Arsip Kategori: Silsilah Isa Al-Masih

Apa arti kata “memperanakkan” dalam Matius 1:1-16?

Soal

Apa arti kata “memperanakkan” dalam Matius 1: 1-16

Jawab

Kata “memperanakkan” dalam terjemahan Matius 1: 1-16 diterjemahkan dari kata εγεννησεν ‘egennêsen’, misal, Matius 1: 2.

αβρααμ εγεννησεν τον ισαακ ισαακ δε εγεννησεν τον ιακωβ ιακωβ δε εγεννησεν τον ιουδαν και τους αδελφους αυτου

Abraam egennêsen ton Isâk de egennêsen ton Iakôb de egennêsen ton Iûdan kai tûs adelfûs autû (Matius 1:2)

Kata εγεννησεν ‘egennêsen’ adalah bentuk aorist indikatif aktif γενναω ‘gennaô’yang bermakna menurunkan, bisa berarti menurunkan anak, menurunkan cucu, menurunkan cicit, menurunkan canggah, dst.

Terjemahan “memperanakkan” pada Alkitab terjemahan LAI memberi kesan seolah Matius 1: 1-16 berisi daftar bapak yang menurunkan anak saja, padahal Matius 1: 11 mengisahkan Yosia menurunkan cucunya yang bernama Yekhonya.

ιωσιας δε εγεννησεν τον ιεχονιαν και τους αδελφους αυτου επι της μετοικεσιας βαβυλωνος

Iôsias de egennêsen ton iekhonian kai tûs adelfûs autû hepi tês metoikesias babulônos (Matthew 1:11)

 

Ayat tersebut mengisahkan Yosia menurunkan Yekhonya. Pada saat keturunannya itu lahir, Yosia sudah meninggal dunia.

Hubungan antara Yosia dan Yekhonya adalah leluhur dan keturunan, lebih rincinya, kakek dan cucu (1 Tawarikh 3: 15-16).

Anak-anak Yosia: anak sulung ialah Yohanan, anak yang kedua ialah Yoyakim, anak yang ketiga ialah Zedekia dan anak yang keempat ialah Salum. Keturunan Yoyakim ialah Yekhonya, anaknya itu, dan anak orang ini ialah Zedekia. (1 Tawarikh 3: 15-16)

Daftar silsilah dari 1 Tawarikh 3: 15-16 adalah sebagai berikut:

  • Yosia (kakek)
    • Yohanen (Anak)
    • Yoyakim (Anak)
      • Yekhonya (Cucu)
    • Zedekia (Anak)
    • Salum (Anak)

Yosia memperoleh cucu dari anaknya yang bernama Yoyakim. Cucunya itu bernama Yekhonya. Pada waktu cucunya itu lahir, Yosia telah meninggal dunia. Dengan demikian, terjemahan yang pas untuk kata εγεννησεν ‘egennêsen’ dalam Matius 1: 11 adalah “menurunkan cucu”, bukan “menurunkan anak”.

Yosia menurunkan cucu, Yekhonya dan saudara-saudaranya, pada masa bani Israil dibuang ke Babel (Matius 1: 11)

Yosia mendapat cucu, Yekhonya dan saudara-saudaranya, pada masa bani Israil dibuang ke Babel (Matius 1: 11)

Kata keterangan “pada masa bani Israil dibuang ke Babel” menunjukkan waktu Yosia mendapat keturunan level cucu.

Simpulan

  1. Arti kata “memperanakkan” dalam Matius 1: 1-16 adalah menurunkan.
  2. Kata tersebut bukan hanya berarti menurunkan anak saja, namun juga berarti menurunkan cucu, …. dst hingga generasi keturunan yang tak terbatas.
  3. Terjemahan yang lebih pas ketimbang kata “memperanakkan” adalah “menurunkan” dalam makna “mendapat keturunan”, sebab kata “menurunkan” bermakna lebih luas, bisa berarti menurunkan anak, cucu, cicit, dst hingga generasi tak terbatas, sehingga lebih menggambarkan makna kata  εγεννησεν ‘egennêsen’ yang digunakan dalam Matius 1: 1-16.

1 Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.
2 Abraham menurunkan Ishak, Ishak menurunkan Yakub, Yakub menurunkan Yehuda dan saudara-saudaranya,
3 Yehuda menurunkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres menurunkan Hezron, Hezron menurunkan Ram,
4 Ram menurunkan Aminadab, Aminadab menurunkan Nahason, Nahason menurunkan Salmon,
5 Salmon menurunkan Boas dari Rahab, Boas menurunkan Obed dari Rut, Obed menurunkan Isai,
6 Isai menurunkan raja Daud. Daud menurunkan Salomo dari isteri Uria,
7 Salomo menurunkan Rehabeam, Rehabeam menurunkan Abia, Abia menurunkan Asa,
8 Asa menurunkan Yosafat, Yosafat menurunkan Yoram, Yoram menurunkan Uzia,
9 Uzia menurunkan Yotam, Yotam menurunkan Ahas, Ahas menurunkan Hizkia,
10 Hizkia menurunkan Manasye, Manasye menurunkan Amon, Amon menurunkan Yosia,
11 Yosia menurunkan Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel.
12 Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya menurunkan Sealtiel, Sealtiel menurunkan Zerubabel,
13 Zerubabel menurunkan Abihud, Abihud menurunkan Elyakim, Elyakim menurunkan Azor,
14 Azor menurunkan Zadok, Zadok menurunkan Akhim, Akhim menurunkan Eliud,
15 Eliud menurunkan Eleazar, Eleazar menurunkan Matan, Matan menurunkan Yakub,
16 Yakub menurunkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus. (Matius 1: 1-16)

 

 

Iklan

Kontradiksi semu: Isa/ Yesus ke Mesir atau ke Nazareth?

