Kain lampin, gua, dan api menghangatkan bayi Isa yang baru lahir

Suhu rata-rata musim dingin di Bethlehem, Palestina, pada 25 Desember berkisar antara 6-14° C. Suhu malam hari berada pada kisaran 6° C di udara terbuka. Apakah dalam suhu ini bayi dapat bertahan hidup?

Bayi yang baru lahir diberi kain lampin yang melilit tebal pada badan bayi. Sebelum dililit kain lampin, seluruh tubuh bayi dibalur dengan minyak. Kain lampin itu kain panjang yang dililitkan membungkus bayi. Minyak dan kain lampin ini membuat bayi tetap hangat.

Selain itu, Yusuf, Maria, dan bayi Yesus (Isa) berada dalam ruangan, bukan di alam terbuka. Menurut Yustinus Martir (100-165 M), ruang tersebut adalah gua1 yang berada di dekat desa Bethlehem.

But when the Child was born in Bethlehem, since Joseph could not find a lodging in that village, he took up his quarters in a certain cave near the village; and while they were there Mary brought forth the Christ and placed Him in a manger, and here the Magi who came from Arabia found Him.2

Tapi ketika anak itu lahir di Betlehem, karena Yusuf tidak bisa menemukan penginapan di desa itu, ia mengambil tempat di sebuah gua dekat desa itu; dan sementara mereka ada di situ Maria melahirkan Kristus/ Al-Masih dan menaruh bayinya di dalam palungan, dan di sini orang Majus yang datang dari Arab menemukan dia

Pada tahun 327 M, Church of the Nativity dibangun di atasnya, sebagai monumen untuk mengabadikan tempat tersebut.

Lokasi Isa Al-Masih lahir ditandai dengan bintang. Lokasi ini diteruskan dari generasi ke generasi secara tradisional selama sekitar 2.000 tahun.
Lokasi Isa Al-Masih lahir ditandai dengan bintang, berada dalam Church of the Nativity.3 Lokasi ini diteruskan dari generasi ke generasi secara tradisional selama sekitar 2.000 tahun.

Isa Al-Masih dibaringkan dalam palungan yang tentunya diberi alas agar empuk, dan palungan tersebut berada dalam gua itu. Ruang ini menjadi penghalangan bagi udara musim hujan bulan Desember di Betlehem.

Artifak palungan batu ini ditemukan dalam ekskavasi arkeologi di Megiddo, diperkirakan berasal dari abad 9 SM. Palungan biasanya diisi air atau rumput untuk ternak domba, unta, sapi, dsj. Menimbang latar belakang sosial-budaya, maka palungan semacam inilah yang digunakan untuk menaruh bayi Isa Al-Masih (Yesus Kristus) usai dilahirkan (Lukas 2: 7, 12, 16). Dalam interpretasi simbolik, hal ini menunjukkan bahwa Isa Al-Masih bukan hanya diperuntukkan bagi golongan yang disimbolkan dengan "domba", tapi juga yang disimbolkan oleh Alkitab dengan simbol "onta", "keledai", "kuda", "kambing", dan "lembu".
Artifak palungan batu ini ditemukan dalam ekskavasi arkeologi di Megiddo, diperkirakan berasal dari abad 9 SM. Palungan biasanya diisi air atau rumput untuk ternak domba, unta, sapi, dsj. Menimbang latar belakang sosial-budaya, maka palungan semacam inilah yang digunakan untuk menaruh bayi Isa Al-Masih (Yesus Kristus) usai dilahirkan (Lukas 2: 7, 12, 16) pada abad 1 SM.

Injil mengisahkan, para gembala dapat melihat bayi Isa Al-Masih yang dibebat kain lampin pada malam Natal pada kisaran tengah malam hingga 2 malam. Ini menyiratkan ada sumber cahaya, yaitu api/ perapian, dalam gua tersebut. Dan, perapian menghangatkan udara dalam gua.

Pada waktu antara tengah malam hingga 2 malam, di dalam gua, bukan di alam bebas, para gembala dapat mengenai Yusuf, Maria, dan Isa/ Yesus serta kain lampin yang membebatnya. Ini mengindikasikan ada api/ perapian yang jadi sumber penerangan itu. Api bukan hanya menerangi gua, tapi juga menghangatkan gua dan mengusir hawa dingin.
Pada waktu antara tengah malam hingga 2 malam, di dalam gua, bukan di alam bebas, para gembala dapat mengenai Yusuf, Maria, dan Isa/ Yesus serta kain lampin yang membebatnya, seperti yang disiratkan oleh Injil. Ini mengindikasikan ada sumber cahaya (api/ perapian) yang jadi sumber penerangan itu. Api bukan hanya menerangi gua, tapi juga menghangatkan gua dan mengusir hawa dingin.

Simpulan

Kain lampin, gua, dan api/ perapian punya kontribusi dalam menghangatkan suhu bagi bayi Isa Al-Masih yang baru lahir, sehingga bayi Isa dapat bertahan dalam suhu malam yang berkisar 6° C .


 Bibliografi

1http://www.jesus.org/birth-of-jesus/bethlehem/was-jesus-born-in-a-cave.html; akses 27 April 2015 19:15.

2Justin Martyr, “Dialog dengan Tripho”, Bab LXXVIII. http://www.earlychristianwritings.com/text/justinmartyr-dialoguetrypho.html; akses 27/4/2015 19:43

3http://www.sacred-destinations.com/israel/bethlehem-church-of-the-nativity; akses 27/4/2015 20:04

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s