Arsip Kategori: Drama Firdaus (Paradise Play)

Fitnah: Drama Natal ditambahkan ke pemujaan pohon Cemara

Fitnah

Di Jerman, tumbuhan hijau dipercaya melambangkan keabadian hidup. Maka Cemara, yang juga tumbuh di Musim dingin, dipuja sebagai lambang keabadian. Gereja skandinavia kemudian mengubah perayaan ini menjadi tradisi gereja dengan menambah adegan drama natal.

Sebenarnya….

Bukti sehubungan dengan Drama Mystery(i), yang didalamnya mencakup Drama Firdaus, menyajikan 2 realitas yang berbeda di hadapan kita:

  1. Drama Keajaiban yang dipentaskan oleh guild profesional.
  2. Drama Keajaiban yang dipentaskan oleh para petani desa.

1. Pentas oleh guild drama profesional

Bukti menunjukkan, Mystery Play (Drama Mystery)(i), termasuk di dalamnya Drama Firdaus, yang dipentaskan oleh guild drama profesional di kota-kota besar Eropa pada jaman abad pertengahan tidak menggunakan Pohon Cemara sebagai properti panggung atau malah sepenuhnya tidak menggunakan properti pohon. Perhatikan lukisan pementasan Drama Mystery di kota Flanders, Belgia, pada abad pertengahan berikut ini.

Lukisan mengenai situasi pentas Drama Keajaiban di Flanders, Belgia, abad 15 Masehi.
Lukisan mengenai situasi pentas Drama Mystery di Flanders, Belgia, abad 15 Masehi. Seluruh bagian Drama Mystery, termasuk bagian Drama Firdaus, memakan waktu 20 jam bila dipentaskan non-stop. Bisa pula dipentaskan secara bersambung yaitu per bagian drama per hari. Pentas oleh guild drama profesional tidak menampilkan properti pohon Firdaus.

 

2. Pentas oleh para petani pedesaan

Bukti pohon Natal sebagai properti panggung ditemukan pada pentas oleh para petani desa. Sebelum terkenal, mereka hanya mementaskannya di desa mereka sendiri.

Bukti drama abad pertengahan yang masih lestari hingga didokumentasikan pada abad 19 dan 20 M adalah Drama Firdaus dari desa Oberufer di Hungaria dan Drama Firdaus dari desa Český Krumlov di Republik Cheko. Dalam drama tradisional ini, tradisi menggunakan pohon Junifer (sejenis Cemara) sebagai properti panggung Drama Firdaus telah dipelihara sejak abad pertengahan, pertama kali Drama Firdaus dipentaskan di desa-desa tersebut.

Adegan dalam drama Firdaus.
Adegan dalam Drama Firdaus Oberufer direproduksi pada abad 21 Masehi.

Berkaitan dengan latar belakang pemain drama

Bukti-bukti ini menandakan penggunaan pohon sebagai properti panggung berkaitan dengan para pelaku pementasan.

Pelaku pentas guild profesional, semacam rombongan drama keliling, tidak menggunakan pohon jenis Cemara sebagai properti pentas.

Sementara itu, pelaku drama petani pedesaan menggunakan pohon sungguhan untuk menggambarkan Pohon Pengetahuan. Mereka tinggal mencabut pohon muda dari alam, menebang pohon yang sudah agak besar dari alam, atau, bila pentas di alam terbuka, mereka tinggal memanfaatkan pohon di sekitar mereka pentas.

Drama Firdaus (Paradise Play) masih bertahan di Český Krumlov, Czechoslovakia, dari tahun 1290, pertama kali drama ini masuk ke daerah ini,  hingga tahun 1912. Di bawah pemerintahan komunis, drama ini dihentikan tahun 1948, namun hidup lagi tahun 1989 setelah komunisme runtuh.1 Berkat dokumentasi terhadap drama ini sebelum pelarangan, maka diketahui bahwa pohon Natal ternyata bersumber dari properti drama ini.
Pentas di alam oleh para petani desa memanfaatkan tumbuhan di sekitarnya sebagai properti panggung Drama Firdaus. Drama Firdaus ini didokumentasikan di desa Český Krumlov pada abad 19 Masehi akhir.

Perbedaan properti antarpelaku drama nampak berkaitan dengan kefamiliaran para pelaku dengan tumbuhan dan penghayatan iman alkitabiah mereka dalam kaitannya dengan tanaman yang ada di sekitar hidup keseharian mereka.

Penghayatan iman dalam Drama Mystery versi petani desa nampaknya lebih disukai, bila kita menimbang properti pohon Juniver atau sejenisnya yang berperan sebagai Pohon Pengetahuan (Pohon Khuldi) kemudian sangat populer dan masuk ke dalam istana raja.

Saat ini, Drama Mystery versi para petani desa Oberufer masih terpelihara dan telah dibukukan. Drama Mystery versi guild juga masih dilestarikan dan dipentaskan 4 tahun sekali, misal, di kota kuno York, Inggris.