Disinformasi

Matius 2:1-15 mengatakan, sesudah Yesus dilahirkan maka ia langsung dilarikan bersama ibunya oleh Yusuf ke Mesir sampai raja Herodes mati. Tapi, Lukas 2:6-46 menunjukkan sesudah Yesus dilahirkan, ia dibawa ke Yerusalem kemudian ke Nazareth dan tinggal di sana selama 12 tahun.

Sebenarnya….

Kedua ayat itu seolah-olah berkontradiksi karena diberi tambahan kata “langsung” pada disinformasi itu. Matius tidak menyatakan Isa langsung dibawa ke Mesir setelah lahir. Silakan cek.

Malah, Matius justru menunjukkan, Maria dan Yusuf membawa Isa/ Yesus ke Mesir saat berusia antara beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah kelahiran. Petunjuk ini berasal dari penggunaan kata παιδι ‘paidi’ “anak kecil”, bukan menggunakan kata βρεφος ‘brefōs’ “bayi”. Kata παιδι ‘paidion’ “anak kecil” merujuk kepada anak kecil yang sangat muda,1 berumur 2 tahun ke bawah (Matius 2: 16), namun sudah tidak termasuk βρεφος ‘brefōs’ “jabang bayi”.

Simpulan

  1. Matius 2: 1-15 tidak berkontradiksi dengan Lukas 2: 6-46.
  2. Teknik produksi disinformasi: penambahan kata secara eksplisit ke dalam ayat.

 


Bibliografi

1http://www.studylight.org/lexicons/greek/gwsearch.cgi?w=%CF%80%CE%B1%CE%B9%CE%B4%CE%B9 ; akses 3/5/2015 19:56

2http://www.studylight.org/lexicons/greek/gwview.cgi?n=1025 ; akses 3/5/2015 19:49

Patrilinealisme: Bila adanya anak perempuan tanpa anak laki-laki

Masyarakat Israel kuno menganut sistem kekerabatan patrilineal, di mana anak laki-laki sulung meneruskan silsilah/ klan ayahnya. Pertanyaannya, bagaimaan bila suatu keluarga tidak punya anak laki dan hanya ada anak perempuan saja?

Anak perempuan itu dapat melanjutkan silsilah keluarga sebelum perempuan itu menikah.

Dan kepada orang Israel engkau harus berkata: Apabila seseorang mati dengan tidak mempunyai anak laki-laki, maka haruslah kamu memindahkan hak atas milik pusakanya kepada anaknya yang perempuan. (Bilangan 27:8)

Silsilah keluarga/ klan termasuk dalam pusaka keluarga itu.

Bilangan 36: 8-9 menyebutkan bahwa perempuan yang tidak mempunyai saudara kandung laki-laki dan yang memegang pusaka keluarga hanya diizinkan menikah dengan pria yang satu suku dengan ayahnya.

8  Jadi setiap anak perempuan di antara suku-suku orang Israel yang telah mewarisi milik pusaka, haruslah kawin dengan seorang dari salah satu kaum yang termasuk suku ayahnya, supaya setiap orang Israel mewarisi milik pusaka nenek moyangnya.

9  Sebab milik pusaka itu tidak boleh beralih dari suku ke suku, tetapi suku-suku orang Israel haruslah masing-masing memegang milik pusakanya sendiri.” (Bilangan 36:8-9)

Penyebab anak perempuan penerus keluarga hanya boleh menikah dengan pria satu suku adalah agar milik pusaka tidak berpindah ke suku lainnya. Misal, marga A tergolongan suku Yahudi. Perempuan penerus marga suku A harus menikah dengan orang dari suku Yahudi pula, tidak boleh dengan suku lain (misal, suku Lewi), agar klan/ marga A tersebut tetap termasuk suku Yahudi, bukan kemudian beralih jadi anggota suku Lewi.

Tersirat dalam aturan ini, pusaka keluarga perempuan jatuh pada suami dari si perempuan itu pada saat perempuan pemegang pusaka itu menikah. Dengan demikian, menantu laki-laki dari perempuan penerus klan menjadi anak laki-laki ayah istrinya, sekalipun hanya anak mantu, bukannya anak kandung, karena dia lah yang memegang pusaka keluarga yang semula milik perempuan pemegang pusaka keluarga.

Karena itu, anak mantu yang memikul pusaka keluarga ayahnya dan ayah istrinya masuk ke dalam silsilah klannya dan klan istrinya dan disebut “anak”, sebab dialah yang mengemban pusaka melanjutkan silsilah klan keluarga istrinya.

Patrilinealisme Ibrani kuno pada saat hanya ada anak perempuan saja tanpa ada anak laki-laki.
Patrilinealisme Ibrani kuno pada saat hanya ada anak perempuan saja tanpa ada anak laki-laki.

Bila kemudian keluarga itu punya anak-anak, maka anak laki-laki yang sulung itu mewarisi hak kesulungan dari klan ayah dan hak kesulungan dari klan ibu. Anak sulung tersebut dapat memindahkan hak kesulungan untuk melanjutkan klan ayah atau klan ibu, bila ia punya adik laki-laki. Karena itu, kita dapat melihat dalam Alkitab, satu nama laki-laki dapat mempunyai 1 anak yang melanjutkan klan ayahnya dan 1 anak lagi yang melanjutkan klan ibunya; sementara dia sendiri seolah-olah punya 2 bapak karena dia memegang 2 hak kesulungan untuk melanjutkan klan leluhur, yaitu:

  1. hak kesulungan dia sendiri dari klan ayahnya untuk melanjutkan klan ayahnya.
  2. hak kesulungan dari klan ayah istrinya untuk melanjutkan klan ayah istrinya.

