Drama Firdaus: Prosesi sebelum pentas

Bentuk kecil dari kayu lipat
Bentuk kecil dari kayu lipat

Sebelum dipentaskannya drama Natal (termasuk di dalamnya drama Firdaus), seluruh awak drama, baik pemain panggung maupun awak belakang layar, melakukan pawai keliling desa Oberufer.

Penyanyi pembawa pohon Natal ada di bagian paling depan dari pawai itu. Inilah asal-mula pohon Natal yang di kemudian hari sangat populer di seluruh dunia. Dari drama rakyat yang dimainkan oleh para petani, lantas meluas ke Jerman dan ke seluruh dunia.

Kembali ke pawai….

Semua orang yang terlibat dalam pementasan itu berjalan di belakang penyanyi pembawa pohon Natal. Nampaknya hal ini berkaitan dengan simbolisasi pohon Natal. Dalam drama Firdaus, pohon Natal itu digunakan untuk menggambarkan pohon pengetahuan atau, dalam versi Arab, pohon Khuldi.

Lalu Tuhan ALLAH menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. (Kejadian 2: 9)

Inilah dalil Alkitab yang menginspirasi lahirnya pohon Natal, awalnya dalam drama Firdaus, kemudian diikuti dalam bentuk mainan kanak-kanak hingga saat ini. Asal-usul pohon Natal ternyata sesederhana ini.

Buah apel pada pohon Natal digunakan untuk menggambarkan buah Pengetahuan atau, dalam versi Arabnya, buah Khuldi.
Buah apel pada pohon Natal digunakan untuk menggambarkan buah Pengetahuan atau, dalam versi Arabnya, buah Khuldi.

Penempatan pembawa pohon Natal di bagian paling depan ini menggambarkan kisah yang tercantum dalam Kejadian pasal 2 hingga pasal 3. Pohon Natal di bagian depan tidak berarti pawai itu adalah pawai yang mengarak pohon Natal. Disinformasi semacam ini niscaya disebarkan kaum anti-Injil. Pohon Natal ditempatkan pada bagian depan pawai drama Natal karena kronologi kisah Natal dimulai dari adanya pohon Pengetahuan yang buahnya dilarang dimakan, tapi Adam melanggar larangan itu dan makan buah dari pohon Pengetahuan itu.

Penyanyi pembawa bintang berada di bagian paling akhir dari barisan pawai itu. Bintang tersebut dipasang pada kayu lipat yang bisa dipanjang-pendekkan. Selama prosesi, kayu itu dipanjang maksimal dan bintang keemasan ditempatkan jauh di atas kepala orang yang berperan sebagai Maria yang berjalan di depannya dengan menggunakan kayu tersebut.

Penempatan pembawa bintang di bagian paling akhir di belakang Maria ini menggambarkan kisah yang tercantum dalam Matius pasal 1 dan pasal 2. Arak-arakan itu menggambarkan peristiwa yang terjadi di dalam Firdaus (Kejadian 2-3), janji Allah untuk mendatangkan Mesias/ Al-Masih (Kejadian 3: 15), dan kelahiran Al-Masih yang dijanjian itu (Matius 1-2, Lukas 1-3).

Titik terakhir dari arak-arakan drama Natal adalah lokasi pementasan drama tersebut. Pada abad 19, dalam setting asli desa itu, pementasan dilakukan di balai besar dalam penginapan yang ada di desa tersebut.

Setiba di lokasi pementasan, para pemain berganti pakaian, dan awak drama mempersiapkan segala sesuatunya untuk pementasan itu. Orang yang berperan sebagai malaikat ditinggal di luar penginapan, sedangkan orang yang berperan sebagai iblis meniup terompet yang, menurut tradisi desa itu, dibuat dari tanduk sapi. pemeran Iblis ini pula yang sibuk kesana-kemari untuk memberitahu dan mengajak warga agar datang ke tempat pertunjukan itu dilangsungkan.

 


Bibliografi

1Christmas play from Oberufer; akses 9/5/2015 13:00

 

 

Iklan

4 thoughts on “Drama Firdaus: Prosesi sebelum pentas”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s