Drama Firdaus dari abad pertengahan dipentaskan kembali pada abad 21 M. Pohon Firdaus pada drama ini tidak dibuat dari pohon jenis Cemara, namun fungsinya sama yaitu untuk menggantungkan buah Pengetahuan (versi Arabnya, buah Khuldi). Biasanya, buah apel berperan sebagai buah Pengetahuan.
Drama Firdaus dari abad pertengahan dipentaskan kembali pada abad 21 M di York, Inggris. Pohon Firdaus pada drama ini tidak dibuat dari pohon jenis Cemara, namun fungsinya sama yaitu untuk menggantungkan buah Pengetahuan (versi Arabnya, buah Khuldi). Biasanya, buah apel berperan sebagai buah Pengetahuan.

Simpulan

Bukti menunjukkan bahwa:

  1. Penggunaan pohon oleh para pelaku petani desa berkaitan dengan penghayatan iman mereka dalam hubungannya dengan tumbuhan yang ada di alam sekitar para petani itu.
  2. Sehubungan dengan penghayatan iman dan penghayatan lingkungan alam itu, para petani desa menggunakan pohon hijau untuk menggambarkan Pohon Pengetahuan atau, versi Arabnya, Pohon Khuldi, dalam drama yang mereka pentaskan.
  3. Penggunaan pohon sejenis Cemara dalam Drama Firdaus tidak berasal dari tradisi pagan.

Bibliography

1http://www.flickr.com/photos/britishlibrary/11182071353/; access May 25, 2015

2http://nosmut.com/Mystery_play.html; access May 25, 2015

3http://www.express.co.uk/entertainment/theatre/489663/York-Mystery-Plays-review; access May 26, 2015

Catatan

(i)Kata “mystery” pada jaman dulu berarti ministry (pelayanan) pada jaman sekarang dan tidak berarti misteri. Ada pergeseran makna pada kata “mystery” dalam 5 abad, sehingga sekarang kata ini berarti misteri/ gaib/ teka-teki.

 

Iklan

Apa itu drama Firdaus?

Soal

Apa itu drama Firdaus?

Jawab

Drama Firdaus adalah drama abad pertengahan yang mengisahkan Kejadian 3 — kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa karena melanggar larangan Allah  dengan memakan buah Pengetahuan dan janji Tuhan untuk mendatangkan Sang Penebus Dosa yang akan dilahirkan melalui seorang wanita.

Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kejadian 3:15).

Drama Firdaus dipentaskan dalam masa adven yang berlangsung sekitar 3-4 minggu menjelang Natal.

Drama Firdaus (Paradise Play) masih bertahan di Český Krumlov, Czechoslovakia, dari tahun 1290, pertama kali drama ini masuk ke daerah ini,  hingga tahun 1912. Di bawah pemerintahan komunis, drama ini dihentikan tahun 1948, namun hidup lagi tahun 1989 setelah komunisme runtuh.1 Berkat dokumentasi terhadap drama ini sebelum pelarangan, maka diketahui bahwa pohon Natal ternyata bersumber dari properti drama ini.
Drama Firdaus (Paradise Play) masih bertahan di Český Krumlov dan Oberufer dari sejak abad pertengahan.

Drama ini mendahului drama Natal yang mengisahkan kelahiran Yesus Kristus alias Isa Al-Masih sebagai pemenuhan atas janji Tuhan dalam Kejadian 3: 15.

Drama abad pertengahan ini sangat populer sampai-sampai penonton meniru pohon Firdaus dalam drama itu dan memelihara pawai Natalnya selama ratusan tahun kemudian.


Version

English | Bahasa Indonesia

 

Drama Firdaus: Peran pohon Natal

Perlengkapan panggung drama Firdaus (Paradise Play) sangat sederhana dan tersedia dalam lingkungan desa Oberufer, yaitu:

  1. Pohon Junifer kecil yang dicabut beserta akarnya untuk dibawa dengan tangan oleh penyanyi yang ada di posisi terdepan saat pawai Natal/ parade Natal di desa itu. Pohon ini dihias dengan pita merah.
  2. Pohon Juniper yang besarnya seukuran manusia dewasa. Pohon ini ceritanya berperan sebagai Pohon Pengetahuan atau, versi Arabnya, Pohon Khuldi yang dikisahkan dalam Taurat, yaitu Kejadian 2 dan 3.
  3. Buah-buah apel segar digantungkan pada dahan-dahannya. Buah-buahan ini ceritanya berperan sebagai buah Pengetahuan atau, versi Arabnya, buah Khuldi.
  4. Kandang kecil. Digunakan pada drama Natal setelah drama Firdaus selesai.
  5. Bangku kecil (dingklik) untuk tempat duduk Maria di panggung. Bangku tidak digunakan pada adegan drama Firdaus, dengan kata lain, semua pemain dalam posisi tidak duduk.
Pohon Juniper, sejenis dengan pohon cemara.
Pohon Juniper, sejenis dengan pohon cemara.