Kita, umat Al-Masih, perlu mengetahui hal ini, sebab ini sebab Yusuf masuk ke dalam silsilah klan keluarga Maria dan disebut “Yusuf anak Eli“. Dengan begitu, hal ini berkaitan erat dengan kisah Natal.

Levirat — Ciri khas patrilinealisme Ibrani kuno

Skema kekerabatan levirat yang menjadi ciri khas patrilinealisme masyarakat Ibrani kuno.
Skema kekerabatan levirat yang menjadi ciri khas patrilinealisme masyarakat Ibrani kuno.

Praktek levirat telah berlangsung dari sebelum jaman Musa. Pada jaman Musa, praktek levirat diinstitusionalisasi dan diatur dalam Taurat (Ulangan 25: 5-10), sehingga dapat diperkarakan secara hukum bila ada yang melanggar.

5 “Apabila orang-orang yang bersaudara tinggal bersama-sama dan seorang dari pada mereka mati dengan tidak meninggalkan anak laki-laki, maka janganlah isteri orang yang mati itu kawin dengan orang di luar lingkungan keluarganya; saudara suaminya haruslah menghampiri dia dan mengambil dia menjadi isterinya dan dengan demikian melakukan kewajiban perkawinan ipar.
6  Maka anak sulung yang nanti dilahirkan perempuan itu haruslah dianggap sebagai anak saudara yang sudah mati itu, supaya nama itu jangan terhapus dari antara orang Israel.
7  Tetapi jika orang itu tidak suka mengambil isteri saudaranya, maka haruslah isteri saudaranya itu pergi ke pintu gerbang menghadap para tua-tua serta berkata: Iparku menolak menegakkan nama saudaranya di antara orang Israel, ia tidak mau melakukan kewajiban perkawinan ipar dengan aku.
8  Kemudian para tua-tua kotanya haruslah memanggil orang itu dan berbicara dengan dia. Jika ia tetap berpendirian dengan mengatakan: Aku tidak suka mengambil dia sebagai isteri  —
9  maka haruslah isteri saudaranya itu datang kepadanya di hadapan para tua-tua, menanggalkan kasut orang itu dari kakinya, meludahi mukanya sambil menyatakan: Beginilah harus dilakukan kepada orang yang tidak mau membangun keturunan saudaranya.
10  Dan di antara orang Israel namanya haruslah disebut: Kaum yang kasutnya ditanggalkan orang.” (Ulangan 25: 5-10)

Patrilinealisme levirat perlu kita pahami, sebab silsilah Isa Al-Masih meliputi orang yang lahir melalui praktek ini. Tanpa memahami hal ini, maka bagian silsilah tersebut dapat seolah berkontradiksi, padahal sebenarnya tidak. Kasus orang dengan levirat akan dibahas secara tersendiri pada judul lain.

Patrilinealisme Ibrani kuno

Masyarakat Ibrani kuno terdiri dari klan-klan keluarga, mirip-mirip dengan marga atau fam dalam sejumlah suku di Indonesia. Mereka berpandangan kontinyuitas klan adalah hal yang betul-betul sangat penting, sampai-sampai hal itu diatur dalam Taurat.

Pada pokoknya, anak laki-laki yang sulung dari istri (bila monogami) atau istri pertama (bila poligami) adalah penerus klan keluarga ayah, bukan penerus klan keluarga ibu.

A. Klan dinilai lebih tinggi daripada properti

Klan adalah pusaka keluarga yang dinilai lebih penting daripada tanah dan bangunan. Dengan mengamati sejarah Israel kuno dalam Alkitab, Anda dapat melihat bagaimana mereka kehilangan tanah, bangunan, dan bahkan seluruh harta, namun mereka tetap mempertahankan harta pusaka berupa klan dan keluarga selama berabad-abad. Mereka lebih memilih kehilangan segala harta mereka ketimbang klan mereka lenyap. Hak melanjutkan klan ayah terangkum dalam hak kesulungan.

B. Hak kesulungan meneruskan klan dapat dipindahkan

Hak anak sulung atau hak kesulungan untuk meneruskan klan ayah ini dapat dipindahtangankan kepada adiknya. Kitab Taurat mencatat, Yakub menerima hak kesulungan yang diremehkan oleh Esau.

31  Tetapi kata Yakub: “Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu.”
32  Sahut Esau: “Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?”
33  Kata Yakub: “Bersumpahlah dahulu kepadaku.” Maka bersumpahlah ia kepada Yakub dan dijualnyalah hak kesulungannya kepadanya. (Kejadian 25: 31-34)

Akibatnya, Yakub menjadi penerus klan Is’haq, sedangkan Esau pergi dari klan Is’haq dan membangun bangsa baru, yaitu: Edom. Walaupun Esau adalah anak sulung biologis Is’haq, dia tidak mewarisi pusaka keluarga berupa hak meneruskan klan Is’haq, karena dia telah menyerahkan hak anak sulung untuk jadi penerus klan Is’haq itu kepada Yakub.

C. Kesukuan ibu tidak berpengaruh.

Istri dari suku atau bangsa apa pun tidak berpengaruh dengan klan anak laki-laki sulung, sebab menurut tradisi patrilineal Ibrani ini, anak laki-laki sulung punya kewajiban melanjutkan klan ayah.

Contoh:

  1. Istri Musa adalah orang Median. Anak-anak Musa dihitung orang Israel, bukan orang Median.
  2. Istri Yusuf adalah orang Mesir. Anak-anak Yusuf dihitung orang Israel, bukan orang Mesir.
  3. Rut, nenek Raja Daud, adalah perempuan Moab (Rut 1: 4), bukan perempuan Israel. Cucu Rut, yaitu Daud, dihitung orang Israel, bahkan jadi Raja Israel dan Nabi. Kisah ini masuk dalam silsilah Isa yang dituliskan sebelum kisah Natal dalam Matius 1.

