Arsip Kategori: Asal-usul pohon Natal

Fitnah: Drama Natal ditambahkan ke pemujaan pohon Cemara

Fitnah

Di Jerman, tumbuhan hijau dipercaya melambangkan keabadian hidup. Maka Cemara, yang juga tumbuh di Musim dingin, dipuja sebagai lambang keabadian. Gereja skandinavia kemudian mengubah perayaan ini menjadi tradisi gereja dengan menambah adegan drama natal.

Sebenarnya….

Bukti sehubungan dengan Drama Mystery(i), yang didalamnya mencakup Drama Firdaus, menyajikan 2 realitas yang berbeda di hadapan kita:

  1. Drama Keajaiban yang dipentaskan oleh guild profesional.
  2. Drama Keajaiban yang dipentaskan oleh para petani desa.

1. Pentas oleh guild drama profesional

Bukti menunjukkan, Mystery Play (Drama Mystery)(i), termasuk di dalamnya Drama Firdaus, yang dipentaskan oleh guild drama profesional di kota-kota besar Eropa pada jaman abad pertengahan tidak menggunakan Pohon Cemara sebagai properti panggung atau malah sepenuhnya tidak menggunakan properti pohon. Perhatikan lukisan pementasan Drama Mystery di kota Flanders, Belgia, pada abad pertengahan berikut ini.

Lukisan mengenai situasi pentas Drama Keajaiban di Flanders, Belgia, abad 15 Masehi.
Lukisan mengenai situasi pentas Drama Mystery di Flanders, Belgia, abad 15 Masehi. Seluruh bagian Drama Mystery, termasuk bagian Drama Firdaus, memakan waktu 20 jam bila dipentaskan non-stop. Bisa pula dipentaskan secara bersambung yaitu per bagian drama per hari. Pentas oleh guild drama profesional tidak menampilkan properti pohon Firdaus.

 

2. Pentas oleh para petani pedesaan

Bukti pohon Natal sebagai properti panggung ditemukan pada pentas oleh para petani desa. Sebelum terkenal, mereka hanya mementaskannya di desa mereka sendiri.

Bukti drama abad pertengahan yang masih lestari hingga didokumentasikan pada abad 19 dan 20 M adalah Drama Firdaus dari desa Oberufer di Hungaria dan Drama Firdaus dari desa Český Krumlov di Republik Cheko. Dalam drama tradisional ini, tradisi menggunakan pohon Junifer (sejenis Cemara) sebagai properti panggung Drama Firdaus telah dipelihara sejak abad pertengahan, pertama kali Drama Firdaus dipentaskan di desa-desa tersebut.

Adegan dalam drama Firdaus.
Adegan dalam Drama Firdaus Oberufer direproduksi pada abad 21 Masehi.

Berkaitan dengan latar belakang pemain drama

Bukti-bukti ini menandakan penggunaan pohon sebagai properti panggung berkaitan dengan para pelaku pementasan.

Pelaku pentas guild profesional, semacam rombongan drama keliling, tidak menggunakan pohon jenis Cemara sebagai properti pentas.

Sementara itu, pelaku drama petani pedesaan menggunakan pohon sungguhan untuk menggambarkan Pohon Pengetahuan. Mereka tinggal mencabut pohon muda dari alam, menebang pohon yang sudah agak besar dari alam, atau, bila pentas di alam terbuka, mereka tinggal memanfaatkan pohon di sekitar mereka pentas.

Drama Firdaus (Paradise Play) masih bertahan di Český Krumlov, Czechoslovakia, dari tahun 1290, pertama kali drama ini masuk ke daerah ini,  hingga tahun 1912. Di bawah pemerintahan komunis, drama ini dihentikan tahun 1948, namun hidup lagi tahun 1989 setelah komunisme runtuh.1 Berkat dokumentasi terhadap drama ini sebelum pelarangan, maka diketahui bahwa pohon Natal ternyata bersumber dari properti drama ini.
Pentas di alam oleh para petani desa memanfaatkan tumbuhan di sekitarnya sebagai properti panggung Drama Firdaus. Drama Firdaus ini didokumentasikan di desa Český Krumlov pada abad 19 Masehi akhir.