Sebelum ditemukan istilah “Pohon Natal” pada abad 19, pohon Junifer dalam drama Firdaus dikenal dengan nama “Pohon Firdaus” (Paradise Tree), sesuai peran yang “dimainkan”-nya.

Adegan dalam drama Firdaus.
Adegan dalam drama Firdaus.

Pemeran Hawa nantinya mengambil buah apel pada pohon itu, lalu memberikannya pada pemeran Adam, lalu pemeran Adam memakan buah itu.  Dari drama ini, di kemudian hari, buah apel dijadikan simbol cinta pria dan wanita. Dari drama ini pula, muncul istilah “Adam’s Apple” yang jadi folklore Eropa sehubungan dengan jakun pada pria.

Kembali ke drama Firdaus….

Pohon Junifer itu dihias semenarik mungkin, seindah mungkin, untuk menggambarkan alangkah menariknya Pohon Pengetahuan atau Pohon Khuldi. Bukan hanya rasa buahnya yang enak dan efeknya yang membuat pemakannya jadi punya pengetahuan, pohon itu tentu menarik bagi mata pula, sehingga menimbulkan keinginan Hawa untuk memakan buahnya.

Dalam konteks pedesaan Oberufer, hiasan pohon Natal masih sangat sederhana: pita. Namun, di kemudian hari, ketika drama ini masuk ke kota-kota di Jerman, apalagi setelah masuk istana, pohon Natal itu akan dihias sedemikian indahnya. Pohon Firdaus kala itu menjadi sarana penyampaian pesan bahwa Pengetahuan adalah hal yang sangat menarik/ indah. Pesan ini cocok dengan Natal, sebab Natal adalah peristiwa di mana Ilmu Allah turun ke dunia bukan lagi sebagai kitab-kitab, namun Ilmu itu turun sebagai manusia Isa Al-Masih.

Daya tarik Pengetahuan atau Ilmu ini ditanamkan ke masyarakat sejak drama Firdaus mulai populer, yaitu sekitar abad 11 Masehi. Pohon Firdaus pada masa itu nampaknya punya andil besar dalam menanamkan daya tarik pengetahuan dalam masyarakat dan mendorong terjadinya gerakan aufklarung yang kemudian melanda Jerman, seluruh Eropa, dan akhirnya juga seluruh dunia, hingga melintasi sekat-sekat agama.


Bibliografi

1Christmas Plays from Oberufer; akses 11/5/2015 23:58

Drama Firdaus: Prosesi sebelum pentas

Bentuk kecil dari kayu lipat
Bentuk kecil dari kayu lipat

Sebelum dipentaskannya drama Natal (termasuk di dalamnya drama Firdaus), seluruh awak drama, baik pemain panggung maupun awak belakang layar, melakukan pawai keliling desa Oberufer.

Penyanyi pembawa pohon Natal ada di bagian paling depan dari pawai itu. Inilah asal-mula pohon Natal yang di kemudian hari sangat populer di seluruh dunia. Dari drama rakyat yang dimainkan oleh para petani, lantas meluas ke Jerman dan ke seluruh dunia.

Kembali ke pawai….

Semua orang yang terlibat dalam pementasan itu berjalan di belakang penyanyi pembawa pohon Natal. Nampaknya hal ini berkaitan dengan simbolisasi pohon Natal. Dalam drama Firdaus, pohon Natal itu digunakan untuk menggambarkan pohon pengetahuan atau, dalam versi Arab, pohon Khuldi.

Lalu Tuhan ALLAH menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. (Kejadian 2: 9)

Inilah dalil Alkitab yang menginspirasi lahirnya pohon Natal, awalnya dalam drama Firdaus, kemudian diikuti dalam bentuk mainan kanak-kanak hingga saat ini. Asal-usul pohon Natal ternyata sesederhana ini.

Buah apel pada pohon Natal digunakan untuk menggambarkan buah Pengetahuan atau, dalam versi Arabnya, buah Khuldi.
Buah apel pada pohon Natal digunakan untuk menggambarkan buah Pengetahuan atau, dalam versi Arabnya, buah Khuldi.

Penempatan pembawa pohon Natal di bagian paling depan ini menggambarkan kisah yang tercantum dalam Kejadian pasal 2 hingga pasal 3. Pohon Natal di bagian depan tidak berarti pawai itu adalah pawai yang mengarak pohon Natal. Disinformasi semacam ini niscaya disebarkan kaum anti-Injil. Pohon Natal ditempatkan pada bagian depan pawai drama Natal karena kronologi kisah Natal dimulai dari adanya pohon Pengetahuan yang buahnya dilarang dimakan, tapi Adam melanggar larangan itu dan makan buah dari pohon Pengetahuan itu.

