Pro-Kontra Natal abad 3 M

Soal

Kalau asal mula perayaan Natal sejelas yang digambarkan dalam “Asal Mula Perayaan Natal“, lantas kenapa para bapa jemaat abad 3 Masehi berpolemik mengenai Natal dan tanggal Natal?

Jawab

Karena pewarisan Perayaan Natal tidak disertai pewarisan dalil ayat untuk Perayaan Natal 25 Desember itu.  Kita dapat melihat masalah yang serupa pada abad 21 ini.

Uraian

Sebelumnya, kita telah membahas asal mula perayaan Natal berdasarkan Injil dan bukti-bukti abad 1-4 Masehi adalah sebagai berikut:

  1. Asal muasal Natal adalah kelahiran Isa Al-Masih alias Yesus Kristus (Matius 1: 24-25, Lukas 2: 7) yang dirayakan oleh para malaikat (Lukas 2: 13-14). Teladan malaikat tersebut kemudian dicontoh oleh para gembala (Lukas 2: 20) yang melihat fenomena tersebut.
  2. Teladan dari para gembala dan malaikat lantas dicontoh oleh umat Al-Masih generasi pertama (2 Timotius 2:8). Bukti lain, Konstitusi Apostolik dari sekitar tahun 70 Masehi.
  3. Teladan dari generasi pertama itu lantas diikuti oleh generasi kedua. Buktinya, catatan tentang Misa Tengah Malam Natal terkait St. Telesphorus pada sekitar tahun 126-137.1
  4. Teladan dari generasi kedua diikuti oleh generasi ketiga. Buktinya, tulisan Theofilus, bishop Kaesarea, pada tahun 168 M.
  5. Teladan generasi ketiga diikuti oleh generasi selanjutnya. Buktinya, tulisan Hippolytus dari tahun 225 Masehi. Begitu seterusnya, hingga akhirnya tiba pada jaman kita, abad 21 Masehi.

Warisan tradisi perayaan Natal sampai kepada umat abad 3 Masehi (poin 5) tanpa disertai penjelasan apapun mengenai ayat-ayat yang mendasarinya. Hal ini mengakibatkan muncul SPEKULASI bahwa Pagan adalah asal Natal pada abad 3 Masehi. Kedekatan tanggal perayaan Natal dan tanggal perayaan pagan membuat spekulasi itu laris selama berabad-abad.

Spekulasi itu dapat kita lihat dalam segunung artikel 🐻 tentang anti-Natal 25 Desember dengan pola yang seragam, yaitu:

  1. Asumsi: Alkitab tidak memberitahu tanggal lahir Isa Al-Masih.
  2. Spekulasi nir bukti bahwa budaya pagan adalah asal Natal. Biasanya didasarkan pada opini dari tahun atau abad yang telah lampau. Tidak ada bukti materiil yang mendukung.
  3. Menekankan disinformasi bahwa Natal dari pagan.

Tak ada bukti materiil sama sekali. Opini itu menyebar sehingga, pada saat ini, opini itu lebih desas-desus, gosip, isu, glenak-glenik, kabar angin, legenda perkotaan, mitos, atau folklore. Andai bukti materiil dijadikan ukuran, maka paham Natal 25 Desember jauh lebih kuat ketimbang paham anti-Natal 25 Desember.

Kembali ke topik bahasan kita….

Berhubung Tradisi Perayaan Natal sampai pada para manusia abad 3 M tanpa disertai rujukan dalil, maka jemaat 3 Masehi berusaha keras menemukan dalilnya dalam Alkitab.  Ada yang berhasil, misal, Theofilus, namun, sayangnya, ada pula yang gagal, misal, Tertulian. Hasil dari perjuangan keras mereka adalah kontroversi pro dan kontra yang berlangsung selama berabad-abad.

Kondisi ini akan terus langgeng selama upaya mensosialisasikan dalil-dalil Alkitab mengenai Natal 25 Desember dilakukan secara kurang serius ketimbang apa yang dilakukan oleh golongan anti-Natal 25 Desember.

Simpulan

  1. Agak mirip dengan yang terjadi pada masa kini, salah satu sebab penolakan Natal 25 Desember dan laris manisnya opini nir bukti “pagan asal Natal” adalah  ketidaktahuan tentang atau pengabaian terhadap ayat-ayat Alkitab yang merujuk ke Natal 25 Desember.
  2. Perlu upaya serius untuk mengkomunikasikan dalil Alkitab mengenai Natal 25 Desember.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s