Perbedaan properti antarpelaku drama nampak berkaitan dengan kefamiliaran para pelaku dengan tumbuhan dan penghayatan iman alkitabiah mereka dalam kaitannya dengan tanaman yang ada di sekitar hidup keseharian mereka.

Penghayatan iman dalam Drama Mystery versi petani desa nampaknya lebih disukai, bila kita menimbang properti pohon Juniver atau sejenisnya yang berperan sebagai Pohon Pengetahuan (Pohon Khuldi) kemudian sangat populer dan masuk ke dalam istana raja.

Saat ini, Drama Mystery versi para petani desa Oberufer masih terpelihara dan telah dibukukan. Drama Mystery versi guild juga masih dilestarikan dan dipentaskan 4 tahun sekali, misal, di kota kuno York, Inggris.

Drama Firdaus dari abad pertengahan dipentaskan kembali pada abad 21 M. Pohon Firdaus pada drama ini tidak dibuat dari pohon jenis Cemara, namun fungsinya sama yaitu untuk menggantungkan buah Pengetahuan (versi Arabnya, buah Khuldi). Biasanya, buah apel berperan sebagai buah Pengetahuan.
Drama Firdaus dari abad pertengahan dipentaskan kembali pada abad 21 M di York, Inggris. Pohon Firdaus pada drama ini tidak dibuat dari pohon jenis Cemara, namun fungsinya sama yaitu untuk menggantungkan buah Pengetahuan (versi Arabnya, buah Khuldi). Biasanya, buah apel berperan sebagai buah Pengetahuan.

Simpulan

Bukti menunjukkan bahwa:

  1. Penggunaan pohon oleh para pelaku petani desa berkaitan dengan penghayatan iman mereka dalam hubungannya dengan tumbuhan yang ada di alam sekitar para petani itu.
  2. Sehubungan dengan penghayatan iman dan penghayatan lingkungan alam itu, para petani desa menggunakan pohon hijau untuk menggambarkan Pohon Pengetahuan atau, versi Arabnya, Pohon Khuldi, dalam drama yang mereka pentaskan.
  3. Penggunaan pohon sejenis Cemara dalam Drama Firdaus tidak berasal dari tradisi pagan.

Bibliography

1http://www.flickr.com/photos/britishlibrary/11182071353/; access May 25, 2015

2http://nosmut.com/Mystery_play.html; access May 25, 2015

3http://www.express.co.uk/entertainment/theatre/489663/York-Mystery-Plays-review; access May 26, 2015

Catatan

(i)Kata “mystery” pada jaman dulu berarti ministry (pelayanan) pada jaman sekarang dan tidak berarti misteri. Ada pergeseran makna pada kata “mystery” dalam 5 abad, sehingga sekarang kata ini berarti misteri/ gaib/ teka-teki.

 

Iklan

Apakah Tuhan punya Pohon Natal?

Soal

Apakah Tuhan punya pohon Natal?

Jawab

Ya. Dia bukan hanya punya pohon Natal, tapi juga punya segala macam pohon, rumah, tanah, bumi, udara, langit, air, segala hasil produksi manusia…. dst.

Segala sesuatu adalah milik Tuhan.


Version

English | Bahasa Indonesia

 

Apa kata Alkitab tentang pohon Natal?

Soal

Apa kata Alkitab tentang Pohon Natal?

Jawab

Alkitab tidak mengatakan apa-apa tentang pohon Natal.

Namun, Alkitab menyebut tentang pohon Pengetahuan. Pohon Pengetahuan ini di kemudian hari diperankan oleh Pohon Firdaus alias Pohon Natal dalam drama populer abad pertengahan yang disebut Drama Firdaus.

Lalu TUHAN ALLAH menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. (Genesis 2: 9)

Pohon Pengetahuan adalah asal mula dari Pohon Natal.


