Alfred Edersheim: Natal 25 Desember dari perspektif Yahudi

Alfred Edersheim dilahirkan dari keluarga Yahudi asli penganut Yudaisme pada tanggal 7 Maret 1825.1 Sumbangsihnya yang berharga terkait dengan Natal 25 Desember tercantum dalam bukunya yang berjudul “The Life and Times of Jesus the Messiah”2 yang terbit pada tahun 1883. Dalam buku ini, dia membuktikan bahwa Natal 25 Desember itu kuat berpijak pada seting sosial-budaya bangsa Yahudi abad 1 Masehi. Pembuktian ini mengarahkan umat Al-Masih untuk meneliti tradisi Yahudi kuno guna memahami lebih lanjut mengenai hubungan Natal 25 Desember dengan Yahudi kuno abad 1 Masehi. Akibatnya, argumen dari kelompok Yahudi Mesianik Palsu segera diketahui kepalsuannya. Padahal, argumen dari kelompok ini dibawa masuk ke dalam doktrin Islam untuk kampanye anti-Natal 25 Desember. Believe it or not, sebagian ulama Islam dan sebagian ulama Yahudi bekerja sama dalam hal anti-Natal 25 Desember, mirip dengan Herodes dan Pilatus jadi bersahabat karena punya musuh yang sama, yaitu: Isa Al-Masih dan Injil.

Alfred Edersheim (1825-1889)
Alfred Edersheim (1825-1889)

Dan pada hari itu juga bersahabatlah Herodes dan Pilatus; sebelum itu mereka bermusuhan. (Lukas 23:12)

Berikut ini diambil dari buku II bab 6 sehubungan dengan Natal 25 Desember.3

Dan tradisi Yahudi di sini dapat terbukti memberi gambaran (ilustratif) dan membantu. Bahwa Kristus akan dilahirkan di Betlehem[1] adalah suatu keyakinan yang mantap. Sama mantapnya pula keyakinan bahwa Kristus akan dinyatakan dari Migdal Eder ‘menara domba’[2] (lihat gambar di bawah kutipan ini – red). Migdal Eder ini bukan menara untuk kawanan ternak biasa yang merumput di padang penggembalaan liar (wilderness) di luar Betlehem, melainkan berada dekat dengan kota Betlehem itu, letaknya di jalan menuju ke Yerusalem. Sebuah bagian dalam Mishnah[3] mengarahkan kita pada kesimpulan bahwa kawanan ternak yang merumput di sana ditujukan untuk kurban-kurban di Bait Allah[4] dan karena itu gembala yang menggembalakan kawanan ternak itu bukan gembala biasa. Yang terakhir disebutkan ini berada di bawah larangan Rabbinisme[5] karena isolasi seperlunya mereka dari tata cara agama, dan cara hidup mereka yang memberikan ketaatan hukum yang ketat itu adalah mungkin, kalaupun tidak benar-benar mustahil. Bagian Misnah yang sama juga membawa kita untuk menyimpulkan, bahwa domba-domba ini berada di luar sepanjang tahun, karena mereka disebut berada di padang rumput tiga puluh hari sebelum Paskah — yaitu, pada bulan Februari, ketika hujan di Palestina rata-rata hampir yang paling lebat.[6] Dengan demikian, tradisi Yahudi dengan cara yang redup menangkap wahyu pertama mengenai Mesias dari Migdal Eder, di mana gembala mengawasi kawanan domba qurban sepanjang tahun. Makna simbolik yang mendalam mengenai peristiwa yang parallel tersebut tidak perlu untuk dibicarakan dalam buku ini.

