Asal-Usul Pohon Natal: Properti Drama Firdaus Abad 11 Masehi

 

Drama Firdaus (Paradise Play) masih bertahan di Český Krumlov, Czechoslovakia, dari tahun 1290, pertama kali drama ini masuk ke daerah ini,  hingga tahun 1912. Di bawah pemerintahan komunis, drama ini dihentikan tahun 1948, namun hidup lagi tahun 1989 setelah komunisme runtuh.1 Berkat dokumentasi terhadap drama ini sebelum pelarangan, maka diketahui bahwa pohon Natal ternyata bersumber dari properti drama ini.
Drama Firdaus (Paradise Play) masih bertahan di Český Krumlov, Republik Cheko, dari tahun 1290, pertama kali drama ini masuk ke daerah ini, hingga tahun 1912.1 Di bawah pemerintahan komunis, drama ini dihentikan tahun 1948, namun hidup lagi tahun 1989 setelah komunisme runtuh2 dan bertahan terus sampai saat ini.2 Berkat dokumentasi terhadap drama ini sebelum pelarangan, maka diketahui bahwa pohon Natal ternyata bersumber dari properti drama ini.

Latar religiososial, tempat, dan waktu

Drama-drama bertema religius mulai populer di Eropa dari abad 11 Masehi. Drama-drama ini dipentaskan di dalam gereja, di teater-teater publik, dan juga di alam terbuka. Salah satu drama religius yang sangat populer adalah drama berjudul “Firdaus” (Eden Play, Paradise Play) yang biasa dimainkan pada bulan Desember menjelang Natal 25 Desember.3

Drama ini digunakan untuk mengajar masyarakat umum, karena buku masih sangat jarang dan sangat mahal sebagai akibat dari belum ditemukannya mesin cetak. Drama Firdaus menggambarkan kisah Adam dan Hawa, serta kejatuhan manusia pertama dalam dosa, hingga kemudian ditempatkan di dunia ini oleh Allah. Drama “Firdaus” ini berakhir dengan Kejadian 3:15 yang menubuatkan kedatangan Isa Al Masih.

Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kejadian 3:15)

Properti panggung drama Firdaus

Properti panggung drama tersebut antara lain sebuah pohon yang dihias dengan buah Apel untuk menggambarkan buah Pengetahuan yang tercantum dalam Kejadian 2:17. Agar jelas bahwa itu adalah pohon, maka digunakan pohon yang masih berdaun hijau, walaupun Eropa saat itu sedang hebat-hebatnya musim dingin, selain juga mudah ditemukan di mana-mana. Jenis pohon yang memenuhi syarat untuk properti panggung adalah pohon Fir (Cemara). Sehingga terpilihlah cemara sebagai perlengkapan panggung untuk drama Adam-Hawa itu.

Mengapa bukan pohon Apel? Bukankah buah yang dihiaskan itu adalah buah Apel? Mana ada buah cemara berbuah Apel? Sebab pohon Apel terlalu besar untuk ditaruh dipanggung dan dibawa-bawa oleh teater keliling. Untuk mudahnya, digunakanlah pohon Cemara, lalu buah Apel digantungkan pada batang-batangnya. Buah ini nantinya diambil oleh pemain panggung yang berperan sebagai Hawa, lalu memberikannya kepada orang yang berperan sebagai Adam (Kejadian 3:6).

Surutnya drama Firdaus

Drama tersebut hanya bertahan 4 abad dan mulai menghilang abad 15. Sebabnya, gereja Katolik Roma mengharamkan drama tersebut dengan alasan nilai-nilai amoralitas menyusup masuk ke dalam drama itu pada jaman renaissance. Kemudian, secara bertahap popularitas drama itu pun menyusut, dan lama-lama tidak lagi dipentaskan karena sudah tidak populer lagi. Walau begitu, dokumen dari abad 20 menunjukkan drama ini masih terus dipentaskan di daerah Český Krumlov, Republik Cheko, hingga awal abad 20 Masehi. Ini mengindikasikan drama ini hanya berhenti dipentaskan di daerah-daerah di mana pengaruh renaissance-nya sangat kuat sehingga merusak jiwa drama ini.

Meski drama itu telah berhenti dipentaskan, namun kebiasaan anak-anak untuk menghias pohon Cemara yang telah berlangsung semenjak drama itu menaiki puncak popularitasnya pada abad 11 Masehi tidak turut berhenti. Selain itu, drama yang sangat populer itu memberi inspirasi bagi tradisi menghias pohon Cemara lengkap dengan buah Apel (lihat hiasan pohon Natal yang bentuknya bulat).

Pohon Natal: mainan anak-anak rakyat jelata

Bukti sejarah tertulis yang masih bertahan hingga saat ini mengenai penggunaan pohon Terang (nama lain pohon Natal) adalah manuskrip Alsace 1521. Sebelum masuk Prancis pada tahun 1639, Alsace termasuk wilayah Jerman. Pohon Natal di Alsace adalah pohon hidup yang ada di hutan dan tidak boleh dibawa pulang. Hal berkaitan dengan tingginya nilai ekonomi kayu pada bulan Desember dalam masa itu. Ini mengindikasikan Pohon Natal telah memasyarakat bertahun-tahun sebelumnya.