Penyanyi pembawa bintang berada di bagian paling akhir dari barisan pawai itu. Bintang tersebut dipasang pada kayu lipat yang bisa dipanjang-pendekkan. Selama prosesi, kayu itu dipanjang maksimal dan bintang keemasan ditempatkan jauh di atas kepala orang yang berperan sebagai Maria yang berjalan di depannya dengan menggunakan kayu tersebut.

Penempatan pembawa bintang di bagian paling akhir di belakang Maria ini menggambarkan kisah yang tercantum dalam Matius pasal 1 dan pasal 2. Arak-arakan itu menggambarkan peristiwa yang terjadi di dalam Firdaus (Kejadian 2-3), janji Allah untuk mendatangkan Mesias/ Al-Masih (Kejadian 3: 15), dan kelahiran Al-Masih yang dijanjian itu (Matius 1-2, Lukas 1-3).

Titik terakhir dari arak-arakan drama Natal adalah lokasi pementasan drama tersebut. Pada abad 19, dalam setting asli desa itu, pementasan dilakukan di balai besar dalam penginapan yang ada di desa tersebut.

Setiba di lokasi pementasan, para pemain berganti pakaian, dan awak drama mempersiapkan segala sesuatunya untuk pementasan itu. Orang yang berperan sebagai malaikat ditinggal di luar penginapan, sedangkan orang yang berperan sebagai iblis meniup terompet yang, menurut tradisi desa itu, dibuat dari tanduk sapi. pemeran Iblis ini pula yang sibuk kesana-kemari untuk memberitahu dan mengajak warga agar datang ke tempat pertunjukan itu dilangsungkan.

 


Bibliografi

1Christmas play from Oberufer; akses 9/5/2015 13:00

 

 

Drama Firdaus: persiapan

Latihan drama Firdaus di desa Oberufer pada abad 19 Masehi dimulai setelah masa panen selesai, setelah semua pekerjaan mereka di lahan pertanian mereka tuntaskan. Itu berarti, latihan dimulai pada akhir musim gugur atau pada awal musim dingin.

Waktu latihan ini berkaitan dengan profesi mereka sebagai petani. Sebelum musim panen selesai, mereka sedang sibuk-sibuknya di lahan pertanian masing-masing, sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan persiapan menyambut Natal.

Selama masa latihan hingga selesainya pementasan drama Natal, para pemain punya tradisi moral untuk menjadi contoh bagi masyarakat sekitarnya mengenai bagaimana kehidupan yang baik dan terhormat. Mereka yang terlibat drama ini berusaha sesuai kemampuan masing-masing untuk tidak mengunjungi kedai minuman keras dan tidak menyanyikan lagu-lagu duniawi yang mengandung unsur mesum, cabul, atau jorok.

Drama abad pertengahan ini berbentuk mirip dengan apa yang di Indonesia disebut sebagai opera. Dialog dinyanyikan dan berupa lagu. Lagu-lagu yang dilantunkan dalam drama itu diwariskan secara turun-temurun melalui jalur keluarga. Jadi, setiap keluarga mempunyai peran yang khas dalam drama itu. Tidak ada naskah drama lengkap sebagai satu kesatuan, seperti yang kita jumpai pada naskah drama modern. Yang ada, naskah itu terpencar-pencar di setiap keluarga yang berbeda, sesuai dengan peran yang dimainkan oleh keluarga tersebut. Itu pun tidak selalu ada, karena pada masa lalu tidak semua orang dapat baca tulis. Ada dialog/ lagu yang diwariskan secara lisan. Upaya mengumpulkan folklore ini dan menjadikannya sebagai satu naskah drama ala modern baru dilakukan oleh seorang pakar Sastra bernama Karl Julius Schröer pada sekitar pertengahan abad 19 Masehi.

Usai masa latihan beres, maka drama ini siap dipentaskan. Namun, sebelum pentas dimulai, lebih dulu dilakukan pawai drama Natal atau parade Natal oleh semua orang yang terlibat dalam pementasan drama tersebut.


Bibliografi

1Christmas play from Oberufer; akses 9/5/2015 13:00

 

 

Pohon Natal dan Drama Firdaus Abad Pertengah dari Oberufer

Tradisi drama Firdaus dari abad pertengahan bukan hanya ada di Ceski Krumlov, Republik Cheko, namun juga ada di desa Oberufer, perbatasan Hungaria dan Austria. Drama Firdaus dari Oberufer ini juga bertahan hingga abad 21 M. Malah, drama Firdaus versi desa inilah yang mendunia melalui penelitian seorang pakar Sastra bernama Karl Julius Schröer (1825-1894).

Kondisi desa dulu masih terpencil, saat Karl Julius Schröer tiba di situ dan mengangkatnya ke dalam kajian ilmiah yang mendunia. Kondisi terpencil ini menyebabkan tradisi-tradisi dari abad pertengahan lestari hingga berabad-abad, nyaris tanpa perubahan saat pertama kali dijumpai oleh penelitinya.