Version

English | Bahasa Indonesia

Dari mana datangnya ide Pohon Natal?

Soal

Dari mana datangnya ide Pohon Natal?

Jawab

Ide pohon Natal datang dari Kejadian 2: 9 dalam pentas drama Firdaus di pedesaan Hungaria pada abad pertengahan.

Lalu TUHAN ALLAH menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. (Kejadian 2: 9)

Pohon Natal dulunya dikenal dengan nama Pohon Firdaus yang menggambarkan Pohon Pengetahuan (Kejadian 2: 9) dalam drama Firdaus yang berasal dari abad pertengahan.

Berdasarkan drama Firdaus abad pertengahan yang masih bertahan di Oberufer, Karl Julius Schröer (1825-1894) menyarankan bahwa drama ini masuk ke Jerman dari Hungaria, selanjutnya Jerman menyebarkannya ke seluruh dunia.

Maka, Pohon Natal atau Pohon Firdaus pun berasal dari Hungaria. Setelah Pohon Natal jadi kebiasaan pribumi Jerman, Jerman memainkan peran sentral dalam menyebarkan pohon Natal ke seluruh dunia.


Version

English | Bahasa Indonesia

 

Kenapa orang menghias Pohon Natal?

Soal

Kenapa orang menghias Pohon Natal?

Jawab

Karena senang.

Bagi orang biasa, menghias Pohon Natal itu kegiatan bermain-main dengan anak, menghibur anak atau menghibur diri mereka sendiri, dan untuk menghias rumah mereka dengan mainan itu agar beda dari hari-hari biasa. Ingat, bukti-bukti sejarah menunjukkan pohon Natal adalah mainan kanak-kanak, sarana hiburan, dengan tanpa atau sedikit signifikansi keagamaan.

Gambar karya Homer Windslow dari tahun 1858 menggambarkan acara Natalan di Amerika Serikat pada masa itu. Ilustrasi ini menggambarkan pohon Natal adalah bagian dari permainan kanan-kanak.
Gambar karya Homer Windslow dari tahun 1858 menggambarkan acara Natalan di Amerika Serikat pada masa itu. Ilustrasi ini menggambarkan pohon Natal adalah mainan kanak-kanak dan bagian dari permainan kanan-kanak untuk menghibur dan menyenangkan mereka.

Namun, bagi orang-orang yang banyak berpikir, menghias pohon Natal bukan hanya untuk bermain dan menghibur, namun juga untuk mengingat kisah mengenai taman Firdaus dalam Kejadian 2. Asal mula pohon Natal adalah pohon Firdaus atau Pohon Pengetahuan (Kejadian 2: 9) atau, versi Arabnya, pohon Khuldi dalam Drama Firdaus dari abad pertengahan yang dimainkan di seputar Natal.

 Lalu TUHAN ALLAH menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. (Genesis 2: 9)

 


Version

English | Bahasa Indonesia

Pohon Natal menggambarkan apa?

Soal

Pohon Natal menggambarkan apa?

Jawab

Bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa Pohon Natal adalah mainan kanak-kanak dan sarana hiburan untuk anak-anak.  Pada mulanya, mainan Pohon Natal itu peralatan panggung drama abad pertengahan yang dulu sangat populer di Eropa, yaitu Drama Firdaus, yang dimainkan menjelang Natal. Dalam drama itu, pohon Natal berperan sebagai Pohon Pengetahuan atau, versi Arabnya, pohon Khuldi.

Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. (Genesis 2: 9)

Pohon Pengetahuan tentu menarik dan indah, karena Hawa dan Adam sangat tertarik dengan pohon itu. Karena itu, orang bermain-main mendekorasi pohon Natal sehingga nampak indah.