Kemudian pada ‘malam dingin’ tanggal 25 Desember,[7] para gembala itu mengawasi ternak yang ditujukan untuk ibadah kurban, di tempat yang sangat disucikan oleh tradisi seperti itu di mana Kristus akan pertama kali dinyatakan. (Alfred Edersheim, 1800an: 131-132)

Catatan kaki

[1] Dalam kisah mengenai kelahiran nya yang mengherankan, terkait dengan Talmud Yerusalem (Berakhot. ii 3), dia dikatakan telah lahir di ‘ istana Betlehem’, sedangkan pada narasi paralel di Midrash pada Ratapan i. 16, ed. W. p. 64 b mengggunakan istilah (br) trybb. Tetapi kita harus tetap melihat pernyataan Rabinis bahwa, istana yang telah runtuh pun masih disebut istana (Yalkut, vol. i i p. 60 b.). {Catatan kaki yang diberikan oleh Alfred Edersheim}

[2] Targum Pseudo-Yonatan. Pada Kejadian XXXV: 21 {Catatan kaki yang diberikan oleh Alfred Edersheim}

[3] Shek. vii. 4. {Catatan kaki yang diberikan oleh Alfred Edersheim}

[4] Faktanya, Mishnah (Baba K. Vii. 7) dengan tegas melarang pemeliharaan kawanan ternak di seluruh tanah Israel, kecuali di padang rumput liar (wilderness) — dan kawanan ternak yang dipelihara selain itu hanyalah ternak yang akan digunakan untuk ibadah kurban di Bait Allah Yerusalem (Baba K. 80). {Catatan kaki yang diberikan oleh Alfred Edersheim}

[5] Hal ini membuang kutipan yang tidak tepat (dari Delitzsch) oleh Dr Geikie. Tidak ada yang bisa membayangkan, bahwa ayat-ayat Talmud yang bersangkutan bisa berlaku untuk gembala yang seperti ini. {Catatan kaki yang diberikan oleh Alfred Edersheim}

[6] Rerata curah hujan 22 musim di Yerusalem sebesar 4,718 inci pada bulan Desember ; 5,479 pada bulan Januari ; dan 5,207 di bulan Februari (lihat laporan yang sangat menarik oleh Dr Chaplin di Quart. Stat. of Pal Explor. Fund , Januari, 1883). Untuk 1876-1877 kami memiliki angka-angka yang mengejutkan ini: rerata untuk Desember 0,490 ; untuk Januari 1,595 ; untuk Februari 8,750 ; dan serupa di tahun-tahun lainnya. Dan begitu kita membaca: “Tahun dimana Teveth (Desember) tanpa hujan adalah bagus ” (Taan. 6 b). Mereka yang telah menyalin kutipan Lightfoot tentang kawanan domba yang tidak ke luar selama bulan-bulan musim dingin seharusnya sekurang-kurangnya telah mengetahui referensi itu dalam bagian Talmud yang menyatakan secara tegas bahwa domba merumput di ‘padang gurun’ (wl) twyrbdm Nh. Tapi meskipun demikian, pernyataan tersebut, sebagai begitu banyak jenis pernyataan lain, adalah tidak akurat, sebab dalam Talmud disajikan dua pendapat. Menurut pendapat yang satu, ‘Midbariyoth’ atau ‘hewan dari padang’ adalah kawanan ternak yang pergi ke tempat terbuka saat Paskah, dan kembali pada musim hujan pertama (sekitar bulan November), sedangkan, menurut pendapat satunya lagi dalam Talmud, Rabi mempertahankan (nampak lebih otoritatif) bahwa kawanan domba tetap di tempat terbuka yang sama seperti pada hari-hari musim panas dan musim hujan — yaitu sepanjang tahun (Bezah 40 a). Bandingkan juga Tosephta Bezah iv. 6. Penjelasan yang agak berbeda diberikan dalam Bezah Yerusalem 63 b. {Catatan kaki yang diberikan oleh Alfred Edersheim}

