Patrilinealisme Ibrani kuno

Masyarakat Ibrani kuno terdiri dari klan-klan keluarga, mirip-mirip dengan marga atau fam dalam sejumlah suku di Indonesia. Mereka berpandangan kontinyuitas klan adalah hal yang betul-betul sangat penting, sampai-sampai hal itu diatur dalam Taurat.

Pada pokoknya, anak laki-laki yang sulung dari istri (bila monogami) atau istri pertama (bila poligami) adalah penerus klan keluarga ayah, bukan penerus klan keluarga ibu.

A. Klan dinilai lebih tinggi daripada properti

Klan adalah pusaka keluarga yang dinilai lebih penting daripada tanah dan bangunan. Dengan mengamati sejarah Israel kuno dalam Alkitab, Anda dapat melihat bagaimana mereka kehilangan tanah, bangunan, dan bahkan seluruh harta, namun mereka tetap mempertahankan harta pusaka berupa klan dan keluarga selama berabad-abad. Mereka lebih memilih kehilangan segala harta mereka ketimbang klan mereka lenyap. Hak melanjutkan klan ayah terangkum dalam hak kesulungan.

B. Hak kesulungan meneruskan klan dapat dipindahkan

Hak anak sulung atau hak kesulungan untuk meneruskan klan ayah ini dapat dipindahtangankan kepada adiknya. Kitab Taurat mencatat, Yakub menerima hak kesulungan yang diremehkan oleh Esau.

31  Tetapi kata Yakub: “Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu.”
32  Sahut Esau: “Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?”
33  Kata Yakub: “Bersumpahlah dahulu kepadaku.” Maka bersumpahlah ia kepada Yakub dan dijualnyalah hak kesulungannya kepadanya. (Kejadian 25: 31-34)

Akibatnya, Yakub menjadi penerus klan Is’haq, sedangkan Esau pergi dari klan Is’haq dan membangun bangsa baru, yaitu: Edom. Walaupun Esau adalah anak sulung biologis Is’haq, dia tidak mewarisi pusaka keluarga berupa hak meneruskan klan Is’haq, karena dia telah menyerahkan hak anak sulung untuk jadi penerus klan Is’haq itu kepada Yakub.

C. Kesukuan ibu tidak berpengaruh.

Istri dari suku atau bangsa apa pun tidak berpengaruh dengan klan anak laki-laki sulung, sebab menurut tradisi patrilineal Ibrani ini, anak laki-laki sulung punya kewajiban melanjutkan klan ayah.

Contoh:

  1. Istri Musa adalah orang Median. Anak-anak Musa dihitung orang Israel, bukan orang Median.
  2. Istri Yusuf adalah orang Mesir. Anak-anak Yusuf dihitung orang Israel, bukan orang Mesir.
  3. Rut, nenek Raja Daud, adalah perempuan Moab (Rut 1: 4), bukan perempuan Israel. Cucu Rut, yaitu Daud, dihitung orang Israel, bahkan jadi Raja Israel dan Nabi. Kisah ini masuk dalam silsilah Isa yang dituliskan sebelum kisah Natal dalam Matius 1.

D. Bila tidak punya anak sama sekali

Levirat
Levirat

Bila suami meninggal dunia tanpa punya anak, maka saudara terdekat menikahi istri dari suami yang meninggal itu. Anak yang lahir dari pernikahan itu dihitung anak dari suami yang telah meninggal. Sehingga, klan yang dilanjutkan anak tersebut bukan klan bapak biologisnya, tapi klan bapaknya yang telah meninggal. Hal ini diistilahkan “levirat“.

D. Bila hanya ada anak perempuan

Bila suatu keluarga hanya punya anak perempuan, maka anak perempuan yang sulung mewarisi pusaka keluarga klan ayahnya. Bila kemudian dia menikah, maka pusaka keluarga tersebut, termasuk hak melanjutkan klan, jatuh pada suami dari perempuan itu (Bilangan 27:8; Bilangan 36: 8-9). Suami dari perempuan itu lantas mempunyai kewajiban untuk meneruskan klan dari istrinya dan juga klan ayahnya. Dalam kasus ini, si suami disebut dengan nama klan ayahnya sendiri dan ayahnya istrinya. Ini dibahas dalam posting “Patrilinealisme Ibrani kuno: Bila adanya anak perempuan tanpa anak laki-laki

E. Keduanya menjadi satu daging

Dalam pandangan Ibrani kuno, suami dan istri itu dihitung sebagai satu-kesatuan, bukan lagi dua. Oleh karena itu, mertua memanggil anak mantu dengan panggilan “Anakku” atau “Nak”, sebagaimana yang tercantum dalam kitab Ruth. Dalam pandangan kebersatuan ini, istri dihitung menyatu dan jadi bagian dari suaminya. Karena itu, Ibrani kuno dalam Alkitab menyebut bahwa anak diperanakkan oleh suami, tapi dilahirkan oleh istri. Di sini, mereka berpandangan bahwa anak itu berasal dari/ keluar dari ayah, sedangkan ibu melahirkan anak itu ke dunia nyata.

Simpulan

  1. Masyarakat Ibrani kuno adalah masyarakat patrilineal, bukan matrilineal.
  2. Patrilinealisme Ibrani ini bertujuan agar seluruh klan Ibrani tetap lestari. Karena itu, muncul keunikan patrilinealisme Ibrani kuno yang membedakannya dari patrilinealisme bangsa-bangsa lain.
  3. Silsilah yang seolah-olah rumit, membingungkan, dan kontradiktif jadi nampak terang, tidak rumit, tidak membingungkan, dan tidak kontradiktif setelah kita memahami mengenai patrilinealisme Ibrani kuno.
  4. Ibrani kuno tidak menerapkan matrilinealisme.

 

Iklan

2 thoughts on “Patrilinealisme Ibrani kuno”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s