Arsip Kategori: Pagan bukan asal Natal

Salah satu poin pokok dari argumen anti-Natal adalah bahwa pagan asal dari Natal. Kategori ini merefutasi argumen anti-Natal itu.

Fitnah: Natal dari adopsi ritual agama penyembah berhala

Fitnah

Natal adalah hasil adopsi (sinkretisasi) dari ritual keagamaan agama para pagan penyembah berhala.

Sebenarnya….

St. Ambrose menempatkan agama pagan sebagai lawan yang harus dipunahkan, bukannya mengadopsinya ke dalam jemaat.
St. Ambrose (340-397 M) menempatkan agama pagan sebagai lawan, bukannya mengadopsinya ke dalam jemaat. Maka, terbitlah dekrit Theodosius yang memerangi agama pagan. Dekrit ini adalah hasil lobinya pada Kaisar Theodosius.

Bukti sejarah menunjukkan, pada abad 4 Masehi, Paus Ambrose melobi Kaisar Romawi Theodosius untuk mengeluarkan dekrit yang menyiratkan perang terhadap paganisme. Lobi tersebut berhasil pada tahun 389-391 Masehi dengan dikeluarnya dekrit Theodosius oleh Kaisar Theodosius.1 Akibat dari agenda perang terhadap pagan ini, ritual-ritual pagan dihapuskan.

Dekrit Theodosius adalah bukti bahwa ritual pagan tidak diadopsi dan tidak disinkretisasi ke dalam jemaat, melainkan dilarang dengan maksud untuk dihapuskan.

Bukti lainnya berasal dari khotbah Paus Leo I pada abad 5 Masehi. Khotbah Natal tersebut menunjukkan perlawanan dari pemimpin aliran Theologi Barat terhadap ritual pemujaan agama Dewa Matahari, dengan demikian, menyiratkan perayaan pagan berdiri sendiri di luar jemaat. Mereka berada di pihak yang berlawanan dan saling berhadap-hadapan.

Bukti-bukti sejarah dari abad 4-5 Masehi menyiratkan cara berpikir ekstrim dari para pemimpin umat pada 4 Masehi, yaitu: agama pagan adalah lawan yang harus diperangi dan dihapuskan serta ditindak secara keras, bukannya untuk diadopsi atau disinkretisasi. Cara berpikir ini mengisyaratkan bahwa para pemimpin umat abad 4-5 Masehi berasal dari golongan ekstrimis radikal yang menolak berkompromi dengan agama-agama pagan. Cara pandang terhadap agama pagan ini direformasi dalam Konsili Vatikan II pada tanggal 7 Desember 1965.

Tuduhan bahwa Natal adalah hasil adopsi (sinkretisasi) dari ritual keagamaan agama para pagan penyembah berhala adalah fitnah.


Bibliografi

1http://www.maat.it/livello2-i/editti-teodosio-i.htm ; akses 24 Mei 2015

 

Iklan

Tidak ada hubungan Natal dengan Nimrod/ Namrud

Tanya

Apa benar Nimrod lahir tanggal 25 Desember?

Jawab

Tidak ada bukti yang mendukung tuduhan ini. Satu-satunya bukti kuno yang menyebut Nimrod adalah Taurat (1250 BC). Ekskavasi arkeologis tidak menghasilkan bukti apa pun mengenai Nimrod.

Anda tentunya pernah mendengar orang bilang “Nimrod lahir 25 Desember”. Ini hanya cerita fiksi.

Tidak seorang pun tahun kapan Nimrod lahir, karena tidak ada bukti mengenai itu, baik bukti ekstra maupun intra biblikal.

Natal 25 Desember tidak ada kaitannya sama sekali dengan Nimrod. Hubungan antara Natal dengan Nimrod itu khayalan yang dibuat-buat dalam rangka kampanye anti-Natal yang menghalalkan segala macam cara, termasuk fitnah, sesat nalar, dan sejarah palsu. Maksud itu semua adalah untuk membusukkan Natal 25 Desember dan menghapuskannya.