Sebagaimana khasnya drama abad pertengahan, drama Firdaus juga dinyanyikan, bukan dilafalkan seperti percakapan biasa. Jenis drama ini di Indonesia disebut drama opera.

Lagu-lagu yang dilantunkan dalam drama itu diwariskan secara turun-temurun melalui jalur keluarga. Jadi, setiap keluarga mempunyai peran yang khas dalam drama itu. Naskah drama lengkap sebagai satu kesatuan tidak ada. Yang ada, naskah itu terpencar-pencar di setiap keluarga yang berbeda, sesuai dengan peran yang dimainkan oleh keluarga tersebut.

Schröer mengumpulkan naskah yang terpencar-pencar itu beserta bagian drama atau lagu yang diwariskan secara lisan tanpa dituliskan. Kemudian ia melakukan analisis kritik teks. Hasil penelitiannya kemudian dipublikasikan dalam buku “Deutsche Weihnachtspiele aus Ungarn” (Drama Natal Jerman dari Hungaria) pada tahun 1857/1858. Oberufer pada jamannya termasuk wilayah Hungaria.

Pohon Natal yang dipopulerkan oleh Amerika Serikat berasal dari Inggris. Inggris mendapatkan mainan pohon Natal saat raja Inggris menikah dengan seorang putri dari Jerman. Jerman menerima mainan pohon Natal ini dari drama Natal yang masuk ke Jerman dari Hungaria.

Sejarah ini menunjukkan bahwa mainan Pohon Natal semula adalah properti drama Firdaus yang merupakan bagian dari tradisi pementasan drama Natal setiap bulan Desember menjelang Natal 25 Desember.

Simpulan

Bukti menunjukkan:

  1. Asal mula pohon Natal adalah properti drama Natal tradisional yang sangat populer sejak abad pertengahan.
  2. Pohon Natal tidak ada hubungannya dengan ritual pagan Romawi kuno.
  3. Drama Firdaus versi Oberufer mendunia melalui penelitian Sastra yang pertama dimulai oleh Karl Julius Schröer.

Bibliografi

1Christmas play from Oberufer; akses 9/5/2015 13:00

2http://books.google.co.id/books?id=3Z0uAAAAYAAJ&hl=id&pg=PR1#v=onepage&q&f=true ; akses 9/5/2015 14:36

Český Krumlov: pelestari drama Firdaus hingga abad 21 Masehi

Drama Firdaus (Paradise Play) masih bertahan di Český Krumlov, Czechoslovakia, dari tahun 1290, pertama kali drama ini masuk ke daerah ini,  hingga tahun 1912. Di bawah pemerintahan komunis, drama ini dihentikan tahun 1948, namun hidup lagi tahun 1989 setelah komunisme runtuh.1 Berkat dokumentasi terhadap drama ini sebelum pelarangan, maka diketahui bahwa pohon Natal ternyata bersumber dari properti drama ini.
Adegan pengusiran Adam dan Hawa dari Firdaus dalam Drama Firdaus (Paradise Play) yang dimainkan tahun 1912.1

 

Drama Firdaus ini masih bertahan di Český Krumlov, Republik Cheko dari pertama kali drama ini masuk ke daerah ini pada sekitar abad pertengahan, hingga tahun 1948. Masyarakat setempat mengenalnya dengan Rajská Hra.

Pedesaan Český Krumlov, Chekoslovakia tahun 1912, lokasi di mana drama Firdaus dapat bertahan hingga abad 20 M.
Pedesaan Český Krumlov, Chekoslovakia tahun 1912, lokasi di mana drama Firdaus dapat bertahan hingga abad 20 M.

 

Pemerintah komunis melarang dan menghentikan drama ini pada tahun 1948. Namun, saat komunisme runtuh di negara tersebut, drama ini hidup lagi tahun 1989.2

Properti drama Firdaus ini berkaitan dengan asal-usul pohon Natal. Dokumen foto dari era sebelum 1948 membuktikan bahwa drama Firdaus itu betul-betul ada dan bertahan hingga abad 20 Masehi di daerah pedesaan negara Cheko, bahkan juga hingga abad 21 Masehi.3

Menimbang eksistensi drama ini terus berlangsung hingga abad 20 M, bahkan 21 M,3 nampaknya fatwa haram pada abad 15 M terhadap drama ini hanya berdampak di daerah perkotaan di mana pengaruh kuat dari renaissance berdampak negatif pada jiwa drama ini, misal, di perkotaan Jerman; sedangkan di derah pedesaan yang jauh dari pengaruh renaissance, drama Firdaus ini masih terus bertahan.