Version

English | Bahasa Indonesia

 

Homer Windslow (1858): Pohon Natal – mainan untuk menyenangkan anak-anak

Gambar karya Homer Windslow dari tahun 1858 menggambarkan acara Natalan di Amerika Serikat pada masa itu. Ilustrasi ini menggambarkan pohon Natal adalah bagian dari permainan kanan-kanak.
Gambar karya Homer Windslow dari tahun 1858 menggambarkan acara Natal di Amerika Serikat pada masa itu. Ilustrasi ini menggambarkan pohon Natal adalah bagian dari permainan kanan-kanak untuk menyenangkan anak-anak.

Bibliografi

1https://www.flickr.com/photos/24029425@N06/5727552877; akses 14/5/2015; 17: 04

Haruskah kita punya Pohon Natal?

Soal

Haruskah kita punya Pohon Natal?

Jawab

Terserah Anda.

Alkitab tidak mengharuskan dan tidak melarang Anda membeli mainan kanak-kanak Pohon Natal ini.

Gambar karya Homer Windslow dari tahun 1858 menggambarkan acara Natalan di Amerika Serikat pada masa itu. Ilustrasi ini menggambarkan pohon Natal adalah bagian dari permainan kanan-kanak.
Gambar karya Homer Windslow dari tahun 1858 menggambarkan acara Natalan di Amerika Serikat pada masa itu. Ilustrasi ini menggambarkan pohon Natal adalah bagian dari permainan kanan-kanak.

Yeremia 10:1-16 adalah tentang Baal, bukan mainan Pohon Natal. Yesaya 44 adalah tentang berhala, bukan mainan Pohon Natal. Mainan Pohon Natal ini awalnya adalah peralatan panggung drama Firdaus. Pohon ini aslinya bernama Pohon Firdaus, yaitu Pohon Pengetahuan atau, bahasa Arabnya, Pohon Khuldi. Tidak ada bukti bahwa Pohon Firdaus atau Pohon Natal ini punya hubungan kausal dengan kebiasaan pagan, andai ada kebiasaan pagan itu terbukti ada. Jadi, hubungan kausal yang ditarik tanpa bukti adalah sesat nalar post hoc ergo propter hoc. Nyatanya, Pohon Firdaus tidak ada hubungannya dengan kebiasaan pagan apa pun.

Pohon Natal awal 1870an: Mainan untuk menyenangkan anak-anak

Catatan mengenai Natal di Amerika Serikat dasawarsa 1870an Masehi ini mengisahkan peran pohon Natal sebagai mainan untuk menyenangkan anak-anak dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan pagan.

Christmas evening was clear and beautiful. All day long the teacher and his aids were at the schoolhouse arranging the tree, the evergreen decorations, and receiving those who came on business.

Did you ever witness the delight of a lot of children on their view of a Christmas tree? If not, I am sorry for you.

At “early candle light” the sleigh bells began to ring up their merry loads. The schoolhouse was crowded to an overflow. Of course the tree committee had its heaviest work at the last minute.

Catatan ini diterbitkan tahun 1948 dalam buku berjudul “The frontier holiday : being a collection of writings by Minnesota pioneers who recorded their divers ways of observing Christmas, Thanksgiving and New Year’s1. Buku ini bagian dari koleksi Perpustakaan Universitas Illinois, AS. Sebelum diterbitkan jadi buku, catatan ini pernah terbit dalam Fairmont Daily Sentinel.2

Berikut catatan sejarah itu selengkapnya (The frontier holiday : being a collection of writings by Minnesota pioneers who recorded their divers ways of observing Christmas, Thanksgiving and New Year’s. Minnesota: North Central Publishing Company, St. Paul, 1948, pp. 24-29).

It was a very commonplace neighborhood. It was composed of the families of hard working farmers, and had hardly emerged from the chrysalis “frontier.” Going to the school house on Sabbath afternoons to hear some minister from town preach upon the sins of Free Masonry or the evils of too luxurious living, was about their only recreation. As Christmas drew near, the little ones would canvass the prospect of getting their stockings filled by Santa Claus, and thrifty papas would remind the eager darlings that it had been a bad year for Santa Claus’s business; that they had heard that he was near stopping his business and closing out at auction, and other nonsense of this same kind.

