Jablonski: Opini Fiksi Nir Bukti — Pagan Asal Natal

Orang yang mempopulerkan gagasan bahwa asal-usul Natal berasal dari ritual Dewa Matahari Romawi kuno adalah Paul Ernst Jablonski (1693-1757),1 seorang theolog Kristen Protestan Liberal (Krislib) asal Berlin, Jerman.

Sebelum Jablonski, opini bahwa Natal 25 Desember itu dari Saturnalia telah dikemukakan pada tahun 1687 dalam buku “A Testimony”.3

Paul Ernst Jablonski (1693-1757) dari Berlin, Jerman
Paul Ernst Jablonski (1693-1757) dari Berlin, Jerman. Sumber foto 2

Pada tahun 1743, Jablonski menyatakan, Natal 25 Desember berasal dari Dies Natalis Solis Invicti (hari kelahiran Dewa Matahari). Latar belakang dari spekulasi Jablonsky ini adalah praduga telah terjadi paganisasi Kristen dalam mazhab Katolikisme. Sebagai respon terhadap tuduhan itu, Dom Jean Hardouin, seorang rahib Katolik Benediktan, menyatakan bahwa apa yang terjadi bukan paganisasi Kristen, melainkan Kristenisasi kebudayaan pagan, tanpa perubahan sedikitpun pada aspek Injilnya.

Baik Paul Ernst Jablonski maupun Dom Jean Hardouin gagal memahami bahwa Natal 25 Desember itu punya dasar Injil. Keduanya juga tidak mengetahui bahwa Winter Solstice pada abad 1-4 Masehi tidak pernah jatuh pada tanggal 25 Desember. Dengan demikian, opini  “Natal dari Pagan” berlawanan dengan bukti tentang Winter Solstice di Roma abad 1-4 M.

Opini mereka berdua lantas diikuti oleh banyak orang dan bahkan masuk ke dalam ensiklopedia. Dasar opini mereka bukan bukti materi dan semata-mata didasarkan pada asumsi saja. Banyak orang hanya membebek duck-hello opini mereka tanpa pernah kenal Jablonski.

Opini keliru dari mereka berdua dibantah oleh Louis Duchesne, yang mengungkapkan perhitungan yang dianut umat Kristus sedari awal abad Masehi, yaitu bahwa tanggal 25 Desember dihitung 9 bulan semenjak malaikat Gabriel menyampaikan Firman kepada Maria. Sayangnya, suara Louis Duchesne tenggelam dalam derasnya theologi kristen liberal yang didukung media massa internasional Yahudi. Suara kebenaran “kalah nyaring” oleh modal…. 😈

Perhitungan yang didasarkan pada informasi dari ayat-ayat Injil menunjuk 25 Desember 5 SM Kalender Julian sebagai hari kelahiran Isa Al-Masih. Masifnya kampanye anti-Natal menyebabkan argumen anti-Natal sekarang ini menjadi opini publik mainstream, sekalipun opini tersebut tidak didasarkan pada bukti.

Simpulan

  1. Teori bahwa asal-usul Natal dari pemujaan kepada Dewa Matahari itu hanya sebuah opini yang didasarkan pada asumsi, bukan bukti. Opini keliru tersebut dianggap benar karena diucapkan oleh orang yang dianggap ahli. Dengan begitu, dasar teori tersebut adalah argumentum ad verecundiam.(i)
  2. Perhitungan berbasis Injil menunjukkan Yesus Kristus alias Isa Al-Masih memang lahir tanggal 25 Desember 5 SM Kalender Julian, sebagaimana yang kita peringati dengan Natal setiap tahun.

Bibliografi

1http://onlinebooks.library.upenn.edu/webbin/book/lookupname?key=Jablonski%2C%20Paul%20Ernst%2C%201693-1757 ; akses 26/4/2015 13:20

2http://movil.religionenlibertad.com/articulo_rel.asp?idarticulo=39402&accion= ; akses 26/4/2015 13:31

3http://www.covenanter.org/IMather/increasemathertestimony.htm; akses 2 Mei 2015 12:39

It was in compliance with the Pagan Saturnalia that Christ-mass Holy-days were first invented. The manner of Christ-mass-keeping, as generally observed, is highly dishonourable to the Name of Christ. (A Testimony, Bab III, Paragraf 1)

Istilah

(i)Argumentum Ad Verecundiam: sesat nalar di mana suatu hal dipercaya benar karena yang mengatakannya adalah ahli atau orang yang [dianggap] ahli.

Iklan

2 thoughts on “Jablonski: Opini Fiksi Nir Bukti — Pagan Asal Natal”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s