 


 Bibliografi

1http://www.ckrumlov.info/img.php?img=3077&LANG=en; akses 7/4/2015 21:30

2http://www.ckrumlov.info/docs/en/region_histor_pasije.xml; akses 7/4/2015 21:30

3http://www.waldorflibrary.org/articles/713-thoughts-on-the-christmas-plays; akses 9/5/2015 11:13

Version

English | Indonesian

Asal-Usul Pohon Natal: Properti Drama Firdaus Abad 11 Masehi

 

Drama Firdaus (Paradise Play) masih bertahan di Český Krumlov, Czechoslovakia, dari tahun 1290, pertama kali drama ini masuk ke daerah ini,  hingga tahun 1912. Di bawah pemerintahan komunis, drama ini dihentikan tahun 1948, namun hidup lagi tahun 1989 setelah komunisme runtuh.1 Berkat dokumentasi terhadap drama ini sebelum pelarangan, maka diketahui bahwa pohon Natal ternyata bersumber dari properti drama ini.
Drama Firdaus (Paradise Play) masih bertahan di Český Krumlov, Republik Cheko, dari tahun 1290, pertama kali drama ini masuk ke daerah ini, hingga tahun 1912.1 Di bawah pemerintahan komunis, drama ini dihentikan tahun 1948, namun hidup lagi tahun 1989 setelah komunisme runtuh2 dan bertahan terus sampai saat ini.2 Berkat dokumentasi terhadap drama ini sebelum pelarangan, maka diketahui bahwa pohon Natal ternyata bersumber dari properti drama ini.

Latar religiososial, tempat, dan waktu

Drama-drama bertema religius mulai populer di Eropa dari abad 11 Masehi. Drama-drama ini dipentaskan di dalam gereja, di teater-teater publik, dan juga di alam terbuka. Salah satu drama religius yang sangat populer adalah drama berjudul “Firdaus” (Eden Play, Paradise Play) yang biasa dimainkan pada bulan Desember menjelang Natal 25 Desember.3

Drama ini digunakan untuk mengajar masyarakat umum, karena buku masih sangat jarang dan sangat mahal sebagai akibat dari belum ditemukannya mesin cetak. Drama Firdaus menggambarkan kisah Adam dan Hawa, serta kejatuhan manusia pertama dalam dosa, hingga kemudian ditempatkan di dunia ini oleh Allah. Drama “Firdaus” ini berakhir dengan Kejadian 3:15 yang menubuatkan kedatangan Isa Al Masih.

Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kejadian 3:15)

Properti panggung drama Firdaus

Properti panggung drama tersebut antara lain sebuah pohon yang dihias dengan buah Apel untuk menggambarkan buah Pengetahuan yang tercantum dalam Kejadian 2:17. Agar jelas bahwa itu adalah pohon, maka digunakan pohon yang masih berdaun hijau, walaupun Eropa saat itu sedang hebat-hebatnya musim dingin, selain juga mudah ditemukan di mana-mana. Jenis pohon yang memenuhi syarat untuk properti panggung adalah pohon Fir (Cemara). Sehingga terpilihlah cemara sebagai perlengkapan panggung untuk drama Adam-Hawa itu.

Mengapa bukan pohon Apel? Bukankah buah yang dihiaskan itu adalah buah Apel? Mana ada buah cemara berbuah Apel? Sebab pohon Apel terlalu besar untuk ditaruh dipanggung dan dibawa-bawa oleh teater keliling. Untuk mudahnya, digunakanlah pohon Cemara, lalu buah Apel digantungkan pada batang-batangnya. Buah ini nantinya diambil oleh pemain panggung yang berperan sebagai Hawa, lalu memberikannya kepada orang yang berperan sebagai Adam (Kejadian 3:6).

Surutnya drama Firdaus

Drama tersebut hanya bertahan 4 abad dan mulai menghilang abad 15. Sebabnya, gereja Katolik Roma mengharamkan drama tersebut dengan alasan nilai-nilai amoralitas menyusup masuk ke dalam drama itu pada jaman renaissance. Kemudian, secara bertahap popularitas drama itu pun menyusut, dan lama-lama tidak lagi dipentaskan karena sudah tidak populer lagi. Walau begitu, dokumen dari abad 20 menunjukkan drama ini masih terus dipentaskan di daerah Český Krumlov, Republik Cheko, hingga awal abad 20 Masehi. Ini mengindikasikan drama ini hanya berhenti dipentaskan di daerah-daerah di mana pengaruh renaissance-nya sangat kuat sehingga merusak jiwa drama ini.

Meski drama itu telah berhenti dipentaskan, namun kebiasaan anak-anak untuk menghias pohon Cemara yang telah berlangsung semenjak drama itu menaiki puncak popularitasnya pada abad 11 Masehi tidak turut berhenti. Selain itu, drama yang sangat populer itu memberi inspirasi bagi tradisi menghias pohon Cemara lengkap dengan buah Apel (lihat hiasan pohon Natal yang bentuknya bulat).

Pohon Natal: mainan anak-anak rakyat jelata

Bukti sejarah tertulis yang masih bertahan hingga saat ini mengenai penggunaan pohon Terang (nama lain pohon Natal) adalah manuskrip Alsace 1521. Sebelum masuk Prancis pada tahun 1639, Alsace termasuk wilayah Jerman. Pohon Natal di Alsace adalah pohon hidup yang ada di hutan dan tidak boleh dibawa pulang. Hal berkaitan dengan tingginya nilai ekonomi kayu pada bulan Desember dalam masa itu. Ini mengindikasikan Pohon Natal telah memasyarakat bertahun-tahun sebelumnya.