D. Bila tidak punya anak sama sekali

Levirat
Levirat

Bila suami meninggal dunia tanpa punya anak, maka saudara terdekat menikahi istri dari suami yang meninggal itu. Anak yang lahir dari pernikahan itu dihitung anak dari suami yang telah meninggal. Sehingga, klan yang dilanjutkan anak tersebut bukan klan bapak biologisnya, tapi klan bapaknya yang telah meninggal. Hal ini diistilahkan “levirat“.

D. Bila hanya ada anak perempuan

Bila suatu keluarga hanya punya anak perempuan, maka anak perempuan yang sulung mewarisi pusaka keluarga klan ayahnya. Bila kemudian dia menikah, maka pusaka keluarga tersebut, termasuk hak melanjutkan klan, jatuh pada suami dari perempuan itu (Bilangan 27:8; Bilangan 36: 8-9). Suami dari perempuan itu lantas mempunyai kewajiban untuk meneruskan klan dari istrinya dan juga klan ayahnya. Dalam kasus ini, si suami disebut dengan nama klan ayahnya sendiri dan ayahnya istrinya. Ini dibahas dalam posting “Patrilinealisme Ibrani kuno: Bila adanya anak perempuan tanpa anak laki-laki

E. Keduanya menjadi satu daging

Dalam pandangan Ibrani kuno, suami dan istri itu dihitung sebagai satu-kesatuan, bukan lagi dua. Oleh karena itu, mertua memanggil anak mantu dengan panggilan “Anakku” atau “Nak”, sebagaimana yang tercantum dalam kitab Ruth. Dalam pandangan kebersatuan ini, istri dihitung menyatu dan jadi bagian dari suaminya. Karena itu, Ibrani kuno dalam Alkitab menyebut bahwa anak diperanakkan oleh suami, tapi dilahirkan oleh istri. Di sini, mereka berpandangan bahwa anak itu berasal dari/ keluar dari ayah, sedangkan ibu melahirkan anak itu ke dunia nyata.

Simpulan

  1. Masyarakat Ibrani kuno adalah masyarakat patrilineal, bukan matrilineal.
  2. Patrilinealisme Ibrani ini bertujuan agar seluruh klan Ibrani tetap lestari. Karena itu, muncul keunikan patrilinealisme Ibrani kuno yang membedakannya dari patrilinealisme bangsa-bangsa lain.
  3. Silsilah yang seolah-olah rumit, membingungkan, dan kontradiktif jadi nampak terang, tidak rumit, tidak membingungkan, dan tidak kontradiktif setelah kita memahami mengenai patrilinealisme Ibrani kuno.
  4. Ibrani kuno tidak menerapkan matrilinealisme.

 

DISINFORMASI: Maria orang suku Lewi

Disinformasi

Elizabet adalah wanita keturunan Harun dan menikah dengan Zakharia yang juga keturunan Harun (Lukas 1: 5).

Pada jaman Herodes, Raja Yudea ada seorang Imam bernama Zakharia dari rombongan Abia. Istrinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elizabet (Lukas 1:5)

Maria adalah kerabat Elizabet (Lukas 1: 36).

Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. (Lukas 1: 36)

Maka, Maria (dan juga Yesus anaknya) adalah juga berasal dari suku yang sama, yakni suku Lewi.

Sebenarnya….

Maria itu orang suku Yahudi, mengikuti klan Daud dari garis ayahnya, karena masyarakat Ibrani itu patrilineal(i), bukan matrilienal(i), dan ibu Maria bukan pemegang pusaka penerus klan keluarga.

Kekerabatan Maria-Elisabet. Maria meneruskan klan Daud dari ayahnya, bukan klan Harun dari ibunya.
Kekerabatan Maria-Elisabet. Maria meneruskan klan Daud dari ayahnya, bukan klan Harun dari ibunya.

Disinformasi tersebut menggunakan asumsi implisit bahwa kata “sanak ” itu bermakna saudara kandung dalam keluarga inti, yaitu: kakak-adil. Kenyataannya, kata “sanak” itu berasal dari kata συνγενες “sun-genes” yang berarti saudara dalam keluarga besar, misal, keponakan, sepupu, paman, bibi, uwak, dsj. Elisabet bukan saudara kandung Maria dalam keluarga inti Eli.

Ibrani 7:14 dan Matius 2: 2 menyatakan bahwa Isa Al-Masih bersuku Yehuda/ Yahudi, juga dalam Lukas 1: 32 menyatakan bahwa Isa itu keturunan Daud serta disiratkan sepanjang Lukas 1-3.

Ia akan menjadi besar dan akan disebut Sang Anak yang datang dari Allah Yang Mahatinggi. Allah, Tuhan kita, akan memberikan kepada-Nya takhta Daud, nenek moyang-Nya.(Lukas 1: 32)

dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” (Matius 2:2)

Sudah sangat jelas bahwa Junjungan kita yang hakikatnya Ilahi itu berasal dari suku Yehuda, sedangkan tentang suku ini Musa tidak pernah mengatakan sesuatu pun mengenai imam-imam. (Ibrani 7: 14)

Tiga hal tersebut menunjukkan bahwa silsilah Maria itu dari suku Yehuda, bukan suku Lewi. Ini sesuai dengan masyarakat Ibrani kuno yang patrilineal, seperti yang telah disebutkan di atas.

Hubungan kekerabatan Maria dengan Elisabet terjadi melalui pernikahan, seperti yang telah dibahas dalam posting “Elisabet sepupu Maria“.

Disinformasi tersebut diproduksi dengan mengabaikan patrilinealisme masyarakat Ibrani kuno, melekatkan asumsi keliru dan implisit pada kata “sanak”, dan mengabaikan ayat-ayat dalam Alkitab yang menunjukkan penarikan garis keturunan patrilineal bahwa Maria itu bersuku Yahudi, sama seperti ayahnya.