Beberapa orang pernah bertanya ke saya pertanyaan serupa. Jawaban saya:

“Itu fitnah, tidak ada buktinya.”

Nyatanya, sebagian besar tuduhan terhadap Natal didasarkan pada asumsi keliru bahwa Alkitab tidak mengatakan apa pun tentang tanggal lahir Yesus/ Isa. Padahal, petunjuk itu ada dalam Alkitab. Bagi kita, orang yang mengikuti Alkitab, Natal 25 Desember berasal dari Alkitab. Kita telah membahas hal ini dalam posting “Perayaan Natal berasal dari Alkitab” dan “Alur Pemikiran Mengenai Natal 25 Desember“.

Disinformasi: Konstantin menciptakan Natal

Disinformasi

Oleh Kaisar Konstantin, tanggal 25 Desember tersebut akhirnya dijadikan sebagai kelahiran Yesus (Natal).

Sebenarnya….

Kisah Natal dalam Injil, bukti sejarah tentang Natal, dan bukti arkeologis yang terkait Natal dari ratusan tahun sebelum Konstantin menunjukkan bahwa Isa/ Yesus lahir tanggal 25 Desember Kalender Julian.

Disinformasi bahwa Konstantin menciptakan Natal tersebut berlawanan dengan bukti.

 

Kebiasaan pagan bukan asal kebiasaan perayaan Natal

Disinformasi

Catatan pertama peringatan hari Natal adalah tahun 336 Sesudah Masehi pada kalender Romawi kuno, yaitu pada tanggal 25 Desember. Perayaan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh perayaan orang kafir (bukan Kristen) pada saat itu. Sebagai bagian dari perayaan tersebut, masyarakat menyiapkan makanan khusus, menghiasi rumah mereka dengan daun-daunan hijau, menyanyi bersama dan tukar-menukar hadiah. Kebiasaan-kebiasaan itu lama-kelamaan menjadi bagian dari perayaan Natal.1

Sebenarnya….

Catatan tertua ekstra biblikal yang masih bertahan mengenai Natal berasal dari ratusan tahun sebelum tahun 336 Masehi.

Contoh:

Sementara itu, perayaan pagan yang dimaksud diinstitusikan oleh Aurelian tahun 274 Masehi.

Selanjutnya kita buat urutan kronologis:

  1. 70 Masehi: Catatan tentang peringatan/ perayaan Natal dari Clement Romanus I.
  2. 168 Masehi: Catatan tentang peringatan/ perayaan Natal dari Theofilus.
  3. 225 Masehi: Catatan tentang peringatan/ perayaan Natal dari Hippolytus.
  4. 274 Masehi: Aurelian menginstitusikan perayaan pagan.

Disinformasi tersebut berlawanan dengan bukti ekstra biblikal. Bila bukti intra-biblikal dimasukkan ke dalam daftar tersebut, maka jadi demikian:

  1. 5 Sebelum Masehi: Isa/ Yesus lahir. Malaikat dan gembala merayakan kelahiran Isa. Inilah Natal pertama kali dirayakan.
  2. Sekitar 66 Masehi: Catatan tentang peringatan Natal pada masa generasi pertama umat Al-Masih masih hidup.
  3. 70 Masehi: Catatan tentang peringatan/ perayaan Natal dari Clement Romanus I.
  4. 168 Masehi: Catatan tentang peringatan/ perayaan Natal dari Theofilus.
  5. 225 Masehi: Catatan tentang peringatan/ perayaan Natal dari Hippolytus.
  6. 274 Masehi: Aurelian menginstitusikan perayaan pagan.

Bukti-bukti menunjukkan bahwa perayaan pagan diinstitusikan ratusan tahun setelah Natal.