Bukti sejarah tertulis tertua yang masih bertahan dari tahun 1521: 5
Bukti sejarah tertulis tertua yang masih bertahan dari tahun 1521 4: “4 shilling dibayarkan kepada penjaga untuk menonton pohon Natal di hutan”. Manuskrip ini disimpan di Perpustakaan Humanis Sélestat di Alsace, Prancis.

Manuskrip ini juga menceritakan bahwa di Alsace, pohon Natal dipertontonkan, tapi tidak boleh ditebang dan dibawa pulang. Dokumen musyawarah dengan hakim kota Sélestat tanggal 17 Desember 1555 menetapkan denda bagi penebangnya.

Larangan ini berkaitan dengan tingginya nilai ekonomi kayu pada bulan Desember dalam masa itu. Ini mengindikasikan Pohon Natal telah memasyarakat bertahun-tahun sebelumnya. Nampaknya, pada masa itu, orang yang bisa beli pohon Natal adalah orang yang punya dana lebih. Yang tidak punya dana lebih, cukup nonton pohon Natal publik atau gotong-royong membeli pohon Natal.

Tulisan dari warga Strasburg tahun 1605 (abad 17) mengisahkan bahwa orang tua menghias pohon Cemara untuk anak-anak mereka dengan berbagai hiasan dari kertas warna-warni, Apel, wafer, dan permen. Sedangkan tulisan Johann Dannhauer dalam Catechismusmilch “Susu Katekismus” sekitar tahun 1650 menyatakan pohon yang dihias itu adalah mainan anak-anak dan juga menyatakan  bahwa dia tidak tahu dari mana asal mainan itu.

Berbeda dengan jaman sekarang, pada abad 11 Masehi hingga 19 Masehi, pohon Cemara yang dihias adalah mainan anak-anak yang diinspirasikan oleh drama “Firdaus” untuk memeriahkan suasana. Biar anak-anak senang.

Lukisan yang berasal dari Inggris tahun 1800an menunjukkan pohon Natal adalah mainan kanak-kanak dan menghias pohon Natal adalah bagian dari permainan kanak-kanak itu, agar anak-anak senang.
Lukisan yang berasal dari Inggris tahun 1800an menunjukkan pohon Natal adalah mainan kanak-kanak dan menghias pohon Natal adalah bagian dari permainan kanak-kanak itu, agar anak-anak senang.

Pohon Natal diberi makna rohani

Sebelum berubah nama menjadi “Pohon Natal” (Christmas Tree), pohon hiasan itu diberi nama “Christbaum (Pohon Kristus, Pohon Al Masih)” oleh orang-orang Jerman. Nama “Christbaum” menggantikan nama populer pada drama itu, yaitu “Paradeisbaum” (Pohon Firdaus)”. Penyebutan “Christbaum” mengindikasikan adanya simbolisasi bahwa Pohon Firdaus itu ditafsirkan sebagai simbol dari Isa Al Masih.

Lilin dalam peringatan Milad Al Masih tentu dipakai, bukan hanya karena lilin adalah penerangan akibat belum adanya listrik, tapi juga karena melestarikan tradisi Festival Cahaya Hanukkah. Lilin-lilin itu dinyalakan banyak-banyak sebagai simbol bahwa Isa Al Masih adalah Terang Dunia.

Isa Al Masih pun berkata pula kepada orang banyak, Isa bersabda: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Injil, Yohanes 8:12)

Hanya saja lilin belum dikaitkan dengan mainan anak-anak berupa pohon Cemara yang dihias itu. Lilin adalah hal yang serius dan bagian dari peringatan Milad Al Masih, sedangkan pohon cemara yang dihias adalah mainan anak-anak.

Surat dari Samuel Taylor Colerdige tanggal 29 April 1799 menceritakan tentang Pohon Natal yang diberi lilin-lilin kecil paa ranting-rantingnya.7 Sementara bukti-bukti tertulis dari tahun 1500an – 1600an tidak menunjukkan hal ini. Maka, dari surat tersebut diketahui bahwa pohon Cemara dipasangi lilin baru pada abad 18 Masehi. Legenda mengatakan pohon Natal diberi lilin sejak abad 16 Masehi, namun bukti materiil yang tersedia baru tentang pohon Natal yang diberi lilin pada abad 18 Masehi.

 

Martin Luther dan keluarga saat Natal abad 16 Masehi.
Ilustrasi mengenai Martin Luther dan keluarga saat Natal abad 16 Masehi. Lukisan ini berasal dari 1845.6 Dari gambar pohon Natal yang ada lilinnya, dapat ditebak lukisan ini berasal dari abad 18 M atau lebih, mengingat belum ditemukan bukti yang mendukung kisah pohon Natal diberi lilin pada abad 16 Masehi.