Bukti sejarah tertulis tertua yang masih bertahan dari tahun 1521: 5
Bukti sejarah tertulis tertua yang masih bertahan dari tahun 1521 4: “4 shilling dibayarkan kepada penjaga untuk menonton pohon Natal di hutan”. Manuskrip ini disimpan di Perpustakaan Humanis Sélestat di Alsace, Prancis.

Manuskrip ini juga menceritakan bahwa di Alsace, pohon Natal dipertontonkan, tapi tidak boleh ditebang dan dibawa pulang. Dokumen musyawarah dengan hakim kota Sélestat tanggal 17 Desember 1555 menetapkan denda bagi penebangnya.

Larangan ini berkaitan dengan tingginya nilai ekonomi kayu pada bulan Desember dalam masa itu. Ini mengindikasikan Pohon Natal telah memasyarakat bertahun-tahun sebelumnya. Nampaknya, pada masa itu, orang yang bisa beli pohon Natal adalah orang yang punya dana lebih. Yang tidak punya dana lebih, cukup nonton pohon Natal publik atau gotong-royong membeli pohon Natal.

Tulisan dari warga Strasburg tahun 1605 (abad 17) mengisahkan bahwa orang tua menghias pohon Cemara untuk anak-anak mereka dengan berbagai hiasan dari kertas warna-warni, Apel, wafer, dan permen. Sedangkan tulisan Johann Dannhauer dalam Catechismusmilch “Susu Katekismus” sekitar tahun 1650 menyatakan pohon yang dihias itu adalah mainan anak-anak dan juga menyatakan  bahwa dia tidak tahu dari mana asal mainan itu.

Berbeda dengan jaman sekarang, pada abad 11 Masehi hingga 19 Masehi, pohon Cemara yang dihias adalah mainan anak-anak yang diinspirasikan oleh drama “Firdaus” untuk memeriahkan suasana. Biar anak-anak senang.

Lukisan yang berasal dari Inggris tahun 1800an menunjukkan pohon Natal adalah mainan kanak-kanak dan menghias pohon Natal adalah bagian dari permainan kanak-kanak itu, agar anak-anak senang.
Lukisan yang berasal dari Inggris tahun 1800an menunjukkan pohon Natal adalah mainan kanak-kanak dan menghias pohon Natal adalah bagian dari permainan kanak-kanak itu, agar anak-anak senang.

Pohon Natal diberi makna rohani

Sebelum berubah nama menjadi “Pohon Natal” (Christmas Tree), pohon hiasan itu diberi nama “Christbaum (Pohon Kristus, Pohon Al Masih)” oleh orang-orang Jerman. Nama “Christbaum” menggantikan nama populer pada drama itu, yaitu “Paradeisbaum” (Pohon Firdaus)”. Penyebutan “Christbaum” mengindikasikan adanya simbolisasi bahwa Pohon Firdaus itu ditafsirkan sebagai simbol dari Isa Al Masih.

Lilin dalam peringatan Milad Al Masih tentu dipakai, bukan hanya karena lilin adalah penerangan akibat belum adanya listrik, tapi juga karena melestarikan tradisi Festival Cahaya Hanukkah. Lilin-lilin itu dinyalakan banyak-banyak sebagai simbol bahwa Isa Al Masih adalah Terang Dunia.

Isa Al Masih pun berkata pula kepada orang banyak, Isa bersabda: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Injil, Yohanes 8:12)

Hanya saja lilin belum dikaitkan dengan mainan anak-anak berupa pohon Cemara yang dihias itu. Lilin adalah hal yang serius dan bagian dari peringatan Milad Al Masih, sedangkan pohon cemara yang dihias adalah mainan anak-anak.

Surat dari Samuel Taylor Colerdige tanggal 29 April 1799 menceritakan tentang Pohon Natal yang diberi lilin-lilin kecil paa ranting-rantingnya.7 Sementara bukti-bukti tertulis dari tahun 1500an – 1600an tidak menunjukkan hal ini. Maka, dari surat tersebut diketahui bahwa pohon Cemara dipasangi lilin baru pada abad 18 Masehi. Legenda mengatakan pohon Natal diberi lilin sejak abad 16 Masehi, namun bukti materiil yang tersedia baru tentang pohon Natal yang diberi lilin pada abad 18 Masehi.

 

Martin Luther dan keluarga saat Natal abad 16 Masehi.
Ilustrasi mengenai Martin Luther dan keluarga saat Natal abad 16 Masehi. Lukisan ini berasal dari 1845.6 Dari gambar pohon Natal yang ada lilinnya, dapat ditebak lukisan ini berasal dari abad 18 M atau lebih, mengingat belum ditemukan bukti yang mendukung kisah pohon Natal diberi lilin pada abad 16 Masehi.