Disinformasi itu diproduksi dengan cara begini:

Disinformasi tersebut berusaha meyakinkan publik bahwa berjalan dengan tangan dan kepala di bawah itu normal.
Disinformasi tersebut berusaha meyakinkan publik bahwa berjalan dengan tangan dan kepala di bawah itu normal.
  1. Menyiratkan bahwa perayaan pagan telah dirayakan sebelum perayaan Natal. Sejarah mencatat Aurelian menginstitusikan perayaan dewa matahari tahun 274 Masehi.
  2. Menyatakan Natal pertama baru dirayakan tahun 336 M. Pernyataan ini berlawanan dengan fakta dan mengabaikan bukti-bukti dari abad 1-3 Masehi bahwa Natal telah diperingati/ dirayakan sebelum tahun 336 M.
  3. Opini tentang bagaimana perayaan pagan tersebut berlangsung.
  4. Menggunakan non causa pro causa, yaitu sesat nalar di mana 2 peristiwa yang terjadi berturutan dinyatakan punya hubungan sebab-akibat. Sesat nalar ini digunakan untuk menyatakan bahwa Natal berasal dari pagan.

Teknik non causa pro causa menyebabkan disinformasi lebih lanjut:

 Disinformasi  Kenyataan
Hidangan Natal berasal dari pagan Romawi Hidangan Natal dari tradisi universal yang ada di setiap kelompok manusia di berbagai penjuru dunia pada segala jaman.
Pohon Natal berasal dari pagan Romawi Pohon Natal itu mainan anak yang asalnya dari properti drama Firdaus (Paradise Play)
Menyanyi bersama berasal dari pagan Romawi Menyanyi Kidung Natal dan menyanyi bersama memuji Tuhan asalnya dari meneladani para malaikat dalam Lukas 2: 13-14
Saling memberi hadiah berasal dari pagan Romawi Saling memberi hadiah Natal berasal dari Injil, yaitu ayat tentang hadiah Natal dan ayat tentang saling memberi.

 

Simpulan

  1. Bukti menunjukkan, Natal telah diperingati dan dirayakan ratusan tahun sebelum perayaan pagan diinstitusikan oleh Aurelian pada tahun 274 Masehi.
  2. Bukti tentang perayaan Natal dari tahun 336 bukan bukti pertama mengenai perayaan Natal.
  3. Teknik produksi disinformasi:
    1. mengabaikan bukti-bukti dari era sebelum tahun 336 M.
    2. mengasumsikan bukti tahun 336 M sebagai bukti pertama.
    3. menggunakan sesat nalar non causa pro causa

 


Bibliografi

1http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_budaya_Natal; akses 5/5/2015 15:04

Apa dalil kidung Natal dan menyanyi bersama dalam Natal?

Disinformasi

Sebagai bagian dari perayaan pagan tersebut, masyarakat … menyanyi bersama… Kebiasaan-kebiasaan itu lama-kelamaan menjadi bagian dari perayaan Natal.1

Sebenarnya….

Tradisi menyanyikan Kidung Natal atau lagu Natal, baik secara bersama maupun secara sendirian, meneladani para malaikat dan para gembala yang memuji Allah menyambut kelahiran Isa Al-Masih alias Yesus Kristus.

13  Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya:
14  “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Lukas 2: 13-14)

Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka. (Lukas 2: 20)

Ayat tersebut mengisahkan bahwa tradisi menyanyikan Kidung Natal diawali oleh malaikat, diteladani oleh para gembala, lalu teladan para malaikat dan gembala itu diteladani oleh umat Al-Masih.

 

Ilustrasi: para malaikat menyanyikan Kidung Natal menyambut kelahiran Isa Al-Masih (Yesus Kristus). Contoh ini lantas ditiru oleh para gembali. Selanjutnya, umat Al-Masih meneladani mereka.
Ilustrasi: para malaikat menyanyikan Kidung Natal menyambut kelahiran Isa Al-Masih (Yesus Kristus). Contoh ini lantas ditiru oleh para gembali. Selanjutnya, umat Al-Masih meneladani mereka.

Ini berarti, tradisi menyanyikan Kidung Natal dimulai sejak 25 Desember 5 SM dan tradisi tersebut tidak berasal dari perayaan pagan Romawi. Nyanyian para malaikat dan para gembala tidak berhubungan sama sekali dengan perayaan pagan.

