Sinterklas alias St. Nikolas

Selama berabad-abad, Sinterklas dan Natal seolah hal yang sulit dipisahkan. Di sini, kita akan membahas tentang dua versi Sinterklas, yaitu: Sinterklas historis dan Sinterklas sastrawi.

Sinterklas versi sejarah (Sinterklas Historis)

Sinterklaas adalah bahasa Belanda untuk menyebut Santo Nikolas. Sinterklaas versi sejarah, bukan versi sastra fiksi, adalah Santo Nikolas itu sendiri. Dalam kenyataannya, St Nikolas (270 M – 343 M) adalah pemimpin umat Al Masih kota Myra, Turki. Satu-satunya orang Turki yang dikenal baik di seluruh dunia selama berabad-abad adalah St. Nikolas.

Di luar topik Sinterklas, Turki lebih dikenal dalam sejarah umat Al-Masih sebagai negara yang menggenosida lebih dari 2 juta orang umat Al-Masih dari 3 bangsa (Armenia, Yunani, dan Assiria) pada awal abad 20 Masehi pada saat kaum Islamists (sejenis dengan ISIS) mendominasi pemerintahan Khilafah Turki. Jumlah itu belum termasuk genosida antara abad 15-19 Masehi. Genosida terhadap Al-Masihin oleh ISIS pada tahun 2014-2015 nampaknya sengaja dilakukan untuk memperingati peristiwa 100 tahun genosida tersebut.

Kembali ke topik tentang St. Nikolas, orang Turki.

Sinterklas atau St. Nikolas versi sejarah nyata adalah sosok yang suka memberi. Cara memberinya juga sesuai dengan ajaran Injil, yaitu tidak pamer, dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak diketahui orang lain (secara sembunyi-sembunyi):

Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. (Matius 6:3)

Sinterklaas versi sejarah ini wafat tanggal 6 Desember. Diperingati dengan memberi hadiah secara sembunyi-sembunyi, sebagaimana yang dilakukan oleh St Nicholas. Sinterklaas versi sejarah ini tidak ada hubungannya dengan paganisme.

St. Nikolas dalam ingatan berbagai bangsa.
St. Nikolas dalam ingatan berbagai bangsa.

Orang besar biasanya menginspirasi sastrawan untuk membuat karya sastra fiksi mengenainya. Begitu pula St Nikolas. Maka lahirlah Sinterklas versi Sastra, dimulai dari sastra lisan (folklor) pada jaman kuno dan berlanjut ke jaman modern jadi sastra tertulis. Karya-karya sastra mengenai Sinterklas ini kemudian difilmkan.

Sinterklas versi sastra (Sinterklas Sastra)

Karya Sastra memuat Kenyataan + Fiksi. Hubungan antara karya, fiksi, dan kenyataan adalah sebagai berikut:

  1. Karya yang memuat 100% kenyataan masa lalu disebut sejarah.
  2. Karya yang memuat 100% kenyataan masa kini disebut jurnalistik.
  3. Karya yang memuat 100% kenyataan masa datang disebut futurolog, kitab ramalan, atau kitab nubuat.
  4. Karya yang memuat x% kenyataan + y % fiksi sehingga total menjadi 100% kenyataan + fiksi disebut karya sastra. Tidak ada karya sastra yang 100% fiksi saja dan tidak ada karya sastra yang 100% kenyataan saja. Bahkan karya sastra yang diangkat dari kisah nyata pun mengandung unsur fiksi, manakala kisah nyata itu sudah dijadikan karya sastra.

Contoh 1:

Isa Al Masih versi Sastra dalam novel “Davinci Code” dikisahkan beristri dan beranak. Isa Al Masih versi Sejarah dikisahkan tidak beristri dan tidak beranak biologis.

Aspek kenyataan sejarah: Isa Al Masih benar-benar ada

Aspek fiksi: Isa Al Masih menikah dan beranak biologis

St Nikolas versi Sastra merupakan hasil karya sastra pujangga sastra.

Contoh 2:

Sinterklaas Sastra memberikan hadiah diam-diam pada tengah malam kepada anak-anak. Dia masuk melalui cerobong asap dengan tubuhnya yang gendut sekali itu.

Aspek kenyataan sejarah: St Nicholas/ Sinterklaas memberikan hadiah diam-diam, diberikan pada malam hari saat semua orang sedang tidur, agar tidak ketahuan bahwa dia lah yang memberi hadiah. Tubuhnya kurus. Hadiah diletakkan di depan pintu.

