Drama Firdaus: Peran pohon Natal

Perlengkapan panggung drama Firdaus (Paradise Play) sangat sederhana dan tersedia dalam lingkungan desa Oberufer, yaitu:

  1. Pohon Junifer kecil yang dicabut beserta akarnya untuk dibawa dengan tangan oleh penyanyi yang ada di posisi terdepan saat pawai Natal/ parade Natal di desa itu. Pohon ini dihias dengan pita merah.
  2. Pohon Juniper yang besarnya seukuran manusia dewasa. Pohon ini ceritanya berperan sebagai Pohon Pengetahuan atau, versi Arabnya, Pohon Khuldi yang dikisahkan dalam Taurat, yaitu Kejadian 2 dan 3.
  3. Buah-buah apel segar digantungkan pada dahan-dahannya. Buah-buahan ini ceritanya berperan sebagai buah Pengetahuan atau, versi Arabnya, buah Khuldi.
  4. Kandang kecil. Digunakan pada drama Natal setelah drama Firdaus selesai.
  5. Bangku kecil (dingklik) untuk tempat duduk Maria di panggung. Bangku tidak digunakan pada adegan drama Firdaus, dengan kata lain, semua pemain dalam posisi tidak duduk.
Pohon Juniper, sejenis dengan pohon cemara.
Pohon Juniper, sejenis dengan pohon cemara.

Sebelum ditemukan istilah “Pohon Natal” pada abad 19, pohon Junifer dalam drama Firdaus dikenal dengan nama “Pohon Firdaus” (Paradise Tree), sesuai peran yang “dimainkan”-nya.

Adegan dalam drama Firdaus.
Adegan dalam drama Firdaus.

Pemeran Hawa nantinya mengambil buah apel pada pohon itu, lalu memberikannya pada pemeran Adam, lalu pemeran Adam memakan buah itu.  Dari drama ini, di kemudian hari, buah apel dijadikan simbol cinta pria dan wanita. Dari drama ini pula, muncul istilah “Adam’s Apple” yang jadi folklore Eropa sehubungan dengan jakun pada pria.

Kembali ke drama Firdaus….

Pohon Junifer itu dihias semenarik mungkin, seindah mungkin, untuk menggambarkan alangkah menariknya Pohon Pengetahuan atau Pohon Khuldi. Bukan hanya rasa buahnya yang enak dan efeknya yang membuat pemakannya jadi punya pengetahuan, pohon itu tentu menarik bagi mata pula, sehingga menimbulkan keinginan Hawa untuk memakan buahnya.

Dalam konteks pedesaan Oberufer, hiasan pohon Natal masih sangat sederhana: pita. Namun, di kemudian hari, ketika drama ini masuk ke kota-kota di Jerman, apalagi setelah masuk istana, pohon Natal itu akan dihias sedemikian indahnya. Pohon Firdaus kala itu menjadi sarana penyampaian pesan bahwa Pengetahuan adalah hal yang sangat menarik/ indah. Pesan ini cocok dengan Natal, sebab Natal adalah peristiwa di mana Ilmu Allah turun ke dunia bukan lagi sebagai kitab-kitab, namun Ilmu itu turun sebagai manusia Isa Al-Masih.

Daya tarik Pengetahuan atau Ilmu ini ditanamkan ke masyarakat sejak drama Firdaus mulai populer, yaitu sekitar abad 11 Masehi. Pohon Firdaus pada masa itu nampaknya punya andil besar dalam menanamkan daya tarik pengetahuan dalam masyarakat dan mendorong terjadinya gerakan aufklarung yang kemudian melanda Jerman, seluruh Eropa, dan akhirnya juga seluruh dunia, hingga melintasi sekat-sekat agama.


Bibliografi

1Christmas Plays from Oberufer; akses 11/5/2015 23:58

Iklan

8 thoughts on “Drama Firdaus: Peran pohon Natal”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s