Simpulan

  1. Secara biologis, Maria dapat disebut “anak Harun” dan “anak Daud”, karena, secara biologis, orangtuanya dari 2 klan tersebut.
  2. Secara silsilah antropologis, Maria adalah anak Daud, anggota suku Yehuda, sebab masyarakat Israel itu patrilineal. Apapun kesukuan ibu tidak menurun pada anak, sebab kesukuan anak diwarisi dari bapak. Umumnya demikian, kecuali bila ibu adalah pemegang pusaka keluarga.
  3. Karena masyarakat Israel itu patrilineal, bukan matrilineal, maka Maria adalah orang suku Yehuda, sama seperti Eli, ayahnya.
  4. Teknik produksi disinformasi:
    1. Mengabaikan ayat-ayat yang menginformasikan bahwa Maria itu orang suku Yahudi.
    2. Mengabaikan patrilinealisme pada masyarakat Ibrani kuno.
    3. Melekatkan asumsi implisit yang salah pada kata “sanak”.

Istilah

(i)Patrilineal: menarik garis keturunan dari pihak ayah.

(ii)Matrilineal: menarik garis keturunan dari pihak ibu.

Kontradiksi semu: Yesus/ Isa keturunan Yehuda atau keturunan Lewi

Disinformasi

Injil menyebutkan :

“Pada jaman Herodes, Raja Yudea ada seorang Imam bernama Zakharia dari rombongan Abia. Istrinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elizabet (Lukas 1:5)

Ini berarti, Elizabet adalah wanita keturunan Harun dan menikah dengan Zakharia yang juga keturunan Harun. Maria adalah kerabat Elizabet (Lukas 1: 36).

Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. (Lukas 1: 36)

Oleh karena itu, Maria (dan juga Yesus anaknya) adalah juga berasal dari suku yang sama, yakni suku Lewi.

Berkontradiksi dengan itu, Lukas 1: 32, Ibrani 7:14, dan Lukas 1-3 menunjukkan bahwa Maria itu suku Yehuda.

Ia akan menjadi besar dan akan disebut Sang Anak yang datang dari Allah Yang Mahatinggi. Allah, Tuhan kita, akan memberikan kepada-Nya takhta Daud, nenek moyang-Nya.(Lukas 1: 32)

Sudah sangat jelas bahwa Junjungan kita yang hakikatnya Ilahi itu berasal dari suku Yehuda, sedangkan tentang suku ini Musa tidak pernah mengatakan sesuatu pun mengenai imam-imam. (Ibrani 7: 14)

Sebenarnya….

Maria bersuku Yahudi mengikuti kesukuan ayahnya yang Yahudi, bukan mengikuti kesukuan ibunya yang Lewi. Sebab, masyarakat Ibrani kuno itu patrilineal, yaitu: menarik garis keturunan dari pihak ayah.

Tentang kesukuan Maria yang mengikuti kesukuan ayah (patrilineal) itu tercakup dalam ayat Ibrani 7:14 yang menyatakan bahwa Isa Al-Masih bersuku Yehuda/ Yahudi dan juga dalam Lukas 1: 32 yang menyatakan bahwa Isa itu keturunan Daud serta disiratkan sepanjang Lukas 1-3.

Sudah sangat jelas bahwa Junjungan kita yang hakikatnya Ilahi itu berasal dari suku Yehuda, sedangkan tentang suku ini Musa tidak pernah mengatakan sesuatu pun mengenai imam-imam. (Ibrani 7: 14)

Ia akan menjadi besar dan akan disebut Sang Anak yang datang dari Allah Yang Mahatinggi. Allah, Tuhan kita, akan memberikan kepada-Nya takhta Daud, nenek moyang-Nya.(Lukas 1: 32)

Kekerabatan Maria dan Elisabet itu dari pihak ibu Maria dan dengan orangtua Elisabet. Ini telah dibahas dalam posting “Elisabet Sepupu Maria“. Ibu Elisabet bukan pemegang pusaka keluarga penerus klan, ditandai dengan dapat menikah dengan orang di luar sukunya. Maka, Maria tidak meneruskan klan ibunya yang Lewi, melainkan meneruskan klan bapaknya yang Yehuda/ Yahudi. Kenapa? Kembali lagi ke awal: sebab masyarakat Ibrani kuno itu patrilineal, yaitu menarik garis keturunan dari pihak ayah.

Kekerabatan Maria-Elisabet. Maria meneruskan klan Daud dari ayahnya, bukan klan Harun dari ibunya.
Kekerabatan Maria-Elisabet. Maria meneruskan klan Daud dari ayahnya yang bersuku Yahudi, bukan klan Harun dari ibunya yang bersuku Lewi.

Jangan lupa, orang Majus mencari Isa, raja Yahudi yang baru lahir, bukan raja Lewi.

dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” (Matius 2:2)

 

Teknik produksi disinformasi

Disinformasi tersebut diproduksi dengan cara mengabaikan latar sosial, tempat, dan waktu; dan teknik ini sangat cocok untuk memengaruhi sasaran yang nol hingga minim pengetahuan tentang masyarakat Ibrani kuno.

Simpulan

  1. Maria meneruskan silsilah klan bapaknya yang Yahudi, bukan meneruskan sisilah ibunya yang Lewi, sebab masyarakat Ibrani kuno itu patrilineal dan ibu Maria bukan pemegang pusaka keluarga penerus klan.
  2. Teknik produksi disinformasi: mengabaikan konteks latar sosial, tempat, dan waktu.

