dicopas oleh sejumlah aktivis dakwah Islam. Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan transportasi pada abad akhir abad 20 hingga abad 21 awal menunjukkan kekeliruan opini-opini ini.

Pada masa Barnes pula, ilmu peternakan belum berkembang, sehingga belum diketahui bahwa domba sanggup bertahan hingga suhu -40° C berkat bulu wolnya yang tebal dan menjaga tubuh domba tetap hangat di tengah udara dingin.

Barnes juga tidak tahu ilmu etnologi Israel kuno, sehingga dia tidak tahu bahwa gembala di padang itu memakai tenda kulit besar sebagai atap, dinding, dan alas, sehingga tinggal di padang tetap hangat bagi manusia. Barnes secara implisit mengasumsikan gembala di Bethlehem sama seperti gembala di Inggris.

Bukan hanya itu, Barnes nampaknya juga tidak familiar dengan bukti-bukti pra Nicea 1 yang dipelajari dalam cabang ilmu arkeologi, yaitu arkeologi Alkitab (biblical archeology).

Barnes juga tidak pernah belajar ilmu antropologi Israel kuno yang tercantum dalam Alkitab. Barnes tidak tahu bahwa bangsa Israel kuno diwajibkan untuk melakukan ritual hewan kurban dua kali setiap hari, apa pun cuacanya.

Apa yang dianggap mustahil dalam opini Barnes mengenai Natal pada 25 Desember ternyata disebabkan karena dia kurang ilmu-ilmu tersebut.

Lantas, kenapa opini kurang ilmu dijadikan dasar pembenaran?

Karena dia dianggap pakar Alkitab, sehingga opini salah pun dikira benar, gara-gara anggapan itu. Dengan kata lain, sesat nalar argumentum ad auctoritatis, yaitu sesat nalar di mana sesuatu dianggap benar karena orang yang mengatakannya [dianggap] ahli.  Ini memberi kita pelajaran untuk tidak percaya begitu saja pada opini pakar, sepakar apapun orang tersebut. Jangan jadi bebek opini orang lain. Opini bukan kebenaran, opini bukan fakta, opini bisa salah.

Teliti sebelum membeli.

Iklan

One thought on “Kekeliruan Ernest William Barnes tentang Natal”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s