Tradisi Natal dan Tradisi Pemeriah Natal

Banyak orang tidak membedakan antara tradisi inti Natal dan tradisi pemeriah Natal. Ketidakmampuan membedakan keduanya punya potensi yang tidak baik, yaitu menjadikan tradisi pemeriah suasana Natal sebagai tradisi inti Natal, sehingga, dalam jangka panjang, tradisi pemeriah Natal bisa jadi tradisi inti Natal. Ini perlu diwaspadai.

A. Tradisi Inti Natal

Tradisi Natal adalah tradisi yang berkaitan dengan nilai inti dari Natal. Tradisi inti Natal berumur ribuan tahun dan dimulai sejak abad 1 Masehi. Beberapa di antaranya bahkan dimulai dari malam Isa lahir.

Contoh:

  1. Menyanyi lagu Natal.
  2. Kebaktian Natal/ kebaktian malam Natal (teknisnya dapat menggunakan adat setempat, tidak harus menggunakan cara Timur-Tengah atau cara Barat)
  3. Pekan Natal
  4. Kisah Natal
  5. Memberi hadiah Natal (misal, hadiah berupa benda, aksi sosial, dsb)
  6. Festival cahaya Natal (dengan motif yang merayakan Natal)
  7. Mengingat dan merenungkan kisah Natal serta pengaplikasiannya.
Kebaktian Natal adat Jawa pada 24/12/2011
Kebaktian Natal adat Jawa pada 24/12/2011

B. Tradisi Pemeriah Natal

Tradisi pemeriah Natal adalah tradisi yang dilekatkan ke Natal. Ada yang dilekatkan untuk memeriahkan suasana Natal. Selain itu, ada pula yang mendompleng dalam rangka bisnis. Walau begitu, tradisi pemeriah Natal hendaknya tetap tidak berlawanan nilai-nilai Natal, andai pun tidak mengikuti nilai Natal.

Tradisi pemeriah natal berkembang sesuai dengan “permintaan pasar” lokal, meskipun ada pula yang kemudian berhasil mengglobal, seperti Pohon Natal mainan dan Sinterklas versi bisnis.

Contoh:

  1. Mainan yang populer dalam musim Natal, seperti misal, Pohon Natal
  2. Sinterklas versi bisnis dan Sinterklas versi seni
  3. Makanan dan minuman yang diasosiasikan dengan Natal
  4. Pakaian yang diasosiasikan dengan Natal, seperti, topi tidur Sinterklas versi bisnis dan baju tidurnya
  5. Kebiasaan lokal dalam menyambut Natal
  6. Pergi bertamasya bersama keluarga, kerabat, teman, dsb.
  7. Pesta seni rakyat
  8. Diskon Natal yang diasosiasikan dengan hadiah Natal dari penjual kepada pembeli, padahal motif sebenarnya bisnis dalam rangka cuci gudang.
  9. Tunjangan hari raya atau bonus Natal yang diasosiasikan dengan hadiah Natal dari majikan kepada bawahan, walau sebenarnya motif bisnis yang lebih bermain.
  10. Festival cahaya dengan motif bisnis, promosi, dsb, di luar motif inti Natal.

Tradisi pemeriah Natal bisa dikatakan tradisi sekuler yang mendompleng Natal dan bukan bagian dari inti perayaan Natal yang sebenarnya.

Kita perlu dapat membedakan kedua jenis tradisi ini, agar jangan sampai mengira pendompleng sebagai tuan rumah.

Tradisi Pemeriah Natal beradaptasi dengan ruang dan waktu di mana Natal berlangsung. Oleh karena itu, Tradisi Pemeriah Natal rawan dengan penyimpangan yang berlawanan dengan Tradisi Inti Natal. Contoh penyimpangan itu antara lain: pesta minuman keras, judi, dsb.

Penyimpangan ke arah yang berlawanan dengan nilai Natal ini perlu diberantas agar tidak menodai Tradisi Inti Natal yang sesungguhnya. Yang diberantas bukan Natal, bukan Tradisi [Inti] Natal, dan bukan Tradisi Pemeriah Natal yang tidak berlawanan dengan Injil; melainkan penyimpangan terhadap ketiga hal tersebut.

Iklan

One thought on “Tradisi Natal dan Tradisi Pemeriah Natal”

  1. Ping-balik: Natal 25 Desember

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s