Dalil saling memberi hadiah Natal

Disinformasi

Sebagai bagian dari perayaan [pagan] tersebut, masyarakat … tukar-menukar hadiah. Kebiasaan-kebiasaan itu lama-kelamaan menjadi bagian dari perayaan Natal.1

Meski kebiasaan ini bukan esensi dari Hari Raya Natal, kebiasaan untuk tukar menukar kado pada sanak-saudara dan teman-teman pada hari Natal kemungkinan bermula di Romawi Kuno dan Eropa Utara.1

Sebenarnya….

Praktek saling memberi hadiah Natal bukan dari pagan, melainkan itu aplikasi dari 2 pengajaran dalam Injil yang dijadikan satu, yaitu:

  1. Pengajaran mengenai prinsip untuk saling mengasihi satu sama lain.
  2. Pengajaran mengenai hadiah Natal

Pengajaran mengenai prinsip untuk saling mengasihi satu sama lain berasal dari 1 Yoh 4:11 .

Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. (1 Yoh 4:11)

Allah meneladankan, wujud dari kasih adalah memberi. Allah memberi udara, air, bumi, sinar matahari, dsb kepada semua orang, baik kepada orang beriman maupun orang kafir, karena Allah mengasihi manusia. Pula, Allah telah memberikan Isa Al-Masih kepada manusia karena begitu besar kasih Allah kepada umat manusia (Yohanes 3: 16), seperti yang dibahas dalam posting “Dalil Hadiah Natal“.

Pemaknaan dua ayat tersebut adalah: wujud dari saling mengasihi yang tercantum dalam 1 Yohanes 4: 11 adalah saling memberi hadiah, antara lain, saling memberi hadiah Natal, seperti yang tercantum dalam Yohanes 3: 16.

Ikon St. Nikolas versi sejarah
St. Nikolas, orang yang mempopulerkan tradisi saling memberi hadiah melalui teladan hidupnya sendiri, bukan hanya perkataan semata.

Saling memberi telah diajarkan dari abad 1 Masehi. Namun, praktek dari pengajaran ini nampaknya populer ke segala penjuru dunia melalui teladan St. Nikolas (279-343 M). Pertanda bahwa orang lebih senang mengikuti teladan perbuatan nyata daripada mengikuti kata-kata yang mengawang-awang.

Disinformasi tersebut diproduksi dengan cara:

  1. Mengasumsikan Natal baru diperingati/ dirayakan sejak tahun 336 M Masehi. Asumsi ini berlawanan dengan bukti yang menunjukkan Natal diperingati/ dirayakan ratusan tahun sebelum tahun 336 M.
  2. Menggunakan non cause pro causa, yaitu: cara berpikir sesat nalar di mana suatu peristiwa tertentu yang terjadi setelah kejadian tertentu dianggap punya hubungan kausal (hubungan sebab-akibat).
  3. Mengabaikan ayat-ayat Alkitab tentang memberi, hadiah, dan saling mengasihi.

Simpulan

  1. Tradisi Natal berupa saling memberi hadiah Natal merupakan wujud dari dalil “saling mengasihi” dan dalil “hadiah/ pemberian adalah wujud dari kasih”, sebagaimana yang diteladankan oleh Allah dalam Yohanes 3: 16. Tradisi saling memberi hadiah Natal bersumber dari Injil, bukan dari pagan.
  2. Pengajaran saling memberi hadiah dipopulerkan oleh St. Nikolas melalui teladan hidupnya sendiri.
  3. Teknik produksi disinformasi:
    1. Asumsi keliru bahwa Natal baru diperingati/ dirayakan tahun 336 M
    2. Sesat nalar non causa pro causa
    3. Mengabaikan ayat-ayat Alkitab.

 


Bibliografi

1http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_budaya_Natal; akses 3/5/2015 10:30

Iklan

One thought on “Dalil saling memberi hadiah Natal”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s