Asal-Usul Lilin Natal & Lampu Natal serta Festival Cahaya Natal

Lampu natal adalah nama pasaran untuk lampu hias yang dipasang selama Natal, banyak di antaranya dilengkapi alat untuk membuatnya berkerlap-kerlip. Kalau pergi ke toko elektronik, umumnya orang sudah tahu jenis lampu ini. Penggunaan lilin dan lampu natal pada peringatan Natal alias Milad Al Masih tak dapat dilepaskan dari Hari Raya Khanukkah.

Lilin adalah sumber cahaya untuk festival cahaya Natal pada jaman kuno. Tradisi ini masih dilestarikan sampai sekarang.
Lilin adalah sumber cahaya untuk festival cahaya Natal pada jaman kuno. Tradisi ini masih dilestarikan pada jaman modern ini.

Khanukkah dikenal sebagai “Festival Cahaya” atau “Hari Raya Pentahbisan Bait Allah Yerusalem”. Disebut “Festival Cahaya” karena Khanukkah dirayakan dengan menyalakan lilin selama 8 hari secara terus-menerus. Disebut “Hari Raya Pentahbisan Bait Allah Yerusalem” karena hari raya ini memperingati Bait Allah yang didedikasikan (ditahbiskan) ulang kepada Allah swt pada tahun 165 SM setelah sebelumnya dinajiskan oleh Raja Antiokhus dari Siria dengan mendeklarasikan diri sebagai “manifestasi Allah” di Bait Allah dan menyembelih binatang yang najis menurut Taurat, yaitu babi, di mesbah persembahan yang kudus.

Keberhasilan merebut kembali Bait Allah dari para pemuja berhala, menguduskannya, dan mendedikasikannya kembali kepada Allah swt menjadikan Hari Raya Hanukkah yang dirayakan pada tanggal 25 Kislev itu menjadi sesuatu yang penting. Frase penting dalam Khanukkah adalah “nes gadol haya sham” yang berarti “mujizat besar terjadi di sana. ”

Isa Al-Masih juga turut merayakan Hari Raya Khanukkah serta mengikuti Festival Cahaya ini dengan pergi ke Bait Allah Yerusalem yang terang benderang dengan cahaya.

  1. Tidak lama kemudian tibalah hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem; ketika itu musim dingin.
  2. Isa Al Masih pun berada di Bait Allah, di serambi Sulaiman. (Injil, Yohanes 10:22-23)

Peristiwa yang dicatat dalam Yohanes 10:22-23 itu terjadi pada tanggal 25 Kislev 3790 (19 Desember 29 Masehi kalender Julian). Karena Khanukkah berlangsung selama 8 hari, maka lilin akan dinyalakan secara terus-menerus dari tanggal 19 Desember hingga 26 Desember 29 Masehi Kalender Julian. Dalam jaman modern, yang dinyalakan secara terus-menerus bukan hanya lilin (lampu model kuno), tapi juga lampu listrik.

“Festival Cahaya” (Khanukkah) yang tercatat dalam Yohanes 10:22-23 yang berlangsung 19 Desember hingga 26 Desember 29 Masehi Kalender Julian itu dilakukan bersama-sama dengan peringatan Milad Al Masih, karena keduanya jatuh pada hari yang berimpitan.

“Festival Cahaya” Khanukkah inilah yang kemudian melatarbelakangi tradisi “Festival Cahaya” saat peringatan Milad Al Masih dalam rupa lilin dan lampu-lampu hias yang indah (di toko elektronik dikenal sebagai lampu natal). Pada saat ini, festival cahaya Natal (light festival of Christmas) selalu menyertai peringatan kelahiran Isa Al-Masih di seluruh dunia.

Tak ada hubungan sama sekali antara penggunaan lilin dan lampu-lampu hias pada milad Al Masih dengan hari raya kaum kafir penyembah berhala manapun, karena sumbernya adalah Festival Cahaya Khanukkah yang merupakan Hari Raya Pentahbisan Bait Allah Yerusalem (Ka’bah Sulaiman) kepada Allah Ta’ala.

Terang adalah simbol utama Natal. Sumber terang dapat dipasang pada berbagai tempat, tidak harus pohon.

Lampu-lampu natal dipasang pada kapal.
Lampu-lampu natal dipasang pada kapal.
Iklan

2 thoughts on “Asal-Usul Lilin Natal & Lampu Natal serta Festival Cahaya Natal”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s