Disinformasi tersebut diproduksi dengan mengabaikan ayat-ayat Injil dan menganggap opini seolah fakta.

Simpulan

  1. Tradisi menyanyikan Kidung Natal atau Lagu Natal, baik secara sendirian maupun secara bersamaan, dilakukan dengan meneladani contoh yang diberikan oleh para malaikat dan para gembala yang tercantum dalam Injil Matius 2: 13-14 dan Lukas 2: 20.
  2. Tradisi menyanyi memuji Tuhan bukan berasal dari pagan.
  3. Teknik produksi disinformasi: mengabaikan ayat Injil, opini tanpa bukti diperlakukan seolah kenyataan.

Bibliografi

1http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_budaya_Natal; akses 2/5/2015 18:30

Natal berbasis Injil, pagan bukan asal Natal

Disinformasi

Perayaan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh perayaan orang kafir (bukan Kristen) pada saat itu.1

Sebenarnya….

Perayaan/ peringatan Natal itu berbasis Injil. Perayaan Natal pertama dilakukan oleh para malaikat di padang Betlehem, kemudian diikuti oleh para gembala domba kurban, juga di Betlehem. Sekitar pertengahan abad 1 Masehi, umat Al-Masih generasi awal telah memperingati Natal, sebagaimana yang diteladankan oleh para malaikat. Bukti-bukti Natal abad 1-4 Masehi menunjukkan peringatan dan perayaan Natal telah dilakukan oleh umat Al-Masih pada abad itu, meneladani malaikat dan para gembala dalam menyambut kelahiran Isa Al-Masih.

Opini fiksi nir bukti yang menyatakan bahwa pagan adalah asal Natal itu bersumber dari opini Jablonski. Tidak ada bukti materiil yang menyokong opini ini. Artinya, opini ini hanya kata tanpa fakta material yang nyata. Bila Anda menemukan bukti materiil atau sesuatu yang dianggap bukti materiil atas opini Jablonski, silakan hubungi saya melalui kolom komentar di bawah ini.


 

Bibliografi

1http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_budaya_Natal; akses 2/5/2015 12:13

 

Pembuktian Natal tidak jatuh pada Hari Raya Pondok Daun (September-Oktober)

Disinformasi

Elisabet, istri Zakharia, mengandung pada bulan empat, Tammuz (Juni/Juli), setelah Zakharia menyelesaikan tugasnya sebagai imam. Enam bulan sesudah itu, ketika Elisabet tengah mengandung enam bulan, Maria datang mengunjunginya (Lukas 1:36). Dari sini kita mengetahui bahwa Maria mulai mengandung saat kandungan Elisabet berusia enam bulan, kira-kira pada bulan sembilan Kislew (November/Desember). Empat puluh minggu kemudian, atau 10 bulan Yahudi, Maria melahirkan pada bulan tujuh, Tishri (September-Oktober), kurang lebih selama berlangsungnya perayaan Hari Raya Pondok Daun.

Sebenarnya….

Disinformasi tersebut menyiratkan salah perhitungan yang sangat sederhana tapi berdampak sangat besar, yaitu: asumsi implisit bahwa perhitungan jadwal piket rombongan imam dimulai dari bulan Nisan.

Salah asumsi sederhana ini lantas merembet ke hal-hal lain.

Berbeda dengan asumsi keliru itu, jadwal piket rombongan imam sebenarnya dimulai dari bulan Ab, bukan bulan Nisan. Indikasi mengenai hal ini nampak dalam kitab Ezra dan catatan Gemara dalam Talmud Yerusalem.

A. Menurut kitab Ezra (Uzair)

Ezra (Uzair) tiba Yerusalem pada sekitar abad 5 SM dan berupaya menegakkan kembali peribadatan di Yerusalem (Ezra 7:8-10).