[7] Tidak ada cukup alasan untuk mempertanyakan keakuratan sejarah tanggal ini. Keberatan umumnya di dasarkan pada hal-hal yang tampak bagi saya tidak bisa dipertahankan secara kesejarahan. Subyek tersebut telah dijelaskan dalam sebuah artikel oleh Cassel dalam Real Encyclopedia Herzog xvii. hal 588-594. Tapi sepotong bukti yang menimbulkan rasa ingin tahu datang kepada kita dari sumber Yahudi. Dalam lampiran Taanith Megillath (ed. Warsh. p. 20 a), 9 Teveth ditandai sebagai hari puasa, dan ini ditambahkan, bahwa alasan untuk hal ini tidak disebutkan. Sekarang, para ahli kronologi Yahudi telah menetapkan hari itu sebagai hari kelahiran Kristus, dan adalah hal yang luar biasa bahwa antara tahun 500 hingga 816 Masehi tanggal 25 Desember jatuh tidak kurang dari dua belas kali pada 9 Teveth. Jika 9 Teveth (antara tahun 500 hingga 816 Masehi), atau 25 Desember, dianggap sebagai hari kelahiran Yesus Kristus, kita dapat memahami penyembunyian hal itu. Comp. Zunz, Ritus d. Synag. Gottesd. p. 126. {Catatan kaki yang diberikan oleh Alfred Edersheim}

 Lengkapnya, silakan kunjungi dan baca http://philologos.org/__eb-lat/default.htm.

 


Bibliografi

1http://www.ccel.org/ccel/edersheim/lifetimes.html; akses 10/4/2015 12:06
2http://philologos.org/__eb-lat/default.htm; akses 10/4/2015 12:09
3http://philologos.org/__eb-lat/book206.htm; akses 10/4/2015 12:20

And yet Jewish tradition may here prove both illustrative and helpful. That the Messiah was to be born in Bethlehem,18 was a settled conviction. Equally so was the belief, that He was to be revealed from Migdal Eder, ‘the tower of the flock.’19 This Migdal Eder was not the watchtower for the ordinary flocks which pastured on the barren sheepground beyond Bethlehem, but lay close to the town, on the road to Jerusalem. A passage in the Mishnah20 leads to the conclusion, that the flocks, which pastured there, were destined for Temple-sacrifices,21 and, accordingly, that the shepherds, who watched over them, were not ordinary shepherds. The latter were under the ban of Rabbinism,22 on account of their necessary isolation from religious ordinances, and their manner of life, which rendered strict legal observance unlikely, if not absolutely impossible. The same Mishnic passage also leads us to infer, that these flocks lay out all the year round, since they are spoken of as in the fields thirty days before the Passover – that is, in the month of February, when in Palestine the average rainfall is nearly greatest.23 Thus, Jewish tradition in some dim manner apprehended the first revelation of the Messiah from that Migdal Eder, where shepherds watched the Temple-flocks all the year round. Of the deep symbolic significance of such a coincidence, it is needless to speak. It was, then, on that ‘wintry night’ of the 25th of December,24 that shepherds watched the flocks destined for sacrificial services, in the very place consecrated by tradition as that where the Messiah was to be first revealed. Of a sudden came the long-delayed, unthought-of announcement. Heaven and earth seemed to mingle, as suddenly an Angel stood before their dazzled eyes, while the outstreaming glory of the Lord seemed to enwrap them, as in a mantle of light.25 Surprise, awe, fear would be hushed into calm and expectancy, as from the Angel they heard, that what they saw boded not judgment, but ushered in to waiting Israel the great joy of those good tidings which he brought: that the long-promised Saviour, Messiah, Lord, was born in the City of David, and that they themselves might go and see, and recognize Him by the humbleness of the circumstances surrounding His Nativity.

Footnote:

18. In the curious story of His birth, related in the Jer. Talmud (Ber. ii. 3), He is said to have been born in ‘the royal castle of Bethlehem;’ while in the parallel narrative in the Midr. on Lament. i. 16, ed. W. p. 64 b) the somewhat mysterious expression is used )br( trybb. But we must keep in view the Rabbinic statement that, even if a castle falls down, it is still called a castle (Yalkut, vol. ii. p. 60 b).