Pohon Natal masuk istana

Hingga tahun 1850, pohon Cemara yang dihias masih terhitung mainan anak-anak, sehingga Charles Dicken, seorang sastrawan terkenal menulis “mainan baru dari Jerman”.5 Meski begitu, mainan ini sudah diterima golongan bangsawan Prancis tahun 1837 dan masuk ke Windsor Castle oleh Suami Ratu Victoria pada tahun 1891, membuat mainan anak-anak ini naik pamor.

Pohon Natal milik ratu Inggris di Windsor Castle. Mainan anak-anak rakyat jelata yang bernama Pohon Natal itu naik pamor saat masuk istana.
Pohon Natal milik ratu Inggris di Windsor Castle. Mainan anak-anak rakyat jelata yang bernama Pohon Natal itu naik pamor saat masuk istana.
Gambar dari jaman Victoria (tahun 1800-an) ini memperlihatkan anak-anak yang bermain-main pohon Cemara berhias, sedangkan orang dewasa mengawasi mereka sambil membawa kue
Gambar dari jaman Victoria (tahun 1800-an) ini memperlihatkan anak-anak yang bermain-main pohon Cemara berhias, sedangkan orang dewasa mengawasi mereka sambil membawa kue

Tahun 1851 barulah muncul toko khusus penjual mainan ini di Amerika. Tapi itu pun masih toko mainan anak-anak yang khusus menjual mainan anak pohon Cemara berhias. Tahun 1856 mainan anak ini dibawa masuk ke Gedung Putih oleh Presiden Amerika yang ke-14, Franklin Pierce (1804-1869) untuk sekolah minggu anak-anak Gedung Putih. Tahun 1912 adalah pohon Cemara berhias pertama yang diberi hiasan lampu Natal (listrik) di Boston. Tahun 1923 menjadi tahun pertama ada pohon Cemara berhias (di halaman Gedung Putih).

Sebagaimana yang kita lihat dari sejarah itu, mainan anak-anak itu menjadi mainan orang dewasa setelah masuk ke istana, khususnya Gedung Putih, Amerika

Mainan anak-anak jadi mainan orang dewasa

Saat ini, mainan anak-anak ini benar-benar telah menjadi mainan orang dewasa, bahkan mainan kaum intelektual dan akademisi, dengan banyaknya buku yang membahas mainan anak-anak ini secara sangat serius. Bahkan muncul spekulasi yang mengkaitkan mainan anak-anak dari drama populer itu dengan ritual agama kafir Yunani dan Romawi kuno. Ini bukti bahwa mainan anak-anak itu sudah berubah menjadi mainan orang dewasa.

Ada baiknya mainan anak-anak biarlah tetap mainan anak-anak. Tentu para manusia abad 11 M – 19 M akan tertawa-tawa geli melihat wacana “ilmiah” sampah yang mengkaitkan mainan anak-anak itu dengan ritual pemujaan berhala pada satu ekstrem atau mengkaitkannya dengan ritual agama Al Masih pada ekstrem yang lain.

Simpulan

  1. Pohon Natal adalah mainan kanak-kanak yang berasal dari properti panggung Drama Firdus dan tidak berasal dari ritual pagan apa pun.
  2. Aspek penting dari pohon Natal bukan pohon Natal itu sendiri, melainkan cahaya yang dilekatkan pada pohon Natal. Cahaya tersebut berasal dari Festival Cahaya Hanukkah yang juga dirayakan oleh Isa Al-Masih.
  3. Pohon Natal bukan lambang natal. Pohon natal hanya mainan penyemarak suasana saja.
  4. Lambang Natal yang terpenting adalah cahaya atau terang, sebab Isa bersama “Aku adalah Terang Dunia” (Yohanes 8:12).

Bibliografi

1http://www.ckrumlov.info/img.php?img=3077&LANG=en; akses 7/4/2015 21:30

2http://www.ckrumlov.info/docs/en/region_histor_pasije.xml; akses 7/4/2015 21:30

3http://catholic-church.org/stjoseph-york/church/AdventInTheHome.htm; akses 12/4/2015 12:54

4http://best-of-upper-rhine.com/2014/12/09/selestat-alsace-real-history-of-the-christmas-tree/; akses 12/4/2015 13:07

5https://books.google.co.id/books?id=WqGQBgAAQBAJ&lpg=PA3&ots=jYQvHl319T&dq=%22Charles%20Dicken%22%20%22christmas%20tree%22%20new%20toy%20germany&hl=id&pg=PA3#v=onepage&q=%22Charles%20Dicken%22%20%22christmas%20tree%22%20new%20toy%20germany&f=false; akses 12/4/2015 23:54

6http://pastispresent.org/2010/good-sources/christmas-trees/; akses 17/4/2015 18:12

7https://www.gutenberg.org/files/44553/44553.txt; akses 17/4/2015 9:47