8  Lalu tibalah ia di Yerusalem pada bulan kelima, yakni pada tahun ketujuh zaman raja itu.

9  Tepat pada tanggal satu bulan pertama ia memulai perjalanannya pulang dari Babel dan tepat pada tanggal satu bulan kelima ia tiba di Yerusalem, oleh karena tangan murah Allahnya itu melindungi dia.

10  Sebab Ezra/ Uzair telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel. (Ezra 7:8-10)

Bulan kelima kalenderi Ibrani adalah bulan Av. Setiba di Yerusalem, Ezra melakukan berbagai persiapan agar ibadah di Bait Allah dapat kembali berjalan. Ibadah di Bait Allah perlu pelaksana, yaitu: rombongan imam. Maka, persiapan ibadah tersebut termasuk membentuk, melatih, dan mempersiapkan rombongan imam. Maka, kitab Ezra mengindikasikan piket rombongan imam dimulai dari bulan Av.

Siklus dalam kalender Ibrani.
Siklus dalam kalender Ibrani.

B. Menurut Talmud Yerusalem

Petunjuk dari kitab Ezra ini diperkuat oleh catatan historis dalam Talmud Yerusalem Traktat Taanith mengenai Puasa dan Hari Puasa yang mencatat perkataan Rabbi Yose Ben Halafta pada sekitar tahun 150 Masehi atau 80 tahun setelah penghancuran Bait Allah Yerusalem.

Dari mana kita tahu bahwa Bait Allah kedua juga hancur pada tanggal 9 Ab? Kami telah mempelajarinya di Boraitha: ‘Sebuah peristiwa bahagia disematkan kepada suatu hari di mana peristiwa bahagia yang lain terjadi, sementara bencana dianggap berasal dari hari ketika musibah lain terjadi,’ dan diceritakan bahwa ketika Bait Allah yang pertama dihancurkan, hal itu terjadi pada malam sebelum tanggal 9 Ab, yang juga merupakan malam dekat Sabat dan juga menutup tahun Sabat. Yang bertugas pada waktu itu adalah dari Yehoiarib/ Yoyarib, dan orang-orang Lewi bertilawat pada tempat yang tepat, pada saat membaca bagian xciv: 23 [Mazmur 94:23]: “Ia akan membalas kepada mereka perbuatan jahat mereka, dan karena kejahatan mereka Ia akan membinasakan mereka; TUHAN, Allah kita, akan membinasakan mereka”; dan mereka tidak punya waktu sampai akhir bagian yang menyimpulkan, ‘Ia akan membinasakan mereka; TUHAN, Allah kita, akan membinasakan mereka’, sebelum musuh masuk dan menguasai Bait Allah. Hal ini terjadi juga pada kehancuran Bait Allah yang kedua.1

Bukti ini menunjukkan jadwal piket rombongan imam Bait Allah Yerusalem dimulai dari bulan Ab, bukan bulan Nisan. Yoyarib adalah rombongan pertama imam yang bertugas. Mengenai rombongan imam dapat dilihat dalam 1 Tawarikh 24:7-18 sebagai berikut:

    1. Yoyarib
    2. Yedaya
    3. Harim
    4. Seorim
    5. Malkia
    6. Miyamin
    7. Hakos
    8. Abia
    9. Yesua
    10. Sekhanya
    11. Elyasib
    12. Yakim
    13. Hupa
    14. Yesebeab
    15. Bilga
    16. Imer
    17. Hezir
    18. Hapizes
    19. Petahya
    20. Yehezkel
    21. Yakhin
    22. Gamul
    23. Delaya
    24. Maazya.

Karena penghancuran Bait Allah Yerusalem terjadi pada tanggal 9 Ab 70M,  yaitu pada hari Sabat atau hari Sabtu, maka hal itu berarti, rombongan Yoyarib bertugas pada minggu yang dimulai tanggal 9 Ab hingga tanggal 16 Ab.

Injil juga memberi indikasi Natal bukan September-Oktober.