19. Targum Pseudo-Jon. On Gen. xxxv. 21.       20. Shek. vii. 4.

21. In fact the Mishnah (Baba K. vii. 7) expressly forbids the keeping of flocks throughout the land of Israel, except in the wilderness – and the only flocks otherwise kept, would be those for the Temple-services (Baba K. 80 a).

22. This disposes of an inapt quotation (from Delitzsch) by Dr. Geikie. No one could imagine, that the Talmudic passages in question could apply to such shepherds as these.

23. The mean of 22 seasons in Jerusalem amounted to 4.718 inches in December, 5.479 in January, and 5.207 in February (see a very interesting paper by Dr. Chaplin in Quart. Stat. of Pal. Explor. Fund, January, 1883). For 1876-77 we have these startling figures: mean for December, .490; for January, 1.595; for February, 8.750 – and, similarly, in other years. And so we read: ‘Good the year in which Tebheth (December) is without rain’ (Taan. 6 b). Those who have copied Lightfoot’s quotations about the flocks not lying out during the winter months ought, at least, to have known that the reference in the Talmudic passages is expressly to the flocks which pastured in ‘the wilderness’ (wl) twyrbdm Nh). But even so, the statement, as so many others of the kind, is not accurate. For, in the Talmud two opinions are expressed. According to one, the ‘Midbariyoth,’ or ‘animals of the wilderness,’ are those which go to the open at the Passovertime, and return at the first rains (about November); while, on the other hand, Rabbi maintains, and, as it seems, more authoritatively, that the wilderness-flocks remain in the open alike in the hottest days and in the rainy season – i.e. all the year round (Bezah 40 a). Comp. also Tosephta Bezah iv. 6. A somewhat different explanation is given in Jer. Bezah 63 b.

24. There is no adequate reason for questioning the historical accuracy of this date. The objections generally made rest on grounds, which seem to me historically untenable. The subject has been fully discussed in an article by Cassel in Herzog’s Real. Ency. xvii. pp. 588-594. But a curious piece of evidence comes to us from a Jewish source. In the addition to the Megillath Taanith (ed. Warsh. p. 20 a), the 9th Tebheth is marked as a fast day, and it is added, that the reason for this is not stated. Now, Jewish chronologists have fixed on that day as that of Christ’s birth, and it is remarkable that, between the years 500 and 816 a.d. the 25th of December fell no less than twelve times on the 9th Tebheth. If the 9th Tebheth, or 25th December, was regarded as the birthday of Christ, we can understand the concealment about it. Comp. Zunz, Ritus d. Synag. Gottesd. p. 126.

25. In illustration we may here quote Shem. R. 2 (ed. W. vol. ii. p. 8 a), where it is said that, wherever Michael appears, there also is the glory of the Shekhinah. In the same section we read, in reference to the appearance in the bush, that, ‘at first only one Angel came,’ who stood in the burning bush, and after that the Shekhinah came, and spoke to Moses from out the bush. (It is a curious illustration of Acts ix. 7, that Moses alone is said in Jewish tradition to have seen the vision. but not the men who were with him.) Wetstein gives an erroneous reference to a Talmudic statement, to the effect that, at the birth of Moses, the room was filled with heavenly light. The statement really occurs in Sotah 12 a; Shem. R. 1; Yalkut i. 51 c. This must be the foundation of the Christian legend, that the cave, in which Christ was born, was filled with heavenly light. Similarly, the Romish legend about the Virgin Mother not feeling the pangs of maternity is derived from the Jewish legend, which asserts the same of the mother of Moses. The same authority maintains, that the birth of Moses remained unknown for three months, because he was a child of seven months. There are other legends about the sinlessness of Moses’ father, and the maidenhood of his mother (at 103 years), which remind us of Christian traditions.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s