Pohon Natal masuk istana

Hingga tahun 1850, pohon Cemara yang dihias masih terhitung mainan anak-anak, sehingga Charles Dicken, seorang sastrawan terkenal menulis “mainan baru dari Jerman”.5 Meski begitu, mainan ini sudah diterima golongan bangsawan Prancis tahun 1837 dan masuk ke Windsor Castle oleh Suami Ratu Victoria pada tahun 1891, membuat mainan anak-anak ini naik pamor.

Pohon Natal milik ratu Inggris di Windsor Castle. Mainan anak-anak rakyat jelata yang bernama Pohon Natal itu naik pamor saat masuk istana.
Pohon Natal milik ratu Inggris di Windsor Castle. Mainan anak-anak rakyat jelata yang bernama Pohon Natal itu naik pamor saat masuk istana.
Gambar dari jaman Victoria (tahun 1800-an) ini memperlihatkan anak-anak yang bermain-main pohon Cemara berhias, sedangkan orang dewasa mengawasi mereka sambil membawa kue
Gambar dari jaman Victoria (tahun 1800-an) ini memperlihatkan anak-anak yang bermain-main pohon Cemara berhias, sedangkan orang dewasa mengawasi mereka sambil membawa kue

Tahun 1851 barulah muncul toko khusus penjual mainan ini di Amerika. Tapi itu pun masih toko mainan anak-anak yang khusus menjual mainan anak pohon Cemara berhias. Tahun 1856 mainan anak ini dibawa masuk ke Gedung Putih oleh Presiden Amerika yang ke-14, Franklin Pierce (1804-1869) untuk sekolah minggu anak-anak Gedung Putih. Tahun 1912 adalah pohon Cemara berhias pertama yang diberi hiasan lampu Natal (listrik) di Boston. Tahun 1923 menjadi tahun pertama ada pohon Cemara berhias (di halaman Gedung Putih).

Sebagaimana yang kita lihat dari sejarah itu, mainan anak-anak itu menjadi mainan orang dewasa setelah masuk ke istana, khususnya Gedung Putih, Amerika

Mainan anak-anak jadi mainan orang dewasa

Saat ini, mainan anak-anak ini benar-benar telah menjadi mainan orang dewasa, bahkan mainan kaum intelektual dan akademisi, dengan banyaknya buku yang membahas mainan anak-anak ini secara sangat serius. Bahkan muncul spekulasi yang mengkaitkan mainan anak-anak dari drama populer itu dengan ritual agama kafir Yunani dan Romawi kuno. Ini bukti bahwa mainan anak-anak itu sudah berubah menjadi mainan orang dewasa.

Ada baiknya mainan anak-anak biarlah tetap mainan anak-anak. Tentu para manusia abad 11 M – 19 M akan tertawa-tawa geli melihat wacana “ilmiah” sampah yang mengkaitkan mainan anak-anak itu dengan ritual pemujaan berhala pada satu ekstrem atau mengkaitkannya dengan ritual agama Al Masih pada ekstrem yang lain.

Simpulan

  1. Pohon Natal adalah mainan kanak-kanak yang berasal dari properti panggung Drama Firdus dan tidak berasal dari ritual pagan apa pun.
  2. Aspek penting dari pohon Natal bukan pohon Natal itu sendiri, melainkan cahaya yang dilekatkan pada pohon Natal. Cahaya tersebut berasal dari Festival Cahaya Hanukkah yang juga dirayakan oleh Isa Al-Masih.
  3. Pohon Natal bukan lambang natal. Pohon natal hanya mainan penyemarak suasana saja.
  4. Lambang Natal yang terpenting adalah cahaya atau terang, sebab Isa bersama “Aku adalah Terang Dunia” (Yohanes 8:12).

Bibliografi

1http://www.ckrumlov.info/img.php?img=3077&LANG=en; akses 7/4/2015 21:30

2http://www.ckrumlov.info/docs/en/region_histor_pasije.xml; akses 7/4/2015 21:30

3http://catholic-church.org/stjoseph-york/church/AdventInTheHome.htm; akses 12/4/2015 12:54

4http://best-of-upper-rhine.com/2014/12/09/selestat-alsace-real-history-of-the-christmas-tree/; akses 12/4/2015 13:07

5https://books.google.co.id/books?id=WqGQBgAAQBAJ&lpg=PA3&ots=jYQvHl319T&dq=%22Charles%20Dicken%22%20%22christmas%20tree%22%20new%20toy%20germany&hl=id&pg=PA3#v=onepage&q=%22Charles%20Dicken%22%20%22christmas%20tree%22%20new%20toy%20germany&f=false; akses 12/4/2015 23:54

6http://pastispresent.org/2010/good-sources/christmas-trees/; akses 17/4/2015 18:12

7https://www.gutenberg.org/files/44553/44553.txt; akses 17/4/2015 9:47

Iklan

25 thoughts on “Asal-Usul Pohon Natal: Properti Drama Firdaus Abad 11 Masehi”

  1. Ping-balik: Natal 25 Desember

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s