Simpulan

    1. Jadwal piket rombongan imam dimulai dari bulan Ab, sebagaimana yang dapat diketahui dari kitab Ezra dan Talmud Yerusalem.
    2. Anggapan Yesus lahir pada Hari Raya Pondok Daun antara lain disebabkan salah asumsi bahwa jadwal piket rombongan imam dimulai bulan Nisan. Asumsi ini tidak didukung oleh bukti dalil Alkitab maupun oleh bukti sejarah.
    3. Natal terbukti tidak jatuh pada bulan September-Oktober.

Bibliografi

1http://www.jewishvirtuallibrary.org/jsource/Talmud/taanit4.html; akses 26/4/2015 19:13

Jablonski: Opini Fiksi Nir Bukti — Pagan Asal Natal

Orang yang mempopulerkan gagasan bahwa asal-usul Natal berasal dari ritual Dewa Matahari Romawi kuno adalah Paul Ernst Jablonski (1693-1757),1 seorang theolog Kristen Protestan Liberal (Krislib) asal Berlin, Jerman.

Sebelum Jablonski, opini bahwa Natal 25 Desember itu dari Saturnalia telah dikemukakan pada tahun 1687 dalam buku “A Testimony”.3

Paul Ernst Jablonski (1693-1757) dari Berlin, Jerman
Paul Ernst Jablonski (1693-1757) dari Berlin, Jerman. Sumber foto 2

Pada tahun 1743, Jablonski menyatakan, Natal 25 Desember berasal dari Dies Natalis Solis Invicti (hari kelahiran Dewa Matahari). Latar belakang dari spekulasi Jablonsky ini adalah praduga telah terjadi paganisasi Kristen dalam mazhab Katolikisme. Sebagai respon terhadap tuduhan itu, Dom Jean Hardouin, seorang rahib Katolik Benediktan, menyatakan bahwa apa yang terjadi bukan paganisasi Kristen, melainkan Kristenisasi kebudayaan pagan, tanpa perubahan sedikitpun pada aspek Injilnya.

Baik Paul Ernst Jablonski maupun Dom Jean Hardouin gagal memahami bahwa Natal 25 Desember itu punya dasar Injil. Keduanya juga tidak mengetahui bahwa Winter Solstice pada abad 1-4 Masehi tidak pernah jatuh pada tanggal 25 Desember. Dengan demikian, opini  “Natal dari Pagan” berlawanan dengan bukti tentang Winter Solstice di Roma abad 1-4 M.

Opini mereka berdua lantas diikuti oleh banyak orang dan bahkan masuk ke dalam ensiklopedia. Dasar opini mereka bukan bukti materi dan semata-mata didasarkan pada asumsi saja. Banyak orang hanya membebek duck-hello opini mereka tanpa pernah kenal Jablonski.

Opini keliru dari mereka berdua dibantah oleh Louis Duchesne, yang mengungkapkan perhitungan yang dianut umat Kristus sedari awal abad Masehi, yaitu bahwa tanggal 25 Desember dihitung 9 bulan semenjak malaikat Gabriel menyampaikan Firman kepada Maria. Sayangnya, suara Louis Duchesne tenggelam dalam derasnya theologi kristen liberal yang didukung media massa internasional Yahudi. Suara kebenaran “kalah nyaring” oleh modal…. 😈

Perhitungan yang didasarkan pada informasi dari ayat-ayat Injil menunjuk 25 Desember 5 SM Kalender Julian sebagai hari kelahiran Isa Al-Masih. Masifnya kampanye anti-Natal menyebabkan argumen anti-Natal sekarang ini menjadi opini publik mainstream, sekalipun opini tersebut tidak didasarkan pada bukti.

Simpulan

  1. Teori bahwa asal-usul Natal dari pemujaan kepada Dewa Matahari itu hanya sebuah opini yang didasarkan pada asumsi, bukan bukti. Opini keliru tersebut dianggap benar karena diucapkan oleh orang yang dianggap ahli. Dengan begitu, dasar teori tersebut adalah argumentum ad verecundiam.(i)
  2. Perhitungan berbasis Injil menunjukkan Yesus Kristus alias Isa Al-Masih memang lahir tanggal 25 Desember 5 SM Kalender Julian, sebagaimana yang kita peringati dengan Natal setiap tahun.