Elisabet sepupu Maria

Injil menyebutkan bahwa Elisabet adalah sanak Maria. Terjemahan ini lebih pas daripada terjemahan dengan kata “saudara”. Sebab, kata “saudara” juga mencakup saudara dalam keluarga inti, sedangkan kata “sanak” hanya mencakup saudara di luar keluarga inti, sehingga lebih sesuai dengan kata συνγενες ‘sun-genes’.

Dan sesungguhnya, Elisabet, sanak (συνγενες ‘sun-genes’)-mu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. (Lukas 1: 36)

Kata συνγενες ‘sun-genes’ berasal dari kata συν ‘sun’ “bersama dengan” dan kata γενες ‘genes’ “keluarga, keturunan”. Sehingga, kata “συνγενες” ‘sun-genes’ secara literal berarti orang-orang yang bersama dengan keluarga/ keturunan, yaitu: kerabat/ sanak, saudara di luar keluarga inti, saudara dalam keluarga besar. Kata ini mencakup keponakan, bibi/ tante, paman, sepupu, baik yang dekat maupun yang jauh hubungannya dengan keluarga inti. Opsi paman tersingkir karena Elisabet itu perempuan.

Elisabet adalah συνγενες ‘sun-genes’ Maria, artinya, Elisabet adalah kerabat atau sanak Maria, bukan saudara kandung dalam keluarga inti Maria. Di sini kita mempunyai 4 petunjuk mengenai hubungan kekerabatan Maria-Elisabet.

  1. Kerabat atau sanak, yaitu saudara di luar keluarga inti, bukan saudara kandung.
  2. Selisih umur antara Maria dan Elisabet berada pada kisaran 50 tahun, jauh lebih tua Elisabet (Lihat posting berjudul “Usia saat Maria menikah” dan “Umur Zakharia“). Ini memperkuat pandangan bahwa Elisabet adalah sanak Maria, bukan saudara kandung Maria, pada poin 1 di atas.
  3. Elisabet adalah keturunan Harun (Lukas 1:5)

    Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet. (Lukas 1: 5)

  4. Maria adalah keturunan Daud (Lukas 1: 32, Ibrani 7:14)

    Ia akan menjadi besar dan akan disebut Sang Anak yang datang dari Allah Yang Mahatinggi. Allah, Tuhan kita, akan memberikan kepada-Nya takhta Daud, nenek moyang-Nya.(Lukas 1: 32)

    Sudah sangat jelas bahwa Junjungan kita yang hakikatnya Ilahi itu berasal dari suku Yehuda, sedangkan tentang suku ini Musa tidak pernah mengatakan sesuatu pun mengenai imam-imam. (Ibrani 7: 14)

Mengingat Elisabet adalah keturunan Harun (garis silsilah ayah), Maria adalah keturunan Daud (garis silsilah ayah), dan mereka berkerabat, maka pernah terjadi pernikahan antarsuku dalam silsilah Maria atau silsilah Elisabet.

Menimbang faktor selisih umur sekitar 50 tahun antara Maria dan Elisabet, maka pernikahan antarsuku tersebut terjadi pada orangtua Maria, yaitu: Eli menikah dengan perempuan dari keturunan Harun. Elisabet adalah anak dari kakaknya ibu Maria.

Kekerabatan Maria-Elisabet. Elisabet sepupu Maria.
Hubungan kekerabatan Elisabet dan Maria: Elisabet adalah sepupu Maria.

Dengan demikian, Elisabet adalah sepupu Maria. Hal ini perlu kita ketahui sehubungan dengan peristiwa Natal atau Milad Al-Masih.

Dipandang dari garis keturunan ibu, Maria adalah keturunan Harun atau anak Harun. Namun, masyarakat Ibrani adalah masyarakat patrilineal, sehingga kesukuan Maria dihitung dari pihak ayah, bukan dari pihak ibu. Itu sebabnya Alkitab menyebut Maria bersuku Yehuda, bukan bersuku Lewi.

Terjemahan dengan kata “sepupu” telah digunakan dalam Alkitab terjemahan King James Version (KJV). Hal ini mengindikasikan tim penerjemah KJV menelusuri petunjuk seperti yang diuraikan di atas.

Simpulan

  1. Hubungan kekerabatan antara Maria dan Elisabet adalah sepupu.
  2. Maria dihitung bersuku Yehuda karena masyarakat Ibrani kuno adalah masyarakat patrilineal yang menarik garis keturunan dari pihak ayah, bukan dari pihak ibu, jika ibunya bukan pemegang pusaka keluarga.
  3. Dari garis keturunan pihak perempuan, Maria adalah keturunan Harun. Ibu Maria bukan pemegang pusaka keluarga untuk meneruskan klan, sehingga Maria melanjutkan klan ayah, yaitu klan Daud, yang bersuku Yahudi, bukan klan ibu, yaitu klan Harun, yang bersuku Lewi.

 

 

Kontradiksi semu: perawan atau perempuan muda

Disinformasi

Kata “Perawan” pada Yesaya 7: 14 dapat kita temukan di terjemahan King James Version telah diganti dengan kata “a young woman – perempuan muda” dalam terjemahan Revised Standard Version. Kata “perempuan muda” ini memang lebih cocok terjemahannya dari kata bahasa Ibrani “Almah”. Almah adalah kata yang selalu muncul di setiap Bibel yang berbahasa Ibrani, bukan “Bethulah” yang berarti “perawan”.

Therefore the Lord himself shall give you a sign: Behold, a Virgin shall conceive, and bear a son, and shall call his name Immanuel.” (Isaiah 7 :14, terjemahan King James Version)

Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: sesungguhnya seorang perawan akan me­ngandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan ia akan menamakan Imanuel. (Yesaya 7 : 14)

Sebenarnya….

Perawan.

Mari simak nalar bahwa “perawan” adalah terjemahan yang lebih tepat ketimbang terjemahan “perempuan muda”.