How it ever come about I am sure I cannot tell. It was arranged to have a Christmas tree at the school house.

The most of the children had never seen a real Christmas tree. The idea started between the teacher and two or three ladies–perhaps it was evolved by some sort of mental spontaneous combustion. It was spoken of only a week before Christmas. The weather was so bad–snowy and blustering–that no committees could get their heads together for consultation; but during that week after school hours, the fine floury snow of Minnesota was melted off the trim overcoat of “our teacher” beside nearly every hot stove in his school district.

The snow was melted off the trim overcoat of “our teacher”beside nearly every hot stove in his school district.
And here I must explain who “our teacher” was, and then you will better understand his interest in the matter. He belonged to the neighborhood. He had grown up with the young people–had received his education at the school house where he was now teaching–barring a few terms away at college. He was much a favorite with the parents that he could have had the school whenever he wished it, at the highest price going. He petted the little boys as though every little cub was his brother, and he was the idol of the sweetest bevy of maidens under ten years of age, that ever graced a country neighborhood. Said he, in a general summing up of the undertaking: “We are all in the same boat, there will be no costly presents to disturb the harmony. If we can give the little ones a good time, the rest of us will certainly be happy. The large boys have chipped in to get a barrel of apples, and I think we are sure of pleasant evening.” When they struck that barrel of apples they were sure of one element of success–a crowd. A “barrel of apples” is an inducement beyond the power of the average Minnesotan to resist.

So it was a settled thing about the tree. Then every mother laid her plans to help Santa Claus. As I said before, consultation was impossible, so Mrs. H. counted up the little children who sure to be there, and found than they numbered twenty. So that every child should certainly have something, she cut twenty stockings out of blue mosquito netting, made them neatly and wrote each child’s name and fastened it to the stocking, and then made a few extra ones for any extra children that might happen to come.

Mrs. S., with the same thoughtful purpose, counted also, and made twenty little stockings and a few extra ones, and pinned on the names with only this different–the mosquito bar was pink. Mrs. P., not knowing the counting and planning going on at the snow-bound neighbors, counted also, and made neat little white bags with fancy strings for twenty. Mrs. L. did the same thing. So you can see for yourself that the thing was a success from the start. But wait, the teacher has not done all of his part yet. Fearing that some might be slighted or overlooked by the saint, in a crowded house, he went to town counting as he rode along, up to twenty, and he invested in twenty toys.

How many mothers set the children to popping corn, each one fancying she was the only one who possessed any, or the knowledge necessary to make it into balls. There were certainly bushels of it piled up under the tree in pans and baskets, in the shape of balls. When every available use had been made of the dry corn, even to filling new boots with it, the remainder was tied up in a cloth flour sack, the name of a very good natured man written on it, and hung up to the stovepipe.

Christmas evening was clear and beautiful. All day long the teacher and his aids were at the schoolhouse arranging the tree, the evergreen decorations, and receiving those who came on business.

Did you ever witness the delight of a lot of children on their view of a Christmas tree? If not, I am sorry for you.

At “early candle light” the sleigh bells began to ring up their merry loads. The schoolhouse was crowded to an overflow. Of course the tree committee had its heaviest work at the last minute. Then while the teacher ran home to wash off the perspiration and get on a clean collar, we had time to look around.

A brighter, prettier tree we never saw, although we have looked on thos of ten times the value. It was a graceful red cedar well lighted with candles and well loaded with presents, as was also a table nearby, and the floor at its roots.

On every suitable place upon the walls were pictures and sentiments suitable to the occasion, while over all were green branches of the fragrant red cedar, and clusters of the pretty bittersweet berries in lieu of the sacred holly. We could not help but notice little Robbie W. His mama tried to keep him down, but up on the seat he would pop, like a Jack-in-the-box when the cover is off.