Bibliografi

1http://onlinebooks.library.upenn.edu/webbin/book/lookupname?key=Jablonski%2C%20Paul%20Ernst%2C%201693-1757 ; akses 26/4/2015 13:20

2http://movil.religionenlibertad.com/articulo_rel.asp?idarticulo=39402&accion= ; akses 26/4/2015 13:31

3http://www.covenanter.org/IMather/increasemathertestimony.htm; akses 2 Mei 2015 12:39

It was in compliance with the Pagan Saturnalia that Christ-mass Holy-days were first invented. The manner of Christ-mass-keeping, as generally observed, is highly dishonourable to the Name of Christ. (A Testimony, Bab III, Paragraf 1)

Istilah

(i)Argumentum Ad Verecundiam: sesat nalar di mana suatu hal dipercaya benar karena yang mengatakannya adalah ahli atau orang yang [dianggap] ahli.

Scriptor Syrus: Pemalsuan abad 19 M terhadap sejarah Natal

Opini dari scriptor Syrus laris manis di kalangan anti-Natal 25 Desember, walau pun tidak semua orang yang mengikuti opininya mengetahui pencetus opini itu.  Singkatnya, opini orang ini terkenal pada level global/ internasional, tapi scriptor Syrus tidak dikenal sama sekali.

1. Scriptor Syrus Bukan Nama Diri

Scriptor Syrus adalah kata dalam bahasa Latin. Kata “scriptor” berarti penulis, sedangkan kata “Syrus” berarti orang Siria.1 Dengan demikian, scriptor Syrus berarti orang Siria yang pekerjaannya menulis atau, singkatnya, penulis Siria. Scriptor Syrus bukan nama diri. Nama diri si penulis Siria ini tidak diketahui alias anonim.

2. Opini Scriptor Syrus

Poin-poin opini scriptor Syrus adalah sebagai berikut:

  • 25 Desember adalah hari raya Natalis Solis Invicti, hari lahir Sol, dewa matahari Romawi.
  • Hari Natal Kristus semula tanggal 6 Januari.
  • Kristen Romawi turut serta dalam hari raya Natalis Solis Invicti.
  • Tokoh-tokoh gereja Katolik Roma lantas memindahkan Hari Natal Kristus ke Hari Natalis Solis Invicti.
  • Maka, hasilnya, sejak saat itu, Hari Natal Kristus dirayakan setiap tanggal 25 Desember.

Bagaimana? Cukup familiar kan dengan opini anti-Natal 25 Desember ini?

Sang penyalin anonim, scriptor Syrus, menuliskan opininya berupa anotasi/ catatan pinggir dalam manuskrip buah karya Jacob bar Salibi, metropolitan Amid, 1171.3

Akibatnya, muncul anggapan keliru, khususnya di kalangan anti-Natal 25 Desember, seolah-olah anotasi itu ditulis oleh Jacob bar Salibi.

Illgen, D. Christian Friedrich. Zeitschrift fur die historische theologie. Leipzig: Verlag von Joh. Ambr. Barth, 1833, halaman 239-240.

Opini scriptor Syrus dalam Illgen (1833: 239-240)

Saran terjemahan dari Andrew McGowan dalam blog pribadinya pada poin yang paling relevan dengan pembahasan kita adalah sebagai berikut:

The reason, then, why the fathers of the church moved the January 6th celebration to December 25th was this, they say: it was the custom of the heathen to celebrate on this same December 25th the birthday of the Sun, and they lit lights then to exalt the day. Even Christians were participants in these rites and ceremonies. When, therefore, the teachers of the Church saw that Christians inclined to this custom, they established a plan. The true Natal feast would be celebrated on this day, and Epiphany on January 6th

 

3. Latar Lahirnya Opini Scriptor Syrus

A. Perkiraan

Scriptor Syrus menuliskan opininya berupa anotasi/ catatan pinggir dalam manuskrip abad 12 Masehi. Manusia abad 4 Masehi tidak dapat menulis pada manuskrip abad 12 Masehi. Maka, scriptor Syrus hidup pada atau setelah abad 12 Masehi.