Uraian

Kata yang dipermasalah adalah kata עַלְמָה ‘`alәmāh’, yaitu: mengapa עַלְמָה ‘`alәmāh’ dan bukannya בְּתוּלָה ‘bәtûlāh’ kalau memang yang dimaksud adalalah seorang perawan.

Kata בְּתוּלָה ‘bәtûlāh’ berarti

  1. perawan
  2. seorang yang hidup terpisah di rumah ayahnya sebagai seorang perawan

Kata בְּתוּלָה ‘bәtûlāh’ “perawan” dalam makna ini hanya dikenakan kepada para wanita yang belum menikah atau tidak menikah, misalnya saja dalam Imamat 21:14. Setelah menikah, dia tidak lagi disebut בְּתוּלָה ‘bәtûlāh’, andai pun dia masih perawan. Kata בְּתוּלָה ‘bәtûlāh’ merujuk kepada perempuan yang belum menikah atau yang tidak menikah dan yang belum pernah bersetubuh.

Diagram waktu untuk kata בְּתוּלָה ‘bәtûlāh’ ini adalah sebagai berikut:

Diagram waktu makna betulah ini mengilustrasikan, sebutan betulah pada perempuan berhenti pada saat dia bersetubuh atau menikah, sekalipun  tidak bersetubuh dalam pernikahan itu.
Diagram waktu makna betulah ini mengilustrasikan, sebutan betulah pada perempuan berhenti pada saat dia bersetubuh atau menikah, sekalipun tidak bersetubuh dalam pernikahan itu.

Saat Maria melahirkan Isa, Maria telah menikah dengan Yusuf. Maka, Maria bukan  בְּתוּלָה ‘bәtûlāh’ karena dia telah menikah, walau pun Maria masih perawan saat melahirkan Isa Al-Masih, yang kita peringati setiap Natal 25 Desember.

Kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi Maria itu tercantum dalam Yesaya 7:14, yaitu: עַלְמָה ‘`alәmāh’. Makna leksikal kata עַלְמָה ‘`alәmāh’ adalah:

  1. Perawan
  2. Wanita muda, gadis
  3. Gadis yang berada pada usia menikah
  4. Wanita muda yang baru menikah
  5. Tidak ada contoh kasus kata ini digunakan untuk menyebut gadis yang tidak perawan

Walaupun sudah menikah, kalau masih perawan, maka perempuan tersebut masih dapat disebut עַלְמָה ‘`alәmāh’. Diagram waktu untuk menggambarkan kata ini adalah sebagai berikut:

Sekalipun telah menikah, kalau belum bersetubuh, maka perempuan masih almah (perawan).
Sekalipun telah menikah, kalau belum bersetubuh, maka perempuan masih עַלְמָה ‘`alәmāh’ (perawan).

Pada sekitar abad 2 SM, atau sekitar 200 tahun sebelum kelahiran Isa Al Masih, 72 tua-tua Israil menterjemahkan Alkitab bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani. Alkitab ini dikenal dengan nama Septuaginta atau LXX. Ratusan tahun sebelum kelahiran Isa Al Masih, para tua-tua Israil tersebut menterjemahkan kata עַלְמָה ‘`alәmāh’ dengan kata παρθενος ‘parthenos’.

δια τουτο δωσει κυριος αυτος υμιν σημειον ιδου η παρθενος εν γαστρι εξει και τεξεται υιον και καλεσεις το ονομα αυτου εμμανουηλ

dia tūto dōsī kurios awtos humin sēmīon idū he parthenos en gastri eksī kay teksetay vion kay kalesīs to onoma awtū emmanūēl

Arti kata παρθενος ‘parthenos’ adalah perawan.

Bandingkan kata παρθενος ‘parthenos’ yang digunakan oleh 72 tetua Israil itu dengan kata παρθενος ‘parthenos’ yang digunakan dalam Matius 1: 23:

ιδου η παρθενος εν γαστρι εξει και τεξεται υιον και καλεσουσιν το ονομα αυτου εμμανουηλ ο εστιν μεθερμηνευομενον μεθ ημων ο θεος

idū hē parthenos en gastri eksī kay teksetay vion kay kalesūsin to onoma awtū emmanūēl ho estin methermēniuomenon meth hēmōn ho theos (Injil, Matius 1:23)

Simpulan

  1. Sesuai dengan Septuaginta dan Textus Receptus, terjemahan yang tepat untuk menggambarkan kondisi Maria adalah kata παρθενος ‘parthenos’ “perawan” dengan nuansa makna perempuan yang berusia muda (bukan perawan tua) dalam makna עַלְמָה ‘`alәmāh’, bukan dalam makna בְּתוּלָה ‘bәtûlāh’.
  2. Teknik produksi disinformasi: memanfaatkan celah terjemahan.

 

Kontradiksi semu: Yusuf anak Eli dalam silsilah Maria

Disinformasi

Lukas 3: 23-31 bukan garis Maria, buktinya, dalam ayat 23 jelas tertulis “Yusuf, anak Eli”, bukan “Maria, anak Eli”. Ada yang bilang, anak di situ dalam arti anak mantu. Jelas ini pembohongan karena kata “anak” dan kata “anak mantu” punya makna yang berbeda.

Sebenarnya….

Hal itu disebabkan oleh patrilinealisme khas Ibrani yang tercantum dalam Taurat.

Mari kita lihat bukti-bukti Alkitab mengenai silsilah Maria yang terkait erat dengan peristiwa Natal alias Milad Al-Masih ini.

A. Masyarakat Ibrani Kuno itu Patrilineal(i)

Masyarakat Israel kuno menganut sistem kekerabatan patrilineal. Kekhususan patrilinealisme masyarakat Ibrani kuno yang membedakannya dari patrilinealisme bangsa-bangsa lain adalah: jika suatu keluarga tidak mempunyai anak laki-laki dan hanya mempunyai anak perempuan, maka anak perempuan itu dapat melanjutkan silsilah keluarga sebelum perempuan itu menikah.

Dan kepada orang Israel engkau harus berkata: Apabila seseorang mati dengan tidak mempunyai anak laki-laki, maka haruslah kamu memindahkan hak atas milik pusakanya kepada anaknya yang perempuan. (Bilangan 27:8)

Bilangan 36: 8-9 menyebutkan bahwa perempuan yang tidak mempunyai saudara kandung laki-laki dan yang memegang pusaka keluarga hanya diizinkan menikah dengan pria yang satu suku dengan ayahnya.

8  Jadi setiap anak perempuan di antara suku-suku orang Israel yang telah mewarisi milik pusaka, haruslah kawin dengan seorang dari salah satu kaum yang termasuk suku ayahnya, supaya setiap orang Israel mewarisi milik pusaka nenek moyangnya.

9  Sebab milik pusaka itu tidak boleh beralih dari suku ke suku, tetapi suku-suku orang Israel haruslah masing-masing memegang milik pusakanya sendiri.” (Bilangan 36:8-9)

Penyebab anak perempuan penerus keluarga hanya boleh menikah dengan pria satu suku adalah agar milik pusaka tidak berpindah ke suku lainnya. Misal, marga A tergolongan suku Yahudi. Perempuan penerus marga suku A harus menikah dengan orang dari suku Yahudi pula, tidak boleh dengan suku lain (misal, suku Lewi), agar marga A tersebut tetap termasuk suku Yahudi, bukan kemudian beralih jadi anggota suku Lewi.

Dari aturan ini, kita mengetahui bahwa pusaka keluarga perempuan jatuh pada suami dari si perempuan itu pada saat perempuan pemegang pusaka itu menikah. Dengan demikian, menantu laki-laki dari perempuan penerus klan menjadi anak laki-laki ayah istrinya, sekalipun hanya anak mantu, bukannya anak kandung, karena dia lah yang memegang pusaka keluarga yang semula milik perempuan pemegang pusaka keluarga.

Karena itu, dalam masyarakat Ibrani kuno, anak mantu yang mewarisi pusaka keluarga istrinya juga dapat disebut “anak”, sebab dialah yang mengemban pusaka melanjutkan silsilah keluarga istrinya.

Sistem kekeluargaan patrilineal Ibrani kuno beserta kekhususannya yang tercermin dalam Alkitab membuat nama yang ditulis dalam garis silsilah pihak perempuan adalah suami dari perempuan itu. Kalau pun perempuan itu dituliskan dalam silsilah patrilineal, maka kedudukannya sebagai pendamping pria.

Patrilineal Ibrani Kuno
Patrilineal Ibrani Kuno yang tercantum dalam Taurat, yaitu: Bilangan 27: 8 dan Bilangan 36:8-9.

B. Aplikasi Pada Kasus Maria

Maria adalah anak perempuan Eli. Eli tidak punya anak laki-laki. Karena itu, saat Eli meninggal dunia, Maria mewarisi pusaka keluarga Eli. Berdasarkan syari’at Taurat yang telah dijabarkan di atas, maka, sebelum menikah, Maria disebut Maria anak Eli. Pusaka keluarga yang diwarisi oleh anak perempuan bukan hanya tanah, namun juga pusaka penerus silsilah keluarga, agar garis keturunan klan/ marga/ fam tidak terputus.

Sebagai perempuan pemegang pusaka keluarga, Maria hanya dapat menikah dengan pria yang satu suku dengan ayahnya.Yusuf orang Yahudi. Eli orang Yahudi. Keduanya menikah sesuai Taurat.

Berdasarkan syari’at Taurat, pusaka keluarga Maria jatuh pada Yusuf. Termasuk dalam pusaka itu adalah pusaka meneruskan klan Eli. Maka, tugas meneruskan klan Eli beralih dari Maria ke Yusuf. Dengan demikian, menantu laki-laki dari perempuan penerus klan menjadi anak laki-laki ayah istrinya, sekalipun hanya anak mantu, bukannya anak kandung, karena dia lah yang memegang pusaka keluarga yang semula milik perempuan pemegang pusaka keluarga. Setelah Maria menikah, maka, dalam catatan silsilah Israel, Maria tidak lagi disebut Maria bin Eli. Berhubung pusaka meneruskan klan sudah pindah ke Yusuf, suami Maria, maka kemudian Yusuf disebut Yusuf bin Eli.

Karena itu, Yusuf yang mewarisi pusaka keluarga Maria juga dapat disebut “anak”, sebab dialah yang mengemban pusaka melanjutkan silsilah keluarga Maria.

Sistem kekeluargaan patrilineal Ibrani kuno beserta kekhususannya yang tercermin dalam Alkitab membuat nama yang ditulis dalam garis silsilah Maria adalah suami Maria, yaitu: Yusuf. Sebab Yusuf mengemban pusaka keluarga untuk melanjutkan marga/ klan/ fam Eli.

Simpulan

  1. Silsilah dalam Lukas menyebut “Yusuf anak Eli”, bukan “Maria anak Eli” sebab Maria telah menyerahkan pusaka keluarga, termasuk pelanjutan klan, kepada Yusuf, sesuai syari’at Taurat dalam Bilangan 27: 8 dan Bilangan 36:8-9.
  2. Teknik produksi disinformasi:
    1. Mengabaikan ayat-ayat dalam Taurat
    2. Melepaskan teks dari latar sosial, tempat, dan waktu.
    3. Memanfaatkan kesenjangan latar tersebut.
    4. Menuduh pihak lain berbohong untuk menutupi kebohongan dalam disinformasi tersebut.

 


 Istilah

(i)Patrilineal adalah suatu adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ayah.