Kontradiksi semu: Yusuf anak Eli dalam silsilah Maria

Disinformasi

Lukas 3: 23-31 bukan garis Maria, buktinya, dalam ayat 23 jelas tertulis “Yusuf, anak Eli”, bukan “Maria, anak Eli”. Ada yang bilang, anak di situ dalam arti anak mantu. Jelas ini pembohongan karena kata “anak” dan kata “anak mantu” punya makna yang berbeda.

Sebenarnya….

Hal itu disebabkan oleh patrilinealisme khas Ibrani yang tercantum dalam Taurat.

Mari kita lihat bukti-bukti Alkitab mengenai silsilah Maria yang terkait erat dengan peristiwa Natal alias Milad Al-Masih ini.

A. Masyarakat Ibrani Kuno itu Patrilineal(i)

Masyarakat Israel kuno menganut sistem kekerabatan patrilineal. Kekhususan patrilinealisme masyarakat Ibrani kuno yang membedakannya dari patrilinealisme bangsa-bangsa lain adalah: jika suatu keluarga tidak mempunyai anak laki-laki dan hanya mempunyai anak perempuan, maka anak perempuan itu dapat melanjutkan silsilah keluarga sebelum perempuan itu menikah.

Dan kepada orang Israel engkau harus berkata: Apabila seseorang mati dengan tidak mempunyai anak laki-laki, maka haruslah kamu memindahkan hak atas milik pusakanya kepada anaknya yang perempuan. (Bilangan 27:8)

Bilangan 36: 8-9 menyebutkan bahwa perempuan yang tidak mempunyai saudara kandung laki-laki dan yang memegang pusaka keluarga hanya diizinkan menikah dengan pria yang satu suku dengan ayahnya.

8  Jadi setiap anak perempuan di antara suku-suku orang Israel yang telah mewarisi milik pusaka, haruslah kawin dengan seorang dari salah satu kaum yang termasuk suku ayahnya, supaya setiap orang Israel mewarisi milik pusaka nenek moyangnya.

9  Sebab milik pusaka itu tidak boleh beralih dari suku ke suku, tetapi suku-suku orang Israel haruslah masing-masing memegang milik pusakanya sendiri.” (Bilangan 36:8-9)

Penyebab anak perempuan penerus keluarga hanya boleh menikah dengan pria satu suku adalah agar milik pusaka tidak berpindah ke suku lainnya. Misal, marga A tergolongan suku Yahudi. Perempuan penerus marga suku A harus menikah dengan orang dari suku Yahudi pula, tidak boleh dengan suku lain (misal, suku Lewi), agar marga A tersebut tetap termasuk suku Yahudi, bukan kemudian beralih jadi anggota suku Lewi.

Dari aturan ini, kita mengetahui bahwa pusaka keluarga perempuan jatuh pada suami dari si perempuan itu pada saat perempuan pemegang pusaka itu menikah. Dengan demikian, menantu laki-laki dari perempuan penerus klan menjadi anak laki-laki ayah istrinya, sekalipun hanya anak mantu, bukannya anak kandung, karena dia lah yang memegang pusaka keluarga yang semula milik perempuan pemegang pusaka keluarga.

Karena itu, dalam masyarakat Ibrani kuno, anak mantu yang mewarisi pusaka keluarga istrinya juga dapat disebut “anak”, sebab dialah yang mengemban pusaka melanjutkan silsilah keluarga istrinya.

Sistem kekeluargaan patrilineal Ibrani kuno beserta kekhususannya yang tercermin dalam Alkitab membuat nama yang ditulis dalam garis silsilah pihak perempuan adalah suami dari perempuan itu. Kalau pun perempuan itu dituliskan dalam silsilah patrilineal, maka kedudukannya sebagai pendamping pria.

Patrilineal Ibrani Kuno
Patrilineal Ibrani Kuno yang tercantum dalam Taurat, yaitu: Bilangan 27: 8 dan Bilangan 36:8-9.

B. Aplikasi Pada Kasus Maria

Maria adalah anak perempuan Eli. Eli tidak punya anak laki-laki. Karena itu, saat Eli meninggal dunia, Maria mewarisi pusaka keluarga Eli. Berdasarkan syari’at Taurat yang telah dijabarkan di atas, maka, sebelum menikah, Maria disebut Maria anak Eli. Pusaka keluarga yang diwarisi oleh anak perempuan bukan hanya tanah, namun juga pusaka penerus silsilah keluarga, agar garis keturunan klan/ marga/ fam tidak terputus.

Sebagai perempuan pemegang pusaka keluarga, Maria hanya dapat menikah dengan pria yang satu suku dengan ayahnya.Yusuf orang Yahudi. Eli orang Yahudi. Keduanya menikah sesuai Taurat.

Berdasarkan syari’at Taurat, pusaka keluarga Maria jatuh pada Yusuf. Termasuk dalam pusaka itu adalah pusaka meneruskan klan Eli. Maka, tugas meneruskan klan Eli beralih dari Maria ke Yusuf. Dengan demikian, menantu laki-laki dari perempuan penerus klan menjadi anak laki-laki ayah istrinya, sekalipun hanya anak mantu, bukannya anak kandung, karena dia lah yang memegang pusaka keluarga yang semula milik perempuan pemegang pusaka keluarga. Setelah Maria menikah, maka, dalam catatan silsilah Israel, Maria tidak lagi disebut Maria bin Eli. Berhubung pusaka meneruskan klan sudah pindah ke Yusuf, suami Maria, maka kemudian Yusuf disebut Yusuf bin Eli.

Karena itu, Yusuf yang mewarisi pusaka keluarga Maria juga dapat disebut “anak”, sebab dialah yang mengemban pusaka melanjutkan silsilah keluarga Maria.

Sistem kekeluargaan patrilineal Ibrani kuno beserta kekhususannya yang tercermin dalam Alkitab membuat nama yang ditulis dalam garis silsilah Maria adalah suami Maria, yaitu: Yusuf. Sebab Yusuf mengemban pusaka keluarga untuk melanjutkan marga/ klan/ fam Eli.

Simpulan

  1. Silsilah dalam Lukas menyebut “Yusuf anak Eli”, bukan “Maria anak Eli” sebab Maria telah menyerahkan pusaka keluarga, termasuk pelanjutan klan, kepada Yusuf, sesuai syari’at Taurat dalam Bilangan 27: 8 dan Bilangan 36:8-9.
  2. Teknik produksi disinformasi:
    1. Mengabaikan ayat-ayat dalam Taurat
    2. Melepaskan teks dari latar sosial, tempat, dan waktu.
    3. Memanfaatkan kesenjangan latar tersebut.
    4. Menuduh pihak lain berbohong untuk menutupi kebohongan dalam disinformasi tersebut.

 


 Istilah

(i)Patrilineal adalah suatu adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ayah.

Iklan

4 thoughts on “Kontradiksi semu: Yusuf anak Eli dalam silsilah Maria”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s