Opini itu dimuat dalam buku yang diterbitkan pada paruh pertama abad 19 Masehi, tepatnya, tahun 1833 Masehi. Maka, kisaran scriptor Syrus hidup antara abad 12 Masehi hingga 19 Masehi. Perkiraan waktu ini masih dapat lebih dipersempit dengan menganalisis unsur latar yang terkandung dalam opini itu.

B. Analisis latar waktu dengan metode strukturalisme genetik

Menurut opini ini, Natal semula tanggal 6 Januari, lalu dipindah ke tanggal 25 Desember. Opini ini menunjukkan scriptor Syrus tahu bahwa Mazhab Theologi Timur memperingati Natal tanggal 6 Januari Kalender Gregorian. Bersamaan dengan itu, opini itu juga menyiratkan bahwa scriptor Syrus tidak tahu bahwa Mazhab Theologi Timur memperingati Natal tanggal 25 Desember Kalender Julian.

Karena opini itu berkata bahwa Natal jatuh tanggal 6 Januari, maka kita tinggal mencari tahu tahun berapa saja 25 Desember Kalender Julian jatuh pada tanggal 6 Januari Kalender Gregorian. Hal ini terjadi antara tahun 1801-1899.3 Buku itu terbit tahun 1833.4 Karena itu, latar waktu scriptor Syrus menuliskan opini tersebut adalah antara tahun 1801-1833. Dengan demikian, scriptor Syrus diperkirakan hidup di sekitar awal abad 19 Masehi.

C. Latar sosial

Scriptor Syrus tidak mengetahui bahwa apa yang disebutnya sebagai Natal 6 Januari Kalender Gregorian sesungguhnya juga Natal 25 Desember Kalender Julian. Ini menunjukkan scriptor Syrus tidak tahu tentang Kalender Julian.

Kalender Julian digantikan oleh Kalender Gregorian sejak abad 16 Masehi di Eropa Barat. Sedangkan di Eropa Timur, dan Selatan, Kalender Julian masih digunakan hingga saat ini (2015) sebagai kalender keagamaan. Bukan hanya itu. Kalender Julian juga masih digunakan sebagai kalender keagamaan oleh Nasrani Siria hingga saat ini. Sementara itu, scriptor kitab suci di Eropa Tengah dan Utara masih mengenal Kalender Julian, karena kedekatannya dengan Eropa Timur dan Selatan yang masih masih memelihara Kalender Julian.

Dengan demikian, ketidakfamiliaran scriptor Syrus dengan kalender Julian mengindikasikan scriptor Syrus adalah orang yang tinggal di Eropa Barat, bukan orang Siria atau bagian Eropa lainnya. Dia bisa orang pribumi Eropa Barat, namun bisa juga pendatang yang lama tinggal di Eropa Barat.

4. Simpulan

Opini Scriptor Syrus adalah pemalsuan dari abad 19 M. Opini itu dikesankan berasal dari abad 4 atau 12 Masehi, padahal berasal dari abad 19 Masehi.

 


Bibliografi

1http://latinlexicon.org/definition.php?p1=2058346; akses 22/4/2015 3:53

2http://www.syriacstudies.com/AFSS/Syriac_Scholars_and_Writers/Entries/2008/4/4_209._Dionysius_Jacob_bar_Salibi,_metropolitan_of_Amid_%28d._1171%29.html ; akses 22/4/2015 13:51

3http://www.calendarhome.com/calculate/convert-a-date/; akses 22/4/2015 14:44

4Illgen, D. Christian Friedrich. Zeitschrift fur die historische theologie. Leipzig: Verlag von Joh. Ambr. Barth, 1833.