Aspek fiksi: Sinterklaas bertubuh gendut dan masuk melalui cerobong asap. Tubuh gendut Sinterklas berasal dari karya sastra Puisi tahun 1822 berjudul “A Visit From Saint Nicholas” (Kunjungan St Nikholas/ Sinterklas) Clement C. Moore.

Walau St Nicholas Sastra tertulis baru ada pasca abad 19 M diawali  oleh Clement Clarke Moore, St Nicholas Sastra Lisan telah ada selama berabad-abad. Ini dapat ditemukan pada berbagai folklor yang berkembang mengenai St Nicholas. Dalam folklor ini, St. Nikolas yang berjalan diam-diam ke rumah sasaran tanpa diketahui orang lain dihiperbolakan bagaikan menunggang kereta terbang. Pada folklor ini, kenyataan bercampur dengan folklor tradisional lokal.

Contoh 3:

Sinterklaas Sastra datang secara diam-diam tanpa terdengar suara langkah kakinya pada tengah malam. Menurut folklor, itu karena Sinterklas terbang dengan kereta terbang yang ditarik rusa terbang.

Aspek kenyataan sejarah: Sinterklaas Sastra datang secara diam-diam tanpa terdengar suara langkah kakinya pada tengah malam.

Aspek fiksi: Sinterklaas naik kereta terbang yang ditarik rusa terbang.

Apakah unsur fiksi dalam karya sastra adalah sebuah kebohongan? Apakah sastra itu dosa?

Andai karya sastra adalah dosa, maka semua sastrawan sedunia, civitas akademik fakultas ilmu budaya (sastra), orang-orang periklanan, aktor, sutradara, penulis naskah, sinetron, dsb berdosa semua. Ada banyak sekali bidang yang menggunakan sastra, baik sastra terapan maupun sastra teoritis. Sastra tidak dosa.

Semiotika Sinterklas

Ketika orang tua memberikan hadiah kepada anak-anak dengan mengatasnamakan St Nicholas, maka yang mereka maksudkan bukan St Nicholas sejarah, melainkan St Nicholas sastra. Dari sudut pandang kajian semiotik karya sastra, sinterklaas sudah menjadi simbol “pemberi yang tak ingin diketahui identitasnya” atau sejenis dengan variable X, anonim, atau “hamba Tuhan”.

simbol X = simbol Sinterklas = Anonim = hamba Tuhan = orang yang melayani tanpa ingin identitasnya terkenal/ dikenal.

Nilai yang disampaikan dari penggunaan simbol Sinterklas (simbol X) dalam hal memberi saat Milad Al Masih (Natal) adalah: memberi sembunyi-sembunyi.

Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. (Matius 6:3)

Jika orang bertanya, “Ini diberi siapa?”, orang dapat menjawab “dari si X” atau “dari ada deh” atau “dari Anonim” atau “dari hamba Tuhan” atau “dari Sinterklaas”. Semua ungkapan itu punya makna simbolik yang sama, yaitu: seseorang yang memberi tapi tak ingin diketahui, sebagaimana diajarkan dalam Injil.

Penutup

Kampanye anti-Sinterklas dalam rangka anti-Natal 25 Desember biasanya dilakukan dengan metode mencampuradukkan antara Sinterklas versi sastra dengan Sinterklas versi sejarah. Lalu, tahap berikutnya, menuduh Sinterklas versi sastra sebagai kebohongan. Orang yang awam dengan Ilmu Sastra lebih mudah dipengaruhi dengan strategi semacam ini. Tunggu sampai dia celik sastra, maka strategi itu akan nampak baginya sebagai dusta besar.

Simpulan

  1. Sinterklas adalah St. Nikolas itu sendiri, yaitu pemimpin jemaat di Myra, Turki abad 4 Masehi.
  2. Sinterklas punya 2 versi, yaitu versi sejarah dan versi sastra, baik folklor, termasuk sastra lisan, maupun sastra tertulis, yang kemudian difilmkan.
  3. Sebagaimana karya sastra bukan dosa, maka karya sastra mengenai Sinterklas yang masih mencerminkan sifat-sifatnya juga bukan dosa.
  4. Penggunaan Sinterklaas (Sinterklas/ St Nicholas/ Santa Claus) sebagai simbol “si pemberi yang tak ingin diketahui” bukan kebohongan.
Iklan

6 thoughts on “Sinterklas alias St. Nikolas”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s