Who will be Santa Claus? was the all important query. No one thought of the teacher, for, have I said so? he was the most bashful man you ever knew. Why, when he was a great boy of 18 years, if you stopped to speak to him, his arms and legs would try to get out of sight, and he had every appearance of man trying to hide behind himself. Of course, he has gotten over all that, and stands straight as a liberty pole, and looks squarely at you with a firm blue eye. Yet he still prefers to do his good works in private–always pushing someone to the front, with half his brains and three times his brass, when a public stand is to be taken. But he has forgotten himself tonight–you can see that as he carefully picks his way through the crowd of little ones that clutch at his hands and his coattails as he passes, each one of them with some private word to whisper in his ear.

When near the tree, he faced around and said: “I suppose you all know why we have gathered here,” pointing to the beautiful tree. “The first exercise will be a little vocal music, after which some of the little ones will give recitations suitable to the evening.”

That sweet hymn,”Peace Upon Earth, The Angels Sang,” never sounded sweeter than in that little old schoolhouse Christmas night. The little ones spoke like the angels whose messengers they are. Then two little girls were chosen to carry the present to their recipients, and two young men took them from the tree and handed them to the teacher who read out the name and gave them to the little messenger for the owners.

The “twenty” soon had received their pairs of pink and blue stockings which Santa Clause had filled with candies, nuts, maple sugar, etc., and the children that were unexpected had their names called and were served just as well as the others. Then if the tree had been emptied, I think those little ones would always have blessed it. But it was still loaded, such sights of pretty mittens, suspenders, leggings, neckties, slippers,Jumping Jack
dolls, drums, dolls’ clothing, books, pictures, and several pair of small boots and hoods. O, I cannot begin to mention the things. Nothing costly, nearly everything useful, but so bright and handsome. Suspended by threads to the tree in such a manner as to keep quivering and dancing were two or three jumping jacks whose gesticulations attracted all eyes. As one of these was handed to the teacher, he pulled the string and made it dance worse than ever. “That is what I want,” shouted four year old Robbie. “No, Robbie, you can’t have this,” said the teacher, “this is for our postmaster.” The shouts of laughter didn’t quite drown Robbie’s disgusted “pshaw.”

Pans of popcorn balls passed around and refreshments became the order of the evening. All this time the tree was being stripped of its precious fruit as fast as circumstances would permit. Robbie’s happiness was complete when one of the committee on talking down a jumping jack, found his own name on it, slyly snipped it off and put Robbie’s in its place. “Now let us go home,” he said. “I’m all ready, I’ve got all I want.”


Bibliografi

1https://archive.org/stream/frontierholidayb00stpa/frontierholidayb00stpa_djvu.txt ; akses 13/5/2015 18:32

2http://bjws.blogspot.com/2014_12_24_archive.html ; akses 13/5/2015 18:35

3http://chroniclingamerica.loc.gov/lccn/sn89064572/ ; akses 13/5/2015 18:40

Edward H. Johnson (1882): Pohon Natal pertama dengan lampu listrik

Pohon Natal yang pertama kali menggunakan lampu listrik sebagai ganti lilin untuk sumber cahaya.
Pohon Natal pertama yang menggunakan lampu listrik sebagai ganti lilin  dipasang pada Natal 25 Desember 1882 di rumah Edward H. Johnson, wakil presiden perusahaan Thomas Alfa Edison, yaitu Edison’s Electric Company. Thomas Alva Edison menciptakan lampu Natal, Edward H. Johnson menerapkan lampu Natal tersebut pada pohon Natal menggantikan peran lilin dan membuatnya berkerlap-kerlip menggunakan motor listrik, sehingga dia dianggap sebagai penemu pohon Natal listrik. Pohon Natal listrik adalah pohon Natal yang dipasangi lampu listrik. Istilah “pohon Natal listrik” digunakan untuk membedakannya dengan pohon Natal lilin, yaitu pohon Natal yang dipasangi lilin.

 


Bibliografi

1http://todayinsci.com/J/Johnson_Edward/JohnsonEdward-ChristmasTreeLights-DetroitPost1882.htm; akses 12/5/2015 23: 